Headline

”Saya Mau Makan, Malu Minta Sama Anak-anak”

BKM/ARIF ALQADRY DEMI SESUAP NASI-Johang berjualan mangga di atas trotoar Jalan Urip Sumoharjo, depan RS Awal Bros demi sesuap nasi.

ADA banyak asa ketika seseorang menginjakkan kaki di Kota Makassar. Harapan untuk bisa mendapatkan hidup lebih layak salah satunya. Termasuk mengais rezeki demi sesuap nasi agar dapat bertahan hidup!

Laporan: Arif Alqadry

CUACA malam di Kota Makassar kurang bersahabat. Hujan deras disertai angin kencang terus mengguyur sejak pagi hingga malam. Kondisi ini berlangsung sehari setelah tahun baru Imlek, 28 Januari 2017.
Ruas Jalan Urip Sumoharjo tampak sepi, Senin malam (30/1). Tidak seperti biasanya, jalan protokol ini selalu ramai dengan aktivitas masyarakat. Hanya pengendara roda empat yang terlihat lalulalang. Diselingi sesekali pengendara sepeda motor.
Maklum, udara malam cukup dingin. Bahkan serasa menusuk hingga ke tulang.
Di tengah perjalanan menuju gedung Graha Pena, penulis melihat sosok pria tua duduk mengenakan jas hujan warga merah hati. Di kepalanya terselip topi yang ditutupi tudung jas hujan.
Agar tak terlalu banyak air hujan mengguyur, sebuah payung ukuran sedang pun dipasang. Keberadaan payung yang sudah mulai rusak itu, sedikit membantu melindunginya dari guyuran hujan.
Lelaki bertubuh ringkih itu tampak tertunduk lemas. Menggigil kedinginan di atas pedestrian Jalan Urip Sumihardjo. Tepatnya di depan Rumah Sakit (RS) Awal Bross.
Dihadapan sang kakek teronggok kira-kira 20-an biji buah mangga. Semuanya masih tersusun rapih di atas potongan karung. Buah yang dipajang di atas trotoar itu terlihat basah terkena air hujan.
Saat dihampiri, sosok tua itu memperkenalkan namanya. Namanya Johang. Warga Desa Balang Beru, Kabupaten Jeneponto.
Dari mulutnya yang sudah gemetaran menahan dingin, terujar pengakuannya. Sudah empat tahun dia berjualan mangga dengan cara seperti ini.
Di kala musim hujan, Johang harus bersahabat dengan air. Ketika kemarau tiba, giliran debu yang jadi temannya. Namun, semua itu tak menjadi halangan bagi pria kelahiran Balangloe, 13 Desember 1935 ini. Ia tak henti mencari rezeki yang halal.
Sembari memilah satu persatu buah mangga jualannya, jari tangannya yang sudah keriput tampak gemetar. Johang lalu berkisah tentang hidupnya.
Sejak 2012 lalu, suami dari Dahlia ini telah menggeluti pekerjaan berjualan mangga di atas trotoar Jalan Urip Sumoharjo. Semuanya demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Johang kini hidup sendirian. Istrinya, Dahlia sudah meninggal dunia. Dari pernikahan Johang dan Dahlia, mereka dikarunia empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan.
”Empat anakku sudah berkeluargami semua. Tapi mereka ada di Malaysia dan Kalimantan. Sudah lama perginya ke sana. Sebelum menikah mereka merantau dan mencari kerja di luar. Kalau istriku meninggal tahun 2015 lalu,” tuturnya dengan suara samar.
Diapun mengungkapkan alasannya bekerja menjual mangga. ”Saya juga mau makan dan beli beras. Anak-anakku jarang sekali datang lihatka. Saya juga malu minta sama anak-anakku,” ujarnya lagi.
Johang terakhir bertemu dengan anak-anaknya ketika Dahlia meninggal dunia. Tapi itupun mereka tidak bisa berlama-lama melepas kerinduan satu sama lain. Sebab anak-anaknya mesti pergi lagi, karena mereka bekerja.
Perjuangan hidup Johang begitu keras. Demi mendapatkan sesuap nasi, dia harus merelakan waktu dan sisa hidupnya dengan berjualan mangga di malam hari.
Dengan tubuh rentanya, ia mulai menata jualannya dari pukul 18.00 Wita. Buah mangga itu dijaganya hingga tengah malam pukul 00.00 Wita.
Pekerjaan yang tak pernah terbayangkan oleh Johang ketika masih muda. Tapi, semua ini terpaksa ia lakoni. Jika tidak, berarti Johang harus mampu menahan lapar yang sudah sering ia rasakan.
Mengenakan sendal jepit yang sudah cukup tipis, topi dan kartu tanda pengenal yang selalu diselip di dalam dompetnya, Johang berangkat dari rumahnya di Desa Balang Beru, Kabupaten Jeneponto ke Kota Makassar setiap hari sejak pukul 14.00 Wita. Ia menumpang mobil angkutan umum.
Setelah menempuh waktu perjalanan selama tiga jam, di Makassar Johang tidak langsung ke lokasi tempat berjualannya. Dia terlebih dahulu harus beristirahat di terminal. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Pasar Terong, Makassar membeli mangga di langganannya.
Mangga yang dijualnya setiap malam memang bukan dari kampungnya. Melainkan dibelinya dari pasar tradisional di Kota Makassar. Itu dia lakukan untuk mengurangi beban dan tenaganya yang tidak kuat lagi. Apalagi sampai harus membawa barang dari Kabupaten Jeneponto ke Kota Makassar.
Usai magrib, Johang sudah sibuk mempersiapkan barang dagangannya. Ditata dan disusunnya satu persatu buah mangga yang sudah matang di atas trotoar jalan yang dilapisi selembar plastik dari bekas bungkusan karung. Tidak banyak buah mangga yang dibeli dan kembali dijualnya setiap malam. Hanya berkisa 20 hingga 30 biji setiap hari.
Biasanya, buah mangga yang dijual Johang ditawarkan dengan harga bervariasi. Untuk tiga biji dijual seharga Rp20 ribu. Sementara jika pembeli hanya menginginkan dua biji, Johang dibayar Rp15 ribu. Tapi kalau hanya sebiji, harganya Rp10 ribu.
Hasil dari menjual buah mangga ini mampu menutupi modal dan biaya transportasinya dari Jeneponto ke Makassar. Untuk pergi pulang, Johang harus mengeluarkan biaya Rp80 ribu.
”Saya juga tidak tahu, sampai kapan saya mau seperti ini. Karena kalau tidak jualanka, saya mau makan apa. Kalau di Jeneponto saya jualan garamji di pinggir jalan. Tapi itu jarang laku. Karena sudah banyak penduduk di sana jualan garam juga. Bagus kalau dalam sehari ada yang laku garamku. Biar satu atau dua, saya bisa pakai beli beras,” katanya memberi alasan memilih mencari peruntungan di Makassar. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top