Headline

Saleh Bunuh Korban di Adegan 16 dan 17

GOWA, BKM — Polisi menggelar rekonstruksi pembunuhan Rafika Hasanuddin (22), Senin (30/1). Berlangsung di kompleks perumahan Yusuf Bauty Garden, Jalan Manggarupi, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa,
Pilihan petugas kepolisian berjaga di sekitar lokasi. Tersangka Saleh (35), petugas keamanan perumahan yang jadi tersangka dalam kasus ini memeragakan sedikitnya 52 adegan.
Rekonstruksi ini mendapat perhatian khusus dari Kapolda Sulsel, Irjen Pol Muktiono. Ia hadir langsung di lokasi dan memberikan keterangan kepada wartawan. Ikut mendampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondany, Ditreskrimum Polda Sulsel Kombes Pol Erwin Zadma dan Kapolres Gowa AKBP Ivan Setiadi.
Saleh semula diancam dengan pasal 338 KUHP tentang pencurian yang disertai dengan kekerasan. Junto pasal 338, junto pasal 365 atas kasus pembunuhan. Ia terancam hukuman seumur hidupnya atas perbuatannya melenyapkan nyawa alumni Fakultas Farmasi Univesitas Indonesia Timur (UIT) itu.
”Tersangka dijerat pasal 339 KUHP, junto pasal 338, junto 365. Ancaman hukumannya seumur hidup,” tegas Muktiono.
Pasal 339 KUHP, menegaskan bahwa pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, jika tertangkap tangan, untuk melepas diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatkannya dengan melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun.
Saleh nekat mengakhiri hidup Rafika Hasanuddin karena berniat ingin memiliki HP milik korban. Saat hendak mengambil HP tersebut di dalam rumah korban, Saleh tepergok. Diapun kapal dan menghabisi nyawa korban dengan cara menusuk dan menggorok leher korban hingga meninggal dunia.
Dari 52 adegan, tersangka Saleh hanya memerankan 39 adegan penting. Rekonstruksi menghadirkan satu orang saksi yakni Musmuliadi, keponakan tersangka Saleh. Sementara korban diperankan salah seorang anggota kepolisian.
Adegan bermula ketika korban Rafika melintas di depan pos Satpam. Ia terlihat mengutak atik handphone miliknya. HP tersebut merek Himax Y 13 jenis Adroid.
Saat itu tersangka Saleh tengah duduk di pos pengamanan. Melihat korban memegang HP, timbullah niatnya untuk memiliki alat komunikasi itu.
Diam-diam ia membuntuti Rafika yang masuk ke dalam kamar. Seketika itu juga Saleh berhasil menyelinap masuk lalu bersembunyi di dalam kamar.
Tanpa rasa curiga, korban meletakkan HP miliknya di lantai. Selanjutnya mengganti pakaian di dalam kamar.
Kesempatan ini dimanfaatkan Saleh. Ia langsung menyambar HP korban. Namun aksinya tepergok Rafika. Keduanyapun terlibat aksi saling tarik menarik handphone.
Tak ingin perbuatannya ketahuan, Saleh gelap mata. Ia menarik tubuh Rafika dan selanjutnya membenturkannya ke tembok. Korban pun terjatuh dalam kondisi oleng.
Meski korban sudah tak berdaya, Saleh kembali melanjutkan aksinya. Lagi-lagi ia memukul Rafika.
Pada saat bersamaan ia melihat pisau dapur yang terselip di jendela rumah. Benda tajam itu kemudian diambilnya lalu dipakai menggorok leher korban. Akibatnya, terjadi luka robek sepanjang 15 cm di leher.
Dari 52 adegan yang diperagakan, ada 39 adegan yang penting. Menurut Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, pada adegan 17, disitulah Rafika meninggal.
”Usai membunuh korban, tersangka Saleh kemudian keluar rumah dan mematikan saklar listrik,” ujar Dicky.
Kabid Humas menyebut, dua adegan terpenting saat menghabisi Rafika, yakni pada adegan 16 dan 17. Pada adegan 16 Saleh menambil pisau dapur yang ia lihat dan langsung menggorok leher Rafika. Kemudian pada adegan 17, Saleh menggorok leher Rafika hingga meregang nyawa.
Hujan lebat yang mengguyur, tak menyurutkan antusias warga untuk datang ke lokasi. Ratusan orang berbondong-bondong menyaksikan jalannya rekonstruksi. Saat rekonstruksi berlangsung , pintu masuk perumahan dijaga ketat anggota Brimob. Mereka berdiri tegak di samping kiri kanan pintu masuk. Tidak ada orang yang diperbolehkan masuk. Termasuk wartawan. Kecuali anggota kepolisian.
Berbagai cara dilakukan untuk bisa melihat langsung rangkaian Saleh melakukan aksinya. Salah satunya memanjat tembok lalu berdiri di atasnya. Hujan tak menjadi halangan bagi mereka.
”Rekonstruksi seperti ini kan hanya sekali-kali bisa dilihat. Saya cuma mau tahu bagaimana tersangka membunuh korban. Tapi tidak diperbolehkanki masuk. Polisi banyak yang jaga,” cetus Sherly, salah seorang pengendara yang kebetulan lewat dan memilih singgah saat melihat orang ramai berkumpul. (sar-ish/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top