25 Tahun Ngontrak, Kemana-mana Naik Sepeda – Berita Kota Makassar
Headline

25 Tahun Ngontrak, Kemana-mana Naik Sepeda

BKM/JUNI NGONTRAK - Lantaran tak mampu membeli rumah, Tjhan Kiem Goek sudah 25 tahun tinggal di rumah kontrakan di Jalan Bali yang luasnya hanya 5x8 meter persegi.

Jika edisi kemarin kita menyaksikan bagaimana Angko Gito, salah satu warga keturunan Tionghoa di Makassar berjuang hidup, maka edisi hari ini kami tampilkan sosok yang lain. Namanya Tjhan Kiem Goek. Ia seorang wanita warga keturunan Tionghoa yang hidup pas-pasan.
Laporan: Juni Sewang

Tjhan Kiem Goek, lahir di Makassar 25 September 1955. Berarti umurnya kini menginjak 62 tahun. Namun, sepanjang umurnya, ia sama sekali belum pernah menikmati hidup cukup. Bahkan, di sisa usianya, Tjhan sudah ditinggal orangtua dan saudara-saudaranya. Yang ada hanya keluarga semarganya.
Kini Tjhan tinggal bersama suaminya, Hau Zhu King. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah kontrakan berukuran kecil di Jalan Bali No 70 Makassar. Ukuran rumah kontrakannya hanya 5 x 8 meter persegi. Di dalam rumah itu hanya terdapat satu kamar tidur. Selain itu terdapat beberapa poster China dan tulisan China. Ada juga patung.
Setiap tahun mereka harus membayar sewa kontrakan Rp7 juta. Uang sebesar ini, mereka peroleh dari menyisihkan gaji suaminya setiap bulan. Tjhan mengaku, setiap tahun sewa kontrakan naik. Makanya, di tahun baru Imlek nanti, mereka berharap sewa kontrakan tidak naik lagi.
Sebelum menikah dengan Hau Zhu, Tjhan berpindah-pindah rumah kontrakan. Untuk membayar kontrakan, Tjhan harus bekerja serabutan. Bahkan, kadang ia meminta belas kasih keluarganya.
“Saya sudah 25 tahun tinggal dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan yang lain. Tapi sejak bersuami, saya tinggal di rumah kontrakan di Jalan Bali,” kata Tjhan.
Ia mengaku, baru beberapa tahun lalu menikah dengan Hau Zhu. Ia menikah saat usianya tak lagi muda. Mereka dijodohkan oleh kerabatnya karena ia dan suaminya hidup seorang diri.
“Beruntung suami saya bekerja. Ia bekerja membuat mie di salah satu rumah makan di Kecamatan Wajo. Pernah juga suami saya bantu-batu di Pasar Sentral,” kata Tjhan.
Ia mengaku, gaji suaminya tidak cukup untuk hidup sehari-hari selama sebulan. Apalagi, mereka harus menyisihkan uang untuk membayar kontrakan.
Namun, Tjhan tidak mengeluh. Ia mengaku bahagia. Untuk mengurangi pengeluaran, setiap kemana-mana, Tjhan memilih naik sepeda. Ia tidak mau naik petepete, bentor atau becak. Menurutnya, akan menghabiskan uang saja.
“Saya kalau ke rumah keluarga atau belanja dan pergi bayar listrik selalu naik sepeda. Kalau tidak begitu, uang tidak cukup untuk makan,” kata Tjhan lagi saat ditemui di rumah kontrakannya, Selasa (24/1).
Do tahun baru Imlek 28 Januari nanti, Tjhan tidak terlalu berharap banyak. Paling ia dan suami berkumpul. Kadang juga ada yang panggil datang ke rumahnya. (jun/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top