Headline

Sempat Ditakut-takuti Ayah yang tak Mendukung

IST SIARAN -- Teteh Mayang (tengah) memberi penjelasan tentang pengobatan yang dilakukan selama di salah satu stasiun televisi swasta.

BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kebiasaan dan kemampuan orang tua tidak jauh berbeda dengan anaknya. Begitulah Lilis Budiawati, owner Klinik Pengobatan Khusus Wanita Teh Mayang.

Laporan: Amiruddin Nur

LILIS merupakan anak sulung dari pakar pengobatan khusus pria, H Suhendar. Sebelum membuka klinik pengobatan khusus wanita yang bertajuk Bengkelnya Kaum Wanita, Teteh Mayang –sapaan karib Lilis Budiawati– sempat berpikir untuk membuka klinik pengobatan sama seperti yang telah dilakoni bapaknya selama bertahun-tahun.
Namun keinginannya itu ditolak sang ayah. Supaya Mayang mengurungkan keinginannya, bapaknya sampai menakut-nakutinya.
”Aku memang anak pertama dari Pak H Suhendar. Bukannya aku gak mau ngikutin jejak orangtua yang merupakan pakar pengobatan pria. Dulu aku juga pernah ngomong sama bapak. Aku bilang gini; Pak, aku buka pengobatan pria yah. Kata bapak; aduh jangan. Kamu kan perempuan. Masa mau buka alat vital pria. Kan kurang bagus. Terus aku ditakut-takutin. Kalau buka pengobatan pria ntar kamu bakal diketawain gitu. Pandangan orang juga kurang bagus kalau perempuan buka pengobatan pria,” tutur Teh Mayang menirukan ucapan bapaknya ketika itu.
Tapi itu tidak menyurutkan semangat Teh Mayang untuk terus belajar tentang ilmu herbal. Baik dari bapaknya maupun orang luar. Melihat keteguhan niat anaknya untuk mengikuti jejaknya menjadi pengobat herbal, H Suhendar pun luluh.
Mendapat dukungan dari bapaknya untuk menggeluti dunia pengobatan menggunakan ekstrak herbal, membuat semangat Teh Mayang semakin terlecut. Selain makin rajin membantu bapaknya dalam meracik obat herbal, Teh Mayang juga aktif mengikuti berbagai pertemuan. Termasuk seminar yang membahas tentang herbal.
”Sebelum terjun menjadi pengobat, mungkin saya memang ada faktor keturunan untuk pengobatan herbal. Selain itu, saya juga barengi dengan pendidikan khusus. Saya juga sering mengikuti seminar-seminar tentang herbal. Tapi lebih mateng lagi, yakni terjun langsung di lapangan,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 1 Mei ini.
Ketika memutuskan membuka pengobatan khusus wanita pada Juni 2006, tantangan yang harus dihadapi Teh Mayang terbilang cukup banyak. Tapi itu tidak membuatnya jadi patah semangat. Justru sebaliknya. Merasa tertantang untuk bisa menaklukkan berbagai tantangan dan rintangan yang datang mengadang.
Teh Mayang mengakui, pertama buka klinik pengobatan herbal, tantangan demi tantangan datang menghampirinya. Selama berminggu-minggu pasien sepi. Karena belum tahu ada pengobatan kewanitaan.
Namanya klinik baru buka, syarat-syarat yang harus dipenuhi terbilang cukup banyak. Diantaranya perizinan belum lengkap. Karena kalau membuat izin tidak sembarangan. Harus melalui tahap demi tahap. Apalagi izin Dinas Kesehatan (Dinkes), harus ada berdiri dulu klinik baru ditinjau untuk dapat diketahui kekurangan apa saja yang harus dibenahi.
”Belum terbitnya izin-izin yang kami urus, membuat saya harus berurusan dengan banyak pihak. Termasuk dengan oknum petugas. Tiga minggu klinik buka, datanglah oknum-oknum petugas itu. Mereka pun menanyakan perizinan kami. Karena perizinan belum kelar, yah saya bilang aja kalau izin-izin lagi dalam pengurusan. Eehhh, saya malah dibawa oknum petugas itu. Katanya mau diperiksa,” kenangnya.
Tapi Teh Mayang tidak dibawa ke kantor petugas tersebut. Melainkan ke suatu tempat yang terletak di depan kantornya.
”Oknum petugas itu meminta sejumlah dana. Bagaimana saya bisa memenuhinya kalau jumlah yang diminta cukup besar menurut saya pada waktu itu. Udah klinik belum rame dan belum berjalan, eh udah ada yang malakin,” jelasnya seraya tertawa.
Dalam menjalankan usaha kliniknya, Teh Mayang harus bekerja ekstra keras. Ia harus rela bolak balik dari rumah ke klinik menggunakan sepeda motor. Lumayan, dua jam tiap hari. Karena keseringan naik motor tiap hari membuatnya jadi masuk angin.
Pengorbanan dan kerja keras Teh Mayang akhirnya membuahkan hasil. Dua bulan berjalan, klinik pengobatan yang dirintisnya mulai ramai didatangi pasien. Tidak saja dari Bandung dan sekitarnya. Tapi ada dari luar Jawa Barat. (*)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top