Sulselbar

Dewan Pertanyakan Keberadaan Tambang Aspal

KAJI ULANG -- Lahan tambang yang beroperasi di Kabupaten Enrekang. Dewan meminta Pemkab mengkaji ulang operasional pabrik tersebut karena diduga beroperasi tanpa izin.

ENREKANG, BKM — Aktivitas pengolahan Asphalt Mixing Plant (AMP) Proyek Rekontruksi Jalan Poros Enrekang-Toraja yang kerjakan PT Nindya-Sejahtera di Matua, Kelurahan Buntu Sugi, Kecamatan Alla-Enrekang dipertanyakan kalangan dewan.
Pasalnya proyek tersebut diduga meresahkan warga sekitar akibat pencemaran udara. Limbah pabrik berupa debu bercampur dengan bauh yang menyengat membuat beberapa balita dan anak-anak serta orang dewasa terpaksa mengeluarkan biaya untuk pengobatan di Puskesmas karena terserang penyakit, inflensa, kepala pusing dan muntah-muntah.
Seperti yang dilami Mikaela,(4) seorang bocah tak berdosa ini menderita mual, muntah, pusing dan demam tinggi. Ini diduga karena pencemaran limbah tambang.
Anggota DPRD Enrekang dari PDIP, Saiful meminta kepada Pemkab agar pabrik proyek yang menggunakan dana sebesar Rp186 miliar dari APBN tahun anggaran 2015-2018 dikaji ulang.”Saya berharap agar tambang itu dikaji ulang,”ujar Saiful di Gedung DPRD Enrekang, Senin (23/1).
Anggota dewan lainnya dari Partai Nasdem Arsyat Gawi mengatakan keberdaan tambang yang beroperasi kurang lebih 100 meter dari pemukiman warga tersebut, telah beroperasi dengan melanggar beberapa aturan.
“Menurut info, tambang itu banyak menyalahi aturan. Jika ini benar kita rekomendasikan ke agar dihentikan beropersi,”katanya.
Sebelumnya,Legislator Gerindra Enrekang, Amiruddin menyesalkan sikap Pemkab yang terkesan melakukan pembiaran terhadap proyek yang beroperasi tanpa izin.
“Saya tau sampai detik ini belum ada izinya. Datanya ada sama sya,”katanya. (her/C)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top