Headline

Pantang Mengemis Meski Seharian tak Makan

TENAGA yang sudah tergerus usia tak pernah membuat surut semangat Johang. Ia terus melakoni pekerjaannya menjual buah mangga, meski hanya di atas trotoar jalan.

Laporan: Arif Alqadri

SEJAK 2012 berjualan, untung yang didapatkan Johang hanya bisa menutupi kebutuhan sehari-harinya. Meski begitu, ia tetap bersyukur akan nikmat yang diberikan kepadanya.
Menjaga buah mangga dari petang hingga malam menjelang dinihari terpaksa dilakoni Johang. Jimpitan ekonomi membuat ia harus mengais rezeki di saat sebagian besar warga Kota Makassar tengah beristirahat, atau terlelap dalam mimpin yang indah.
Sebenarnya, sebelum berjualan mangga di Makassar, dulunya Johang adalah seorang petani jagung. Juga penjual garam di Kabupaten Jeneponto.
Dia tidak punya lahan untuk bertani. Hanya memiliki tenaga yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah tanah.
Mendapatkan modal usaha dengan cara kredit untuk membeli bibit dan pupuk tanaman jagung pernah dilakukan Johang bersama istrinya, Dahlia ketika masih hidup. Harapannya bersama sang istri tercinta, mereka bisa mendapatkan untung dari hasil panen jagung.
Namun semua itu sirna. Jagung yang ditanam di atas lahan milik tetangganya, yang juga disewa dengan cara bagi hasil, sebagian besar mati sebelum dipanen. Jangankan untung, kembali modal pun tak diraih.
Hal itu membuat Johang bersama istrinya kelabakan. Terlebih harus membayar pinjaman kredit yang diambilnya untuk membeli bibit tanaman jagung. Dari situlah awalnya Johang berinisiatif untuk berangkat ke Makassar berjualan mangga seorang diri.
”Saya dulu petani jagung di Jeneponto, Nak. Tapi gagal panen, saya rugi. Saya tidak berani lagi mencoba. Jualan mangga seperti ini lebih bagus. Karena sama-sama halal,” ujarnya.
Johang mengakui, harga mangga yang ditawarkannya cukup berbeda dengan yang ada di pasar. Diapun selalu berterus terang kepada pembelinya tentang modalnya. Termasuk biaya transportasi yang setiap hari harus ia dikeluarkan untuk pergi dan pulang dari Kabupaten Jeneponto ke Kota Makassar.
“Dalam sehari biasa saya dapat uang Rp120 ribu atau Rp250 ribu. Biasanya terjual 20 sampai 30 biji mangga. Itumi saya putar untuk modalku dan uang makan,” katanya.
Bagi Johang, apa yang dilakukannya saat ini jauh lebih baik daripada hanya mengharapkan belas kasih orang-orang alias menjadi pengemis. Meski kadang tidak makan dalam sehari, Johang pantang untuk meminta kepada orang lain. Selagi masih dapat dan mampu berusaha mencari rezeki, ia tetap bertahan.
Sambil tertunduk kedinginan, Johang mengenang kondisinya di tahun 2014 lalu. Ketika itu, ia sempat mengalami pusing karena lapar.
Johang kedinginan karena hujan dengan kondisi perut tanpa isi. Ia berangkat dari rumahnya di Jeneponto ke Makassar, karena beras di tempat penyimpanannya sudah tidak ada lagi.
Diapun akhirnya tak sadarkan diri. Tertidur di atas trotoar hingga ada orang yang membangunkan dan memberinya air mineral. Setelah sadar, orang baik hati itupun menyodorkan uang pecahan Rp50 ribu kepada Johang. Uang itulah yang dipakainya membeli bakso dan biaya kembali ke Jeneponto.
”Yang penting saya makan, saya sudah bersyukur, Nak. Saya sudah tua. Tidak adami apa-apa yang saya barapkan selain makan saja,” tuturnya haru. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top