Headline

Awalnya Ragu, Akhirnya Raih Juara Olimpiade Sains

IST Ulfa Auliyah Idrus

PRESTASI merupakan hasil atas usaha yang dilakukan seseorang. Bisa diraih dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual. Juga ketahanan diri dalam menghadapi situasi segala aspek kehidupan. Tidak semua orang mampu memperoleh prestasi, walaupun hakikatnya semua orang bisa saja mendapatkan prestasi.

Laporan: Nurgoho Nafika Kassa

KARAKTER orang yang berprestasi adalah pantang menyerah dan sungguh-sungguh dalam menjalankan sesuatu. Seperti yang telah dibuktikan Ulfa Auliyah Idrus.
Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Negeri Makassar (UNM) ini telah mendapatkan banyak prestasi dari hasil kerja keras sungguh-sungguhnya yang pantang menyerah.
Cewek kelahiran Kabupaten Soppeng ini telah berhasil meraih beberapa penghargaan, baik di tingkat regional, maupun nasional. Salah satu yang menjadi kebanggaannya adalah berhasil menjadi juara 2 Pertamina Olimpiade Sains Bidang Matematika Tingkat Nasional tahun 2016. Dia hanya kalah dari Universitas Indonesia (UI) yang berhasil menjadi juara pertama kala itu.
Pertamina Olimpiade Sains sendiri adalah ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh Pertamina bekerja sama dengan UI. Pesertanya adalah mahasiswa se-Indonesia. Ada dua kategori yang dikompetisikan, yaitu kategori teori dan kategori project sains. Kategori teori terbagi atas empat bidang, masing-masing matematika, fisika, kimia, dan biologi.
Ulfa, sapaan Ulfa Auliyah Idrus saat itu sebagai peserta kategori teori bidang matematika. Ulfa pun menceritakan bagaimana ia sampai bisa meraih juara 2, menyisihkan puluhan ribu peserta lainnya.
Bermula dari informasi yang ia dengar tentang Pertamina Olimpiade Sains. Awalnya ulfa hanya mencoba untuk ikut memeriahkan kompetisi tersebut.
Bayangkan saja, ada kurang lebih 11 ribu mahasiswa yang mengikuti seleksi. Kemungkinan menjadi juara tentu sangatlah kecil. Namun dengan keyakinan penuh, ia tetap mengikuti seleksi.
Seleksi pertama diadakan di kampus peserta masing-masing. Saat mengikuti seleksi, sempat muncul keraguan pada diri Ulfa apakah akan lolos atau tidak.
“Ragu-ragu, karena banyak sekali saingan dan ada beberapa nomor yang tidak kukerja,” kenangnya.
Namun, ternyata Tuhan yang punya kehendak. Ulfa berhasil masuk ke babak semifinal yang hanya menyisakan 11 peserta. Bayangkan saja, berapa puluh ribu peserta yang disingkirkannya.
Penentuan 11 peserta ini terbilang cukup sulit. Karena dari kurang lebih 11 ribu peserta pada babak seleksi, hanya dipilih 3 orang saja yang lolos otomatis ke semifinal. Sisanya diambil dari masing-masing wilayah.
Ada dua peserta dari wilayah Jawa, dua dari wilayah Sumatera, satu dari wilayah Sulawesi, satu dari wilayah Kalimantan, satu dari wilayah Maluku dan Papua, serta satu peserta dari wilayah Bali, NTT, dan NTB.
Babak semifinal ini diadakan di UI Depok. 11 peserta diseleksi lagi dengan diberi soal uraian yang mencakup delapan mata kuliah untuk maju ke babak grand final. Soal-soalnya terdiri dari mata kuliah kalkulus, analisis real, aljabar linear, struktur aljabar, persamaan diferensial biasa, persamaan diferensial parsial, teori peluang, dan statistik. Dengan hanya dipilih enam peserta terbaik, Ulfa menjadi salah satu dalam peserta tersebut.
Pada babak grand final, para peserta harus mempresentasikan makalah open ended dalam bentuk pemodelan matematika yang berkaitan dengan beberapa kasus. Kasus yang diberikanpun adalah yang berkaitan tentang Pertamina.
Pada babak inilah Ulfa merasa sangat kesulitan. Karena peserta diharuskan mencari ide sendiri, data-data, dan model matematikanya. Sangat berbeda dengan soal-soal sebelumnya yang hanya bersifat uraian.
Namun karena sifat pantang menyerahnya, semua itu berhasil ia kerjakan. Akhirnya predikat juara 2 nasional dalam bidang matematika berhasil ia raih. Ulfa hanya kalah dari tuan rumah UI. Bahkan bahkan berhasil mengalahkan peserta dari beberapa universitas ternama di Indonesia. Seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang hanya sebagai juara 3.
“Sangat bersyukur, tapi masih harus tetap belajar untuk kompetisi-kompetisi selanjutnya,” ucap Ulfa.
Prestasi yang diraih ini bukan tanpa kesulitan. Ulfa mengatakan, selain sulit mengerjakan makalah open ended, ia juga kerap kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. Menurutnya, soal yang ada pada Pertamina Olimpiade Sains lebih sulit dari soal-soal sekolah yang biasa didapatkannya.
“Kuncinya adalah belajar. Kerjakan soal tahun-tahun sebelumnya. Pelajari materi sesuai silabus,” jelas Ulfa memberi tips jika ingin sukses dalam pengerjaan soal. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top