Headline

Ingin Ganti Kakek, Ahmad Jumado Berharap Jadi PNS

BKM/RAHMAN HAMID TENAGA KONTRAK-Ahmad Jumado, penjaga makam Raja-raja Tallo yang bekerja sejak tahun 2005 dan berstatus sebagai tenaga kontrak.

TIDAK semua penjaga makam Raja-raja Tallo berstatus sebagai Aparatur Negeri Sipil (ASN). Dari lima orang, hanya tiga ASN. Dua lainnya masih tercatat sebagai kontrak. Salah satunya Mansur Jumado.

Laporan: Rahman Hamid

SUASANA makam yang biasanya sepi, tiba-tiba ramai. Ratusan murid Sekolah Dasar (SD) datang ke tempat ini, Rabu (9/2). Mereka terlihat memasuki pintu gerbang makam.
Petugas jaga yang sedang berada di posnya menyambut kedatangan anak-anak tersebut. Ia memantau aktivitas pengunjung cilik ini.
Hal itu juga dilakukan Mansur Jumado. Di sela-sela melaksanakan tugasnya, pria yang beberapa bulan lalu mengakhiri masa lajangnya menyempatkan pulang sejenak ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi makam. Sebab istrinya sedang terbaring sakit.
Tidak lama berselang, Ancu –sapaan karibnya– muncul kembali di pos jaga sebelah kanan pintu masuk kawasan makam. Dia lalu duduk bersama teman-teman sekerjanya. Kemudian ngobrol seputar tugas sehari-hari.
Kepada BKM, Ancu bercerita dari awal mula ia bekerja sebagai penjaga makam Raja Tallo. Bekerja sejak tahun 2005, hingga saat ini statusnya masih sebagai tenaga kontrak.
Meski begitu, pria kelahiran 3 April 1984 ini tak patah semangat. Rutinitas kerjanya tetap dilakoni layaknya seorang ASN. Melaksanakan tugas dari pukul 07.30 hingga 16.00 Wita.
Ancu hanyalah tamatan SMP. Ia sempat mengenyam pendidikan di bangku SMA. Tapi tidak tamat. Hanya sampai di bangku kelas I.
Setamat SMP, Ancu langsung mendaftar untuk bekerja sebagai penjaga makam. Ia kemudian diterima dengan status sebagai tenaga kontrak.
Ada satu alasan mendasar sehingga Ancu memilih pekerjaan ini. Ingin melanjutkan profesi kakeknya. ”Saya mau gantikan kakekku. Dulu juga kerja disini,” ujarnya.
Mulai saat itu, Ancu menghabiskan waktunya untuk menjaga makam. Disini pula ia belajar hidup mandiri. Ketika itu publik masih diperbolehkan lalulalang keluar masuk, walau hanya untuk bermain.
Sambil bekerja, dia sempat mencicipi sekolah di tingkat SMA. Namun kandas di tengah jalan. Masa putih abu-abu itu dia jalani hanya satu tahun.
Setelah memutuskan untuk tidak lanjut di kelas II, Ancu kemudian fokus bekerja menjaga makam bersama teman seprofesinya. Dia mengaku nyaman bekerja di tempat ini.
Sebelum memiliki beban keluarga, hasil keringat Ancu digunakan untuk menutupi kebutuhan pribadinya. Namun setelah menikah dengan pujaan hatinya di akhir 2016 lalu, bebannya bertambah. Penghasilannya tak lagi mampu untuk menopang biaya hidup sehari-hari. Beruntung, Ancu bersama istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya.
Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, Ancu harus mencari sumber penghasilan tambahan. Terkadang ia membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai kontraktor. ”Sejak menikah, saya biasa ikut-ikut sama orang tua,” tuturnya.
Sejak bekerja sebagai tenaga kontrak, penghasilan Rp300 ribu per bulan selama 4 bulan, tidak masalah baginya. Gaji 13 pun dia nikmati setiap tahun.
Ancu sangat berharap kepada pemerintah agar memperhatikan tenang kontrak seperti dirinya, yang telah lama mengabdi. ”Kalau bisa diangkat menjadi PNS,” imbuhnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top