ASP Makassar Kecam Pengerukan Pasir Putih untuk CoI – Berita Kota Makassar
Headline

ASP Makassar Kecam Pengerukan Pasir Putih untuk CoI

MAKASSAR, BKM — Sejumlah lembaga mahasiswa, lembaga pemerhati lingkungan hidup, serta masyarakat Laelae yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) Makassar mengecam aktifitas penambangan pasir putih di pulau Gusung Tangngayya, untuk proyek penimbunan lokasi proyek reklamasi pembangunan Centerpoint of Indonesia (CoI). Mereka menilai aktifitas tersebut merusak lingkungan dan tidak mengantongi izin alias ilegal.
Lembaga serta masyarakat pulau yang mengecam aktifitas tersebut yaitu, Walhi Sulsel, LBH Makassar, Blue Forest, Solidaritas Perempuan AM, ACC Sulawesi, LAPAR Sulsel, FIK Ornop, YayasanKonservasiLaut, AMAN Sulsel, KN Katalassang, BEM Fakultas Kelautan UH, BEM Mipa Unhas, FOSIS UMI, PKBI, KMP3, FMN Makassar, Pembebasan Makassar, Komunal, PBHI, DEMA FEBI UIN Alauddin, DEMA Adab dan Humaniora UIN Alauddin, BEM Fekon Unhas, BEM FIS UNM, BEM FE UNM, BEM MIPA Unhas, BEM MIPA UNM, Huimahi Unhas, BEM FAI UMI, SMI, Gerakan Mahasiswa Pemuda Aru-GMPA, Simposium UIN, Senat FIKP Unhas, Mapala UMI, serta masyarakat Lae-lae.
Aktifitas penimbunan proyek reklamasi yang dilakukan PT Yasmin Bumu Asri dan PT Ciputra selaku pihak pengembang reklamasi CoI, telah dilakukan sejak 2 bulan lalu. Dimana pasir putih tersebut di keruk menggunakan dua unit eskavator dan 3 truk, kemudian diangkut menggunakan kapal tongkang LCT Meranti 703 asal Balikpapan.
“Kapal melakukan pengangkutan sebanyak dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Aktivitas itu telah meresahkan warga Laelae,” kata staf pekerja Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Edy Kurniawan, Minggu (12/2).
Warga pulau Laelae , kata Edy, sudah beberapa kali menegur aktifitas pengerukan pasir putih tersebut. Namun pihak pengembang masih tetap saja membandel dan masih saja terus melakukan pengerukan pasir putih. Aktifitas pengerukan tidak dilakukan pada pagi dan sore hari lagi, untuk menghindari protes warga.
Penambangan dilakukan malam hari secara diam-diam. Pengangkutan pasir dilakukan pada waktu subuh, sekitar pukul 04.00 wita sampai jam 06.00 wita.
“Material pasir putih diangkut ke lokasi reklamsi CoI dan melakukan pengurugan saat pagi hari sekitar pukul 08.00 wita, sehingga tak terlihat oleh warga pulau,” bebernya.
Hal senada juga diungkapkan Muhammad Al Amin dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel, bahwa pengerukan pasir putih di pantai Gusung harus memiliki izin lingkungan, akan tetapi kapal pengangkut dan pengembang reklamasi CoI tidak memiliki izin lingkungan melakukan pengerukan di pulau Gusung Tangngayya.
“Lokasi pengambilan pasir untuk urungan reklamasi CoI berdasarkan Amdal CoI itu, terletak di Pulau Sanrobone Galesong Kabupaten Takalar. Namun faktanya pihak pengembang justru mengambil pasir urugan di Pantai Gusung Tangngayya,” cetusnya.
Sehingga menurut Muhammad Al Amin, perbuatan ini merupakan pelanggaran hukum, karena reklamasi tidak sesuai dengan yang tertuang dalam ketentuan Amdal CoI. Makanya, kata dia, ASP Makassar mendesak pihak pengembang reklamasi CPI untuk menghentikan aktivitas penambangan pasir putih di Pulau Gusung Tangngayya.
“Kami juga mendesak serta meminta pihak Polda sulsel dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan R.I. dan Kementerian Kelautan dan Perikanan R.I, agar mengambil tindakan dan sikap tegas. Terhadap pihak pengembang reklamasi CoI,” tegasnya.
(mat-drw)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top