Headline

Pengacara Duga Saleh Dipaksa Mengaku Bunuh Rafika

GOWA, BKM — Proses hukum kasus pembunuhan terhadap Rafika Hasanuddin (22) di perumahan Yusuf Bauti Garden, Jalan Manggarupi, Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, terus berproses di Mapolres Gowa. Tersangka Saleh (35), security perumahan terus menjalani pemeriksaan intensif penyidik.
Hanya saja, polisi belum bisa memastikan apakah ada motif lain Saleh hingga nekat mengakhiri hidup Rafika. Tersangka hanya disebutkan tepergok mencuri handphone korban hingga menggorok lehernya menggunakan pisau. Belum ada penyebab lain, semisal korban mengalami perkosaan sebelum dihabis.
Menyusul penetapan Saleh sebagai tersangka dalam kasus ini, pihak keluarga telah menunjuk pengacara untuk mendampinginya. Empat orang pengacara itu mendatangi Mapolres Gowa, Senin (23/1). Masing-masing Azis T, Budi Minzathu, Muh Zain dan Andi Sumaneg. Mereka rencananya hendak bertemu dengan Kapolres Gowa, AKBP Ivan Setiadi. Termasuk menemui Saleh yang sementara ditahan dalam sel mapolres.
Namun, keinginan itu tak terpenuhi. Lima jam menunggu, mereka tak bisa bertemu dengan kapolres maupun tersangka Saleh.
Salah seorang pengacara tersangka, Azis T sangat menyayangkan tak bisa bertemu dengan kapolres dan kliennya. Padahal, ia bermaksud mengkonfirmasi adanya kabar bahwa Saleh dianiaya untuk mengakui telah membunuh Rafika.
Pengacara lainnya, Budi Minzathu, sebelum meninggalkan Mapolres Gowa mengatakan, mereka sengaja datang karena adanya pernyataan dari kliennya yang tidak membunuh Rafika Hasanuddin. Saleh diduga dipaksa mengaku melakukan pembunuhan itu dengan cara dianiaya terlebih dahulu.
”Kedatangan kami untuk membela klien, karena adanya pernyataan dari klien kami telah disiksa oleh oknum polisi. Ia diduga dipaksa mengakui kesalahannya membunuh Rafika Hasanuddin. Padahal klien kami tidak melakukan itu,” kata Budi Minzathu.
Budi menegaskan, jika terbukti adanya penganiayaan terhadap Saleh, maka pihaknya lakan laporkan tindakan oknum polisi dan akan menempuh praperadilan.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan yang dikonfirmasi, kemarin mengatakan hingga kini polisi masih melakukan pengembangan. Soal kedatangan pengacara tersangka, Mangatas membenarkannya.
”Sama sekali mereka tidak dilarang (untuk bertemu tersangka). Tidak ada larangan. Yang jelas, saat dilakukan pemeriksaan nantinya tersangka pasti didampingi pengacara. Kan tidak mungkin tahanan yang di dalam sel didampingi terus toh. Kondisi tersangka tetap sehat-sehat di dalam sel,” ujar Kasubag Humas.
Selain empat pengacara tersangka, Polres Gowa juga kedatangan tamu lainnya, kemarin. Direktur Direktorat Reskrim dan Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulsel Kombes Pol Edwin Zadma terlihat di mapolres. Bersama Kapolres Gowa, AKBP Ivan Setiadi dan Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Darwis Akib, digelar rapat tertutup gelar perkara kasus pembunuhan Rafika.
Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Darwis Akib mengatakan belum bisa memberikan komentar terkait gelar perkara yang dilakukan bersama Direskrimum Polda. ”Nanti ya sesudah rapat saya beri penjelasan,” ujarnya.
Dugaan Saleh dianiaya dan disiksa untuk mengaku membunuh Rafika, ditampik polisi. Kanit Resmob Polda Sulsel, Kompol Muchammad Yunus Saputra.
”Biarkan mereka menilai polisi yang tidak-tidak. Yang jelas, polisi telah mengantongi sejumlah alat bukti. Alat bukti itu yang akan diserahkan ke kejaksaan. Nanti kejaksaan menentukan,” tegas Kompol Yunus, kemarin.
Selain alat bukti dari hasil olah kejadian perkara yang berhasil disita petugas, indikasi baru ditemukan petugas sehingga makin terkuak dugaan jika Saleh pernah terlibat dalam aksi kriminalitas. Namun polda masih melakukan koordinasi ke polres dan polsek.
Sebab di bagian paha kiri dan kanan Saleh terdapat bekas luka tembak yang tembus ke dengkul. “Ada kita temukan dibagian paha tersangka bekas luka tembakan. Biasanya, luka tembak itu dimiliki oleh pelaku kriminalitas. Makanya, untuk mengetahui secara pasti bekas luka tembak itu, kami masih berkoordinsi ke polres dan polsek guna mengetahui catatan kepolisian tersangka,” beber Yunus.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani menegaskan, tak ada tindak kejahatan yang sempurna. Atas dasar itu, polisi bekerja keras dan serius dengan mengerahkan profesionalisme yang mereka miliki.
”Dalam mengungkap kasus ini, polisi telah bekerja siang dan malam selama tiga hari tiga malam. Mereka berjibaku mengadu kecermatan, kecepatan dan kecerdasan. Keterangan Saleh tidak serta merta dipercaya,” ujarnya, kemarin. (sar-ish/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top