Headline

Polisi Dalami Motif Lain Satpam Bunuh Rafika

GOWA, BKM — Saleh (35) kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Petugas keamanan di kompleks Perumahan Yusuf Bauti Garden itu terancam hukuman 15 tahun penjara. Ia dijerat
pasal 365 KUHP ayat 3 tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia.
Pada Kamis (19/1) malam, polisi meningkatkan status Saleh dari saksi menjadi tersangka. Ia disebutkan sebagai pelaku tunggal dalam kasus terbunuhnya Rafika Hasanuddin, alumni Fakultas Farmasi UIT. Korban ditemukan tak bernyawa di rumahnya Blok A nomor 5, Senin (16/1) malam.
”Tersangka dijerat pasal 365 KUHP ayat 3 tentang pencurian dengan kekerasan, yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” kata Kasat Reskrim Polres Gowa, AKP Darwis Akib, kemarin.
Sejak Senin (16/1) hingga Kamis (20/1), tim gabungan Polda Sulsel dan Polres Gowa intensif mengusut kasus ini. Berbagai barang bukti yang ditemukan di lapangan menguatkan dugaan keterlibatan Saleh dalam kejadian sadis ini.
Tidak berselang lama setelah Saleh ditetapkan sebagai tersangka, sekelompok massa mendatangi Mapolres Gowa, Kamis tengah malam. Mereka mengatasnamakan dirinya Wija to Luwu. Massa mahasiswa yang berjumlah ratusan orang itu mendesak polisi untuk bisa dipertemukan dengan tersangka Saleh.
Namun, permintaan tersebut tak dipenuhi. Mereka diminta untuk menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini ke pihak kepolisian.
Noldi Bemba dalam orasinya, mengapresiasi kerja polisi yang telah berhasil mengungkap siapa pelaku pembunuhan Ika, sapaan akrab Rafika. ”Namun satu yang kami minta, polisi transparan dalam menangani kasus ini. Sehingga institusi kepolisian tidak buruk di mata masyarakat,” kata Noldi.
Tuntutan mahasiswa itu didukung Andi Makmur, perwakilan keluarga Rafika. Ia menegaskan, jika polisi tidak memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelaku, maka pihaknya akan menyelesaikannya secara adat.
Dalam keterangan pers, Jumat (20/1) sore di Mapolres Gowa, tersangka Saleh disebutkan dijerat dengan pasal 365 ayat tiga atau 338 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Informasi tersebut disampaikan Kapolres Gowa, AKBP Ivan Setiadi melalui Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan dan Kanit Reskrim Polres Gowa, Ipda Malelak.
Ipda Malelak menjelaskan, saat ini pihaknya masih mendalami motif pelaku dalam kasus tersebut. “Untuk saat ini, berdasarkan keterangan tersangka dan barang bukti yang ada, ia dikenakan Pasal 365 atau Pasal 338 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” ujarnya.
Namun, tambah Ipda Malelak, berdasarkan pengembangan penyidikan dengan bukti yang ada, bisa saja mengarah ke pasal 338. “Tapi untuk saat ini kami masih dalami. Barang bukti yang akan kita kirim ke Labfor Mabes Polri itu batal, karena pelaku sudah mengakui kesalahannya,” tambahnya.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan, menyebutkan polisi mengamankan sedikitnya 17 barang bukti dari hasil olah TKP. Berdasarkan pengakuan pelaku, ia melakukannya secara tunggal.
“Kami amankan 17 barang bukti. Salah satunya sebuah pisau dan obeng yang digunakan kemudian diletakkan di atas ventilasi rumah korban. Untuk sementara belum mengarah ke unsur pemerkosaan. Kita masih gali lagi kasusnya,” jelas AKP Mangatas Tambunan.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani menjelaskan detail proses pengungkapan kasus yang cukup menyita perhatian ini. Dari sejumlah olah TKP yang dilakukan oleh tim gabungan, maka pada pukul 20.00 Wita, Kamis malam disimpulkanlah siapa orang yang tega mengakhiri hidup Ika.
‘”Dari olah TKP yang dilakukan tim gabungan, ada 17 barang bukti yang diduga kuat alat yang digunakan oleh tersangka. Khususnya pada alat bukti berupa pisau dapur,” terang Dicky.
Bermula pada hari Sabtu (14/1). Korban keluar dari rumahnya dan melintas di depan pos security. Saat itu Ika terlihat menggunakan handphone.
”Pelaku yang berada di pos melihat korban melintas dan membawa HP. Timbul niat tersangka untuk memiliki HP korban. Sekembalinya dari luar, tersangka mengikuti korban ke rumahnya,” terang Dicky.
Tanpa mengunci pintu rumah, korban langsung masuk ke dalam kamar guna bersalin pakaian. Kesempatan ini dimanfaatkan tersangka dengan mengambil HP korban.
Namun, aksi tersangka tepergok oleh korban. Saleh kemudian berusaha kabur. Tak ingin kehilangan HP miliknya, korban mengejar tersangka.
”Sempat dikejar sewaktu tepergok mengambil HP korban. Sambil berlari, tersangka balik menonjok wajah korban hingga terjatuh. Melihat korban terjatuh, pelaku menoleh dan melihat pisau dapur yang terselip di kusen jendela rumah ruang dapur. Tersangka kemudian mengambil pisau tersebut lalu menggorok korban hingga meninggal dunia,” terang Dicky lagi.
Usai melakukan aksinya, pisau yang dipakai menghabisi korban kemudian dilempar ke halaman belakang rumah. Tidak jauh dari dapur. Pisau tersebut kemudian dipungut kembali oleh tersangka dan mencucinya.
Tersangka berusaha menghilangkan jejak darah yang melengket di pisau. Selanjutnya pisau dibuang lagi ke atas topi jendela kamar belakang. Jasad korban lalu ditutup menggunakan sarung.
Saleh tidak langsung pergi dari rumah itu. Ia sempat merenung di kamar belakang, lalu mematikan saklar lampu luar. Kemudian beranjak menuju pos jaga dan duduk-duduk di balai bambu dekat pos.
”Tersangka mengeluarkan baju yang dikenakannya yang terkena percikan darah. Selanjutnya disatukan dengan pakaian lainnya yang tertumpuk di lantai pos jaga. Kemudian pada hari Senin (16/1), tersangka membuang HP korban di selokan. Itu juga dilakukan tersangka untuk menghilangkan jejak,” terang Dicky lagi.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel, Kombes Pol Erwin Sadma menambahkan, tersangka sempat membenturkan kepala korban ke dinding. Kemungkinan, suara benturan inilah yang didengarkan oleh tetangga korban pada malam kejadian. (sar-ish/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top