Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun – Berita Kota Makassar
Headline

Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

BKM/CHAIRIL Amaliah Aminah Pratiwi Tahir

Hebat. Hanya kata ini yang pantas disematkan kepada wanita kelahiran Rappang 31 Agustus 1990 ini. Saat usianya baru menginjak 26 tahun, Amaliah Aminah Pratiwi Tahir berhasil meraih gelar doktor. Bagi dia ini adalah pencapaian yang luar biasa dalam hidupnya.
Amaliah Aminah Pratiwi Tahir baru saja menyelesaikan program doktor (S3) bidang hukum di Universitas Hasanuddin , Kami (9/2). Di depan para promotor, Amel mempertahakan disertasinya tentang filosofi alternatif dalam pembinaan narapidana (napi) di lembaga pemasyarakatan.
Amaliah mengatakan, selama ini filosofi pembinaan para napi masih berbasis filosofi reintegrasi sosial. Makanya, banyak napi setelah bebas, imej mereka sebagai napi masih sulit dilepaskan.
Tapi, lanjut Amaliah, di disertasinya ia memperkenalkan filosofi baru. Filosofinya adalah community based corrections atau pembinaan berbasis masyarakat. Dimana, dengan filosofi pembinaan ini, para napi saat bebas akan lebih cepat terintegrasi dengan masyarakat.
“Tapi untuk saat ini pembinaan para napi masih diatur dalam Undang-undang. Jadi masih tetap memakai konsep reintegrasi sosial,” kata Amel, sapaan Amaliah saat berbincang santai dengan BKM di redaksi Berita Kota Makassar, kemarin.
Selama menempuh pendidikan doktor, Amel mengaku bukan hanya banyak belajar tentang ilmu hukum. Tetapi juga ilmu kesabaran. Selama 3 tahun 6 bulan, ia berjuang keras untuk bisa meraih gelar doktor.
“Di S3, saya betul-betul digembleng. Utamanya kesabaran. Sebenarnya selama perkuliahan tidak terlalu berat. Yang paling berat adalah pada saat menyusun disertasi,” kata Amel.
Dari raut wajahnya, Amel terlihat senang. Ia selalu tersenyum. Bahkan kadang tertawa. Ia tidak menyangka, program doktor sudah ia lewati saat usianya belum menginjak 30 tahun.
“Semuanya diraih dengan kerja keras dan doa. Betul-betul membutuhkan perjuangan,” kata Amel lagi.
Beruntung, selama kuliah, ia mendapat dukungan yang besar dari sang suami, Ahmad Nasri. Kendati tinggal di kota berbeda, suaminya selalu mensupportnya dalam segala hal.
“Walaupun suami saya sementara bertugas di Kantor Imigrasi Jakarta, dan saya di Makassar, tapi suami saya selalu memberikan dukungannya,” kata Amel yang kini terdaftar sebagai dosen di Kopertis Wilayah Sulawesi.
Tapi, jangan salah soal sosok wanita yang murah senyum ini. Kendati ia telah meraih pendidikan doktor, ia masih saja seperti wanita seusianya. Utamanya soal hobi dan fesyen.
Jika ada waktu luang, ia kerap bersama rekan-rekannya nongkrong di kafe atau travelling di sejumlah tempat di Indonesia. “Kalau di Jakarta, kami biasa nongkrongnya di rooftop beberapa gedung. Kalau di Makassar paling di Hotel Aston dan Hotel Melia di Jalan A Mappanyuki,” katanya.
Untuk travelling, anak Prof Dr HM Tahir Malik ini, lebih senang ke sejumlah tempat di Jawa, Bali dan Sulawesi. “Tapi untuk tempat favorit saya di Bali. Bali itu tempat yang sangat romantis,” katanya.
Untuk fesyen, alumni SMAN 5 Makassar ini mengaku tidak terlalu ribet. Kendati ia berhijab, ia tidak terlalu tampil seperti beberapa hijaber. “Simpel saja. Saya lebih senang yang praktis. Kalau untuk produk, saya lebih banyak menggunakan merk Zara karena lebih elegan,” aku Amel. (maf)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top