Headline

Perbaiki Peradaban Manusia Lewat IT

BAGI lelaki yang aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan ini, teknologi informasi merupakan jalan pintas yang elegan untuk memajukan bangsa. Apalagi perkembangannya sangat pesat.

Laporan: Rahmawati Amri

KETUA Forum Telematika Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini mengatakan, tahun 2018 mendatang, lalulintas pemetaan jaringan informasi akan dibangun. Internet dengan kecepatan tinggi akan semakin berkembang.
Dengan bantuan ring fiber optik yang akan disambungkan melalui kabel bawah laut di wilayah timur Indonesia, maka highspeed internet akan menjangkau hingga pulau-pulau terpencil. Era keterbukaan informasi semakin luas.
Hal ini tentu akan membawa dampak positif dan negatif. Positifnya tentu pada kecepatan dalam memperoleh akses informasi. Namun yang menjadi kekhawatiran, kecanggihan teknologi itu dipergunakan untuk hal yang tidak bermanfaat.
“Faktanya kita sangat lemah dalam etika di media sosial. Indikasinya seperti gampang menyebarkan berita hoax. Itu baru satu contoh kecil,” ungkapnya.
Dia merasa penting dan punya tanggung jawab untuk mengawal kemajuan tersebut agar bermanfaat. Hidayat punya niat luhur untuk memperbaiki peradaban manusia lewat teknologi informasi. Bagaimana manusia bisa jadi unggul dengan memanfaatkan TI secara positif.
“TI harus jadi alat untuk meningkatkan keunggulan dalam bersaing,” tegasnya.
Untuk itu, dia terus mendorong berbagai elemen masyarakat, terutama remaja dan pemuda untuk kreatif dalam mengelola TI, khususnya informasi digital.
Dia juga bekerja sama dengan Kominfo Sulsel dan melibatkan berbagai organisasi massa untuk mengampanyekan dan mengedukasi penggunaan TI secara sehat dan positif.
Kiprahnya itu semakin mengukuhkannya di lingkungan teknologi informasi dan telematika sehingga membawanya sebagai Presiden Forum Telematika Kawasan Timur Indonesia.
Kendati konsen pada dunia TI, namun dia tidak mengabaikan persoalan lain. Hidayat tak bisa dipisahkan dari dunia penyiaran. Perhatiannya terhadap dunia ini, khususnya di Sulawesi Selatan, bermula sejak berkembangnya era penyiaran amatir di tahun 1980-an.
Meskipun sempat terlibat dan berjuang bersama para penyiar amatir waktu itu, Hidayat memutuskan untuk tidak berkipah lebih jauh di bidang penyiaran. Namun demikian, perhatiannya terhadap dunia penyiaran tidak pernah lepas. Ia kemudian terpilih sebagai wakil ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan pada bulan Mei 2004.
Selama menduduki posisi ini, pemikirannya dicurahkan penuh bagi lembaga negara independen itu. Sehingga Hidayat juga menjadi ketua desk monitoring yang membawahi Bidang Monitoring dan Pengaduan Masyarakat serta Bidang Edukasi dan Literasi KPID Sulawesi Selatan.
Maraknya tayangan televisi yang tidak mendidik, menjadi keprihatinan Hidayat selaku komisioner KPID Sulsel. Media terkadang hanya berorientasi profit sehingga publik dikorbankan. Atas dasar itulah, KPID Sulawesi Selatan mencanangkan program Gerakan Menonton Sehat (GeMeS), dan menetapkan Hidayat sebagai ketua.
Bersama seluruh anggota dan staf sekretariat KPID Sulawesi Selatan, Hidayat sukses memimpin perguliran GeMeS secara berkesinambungan. Hingga akhirnya GeMeS mendapat dukungan dari KPI Pusat dan dijadikan program nasional.
Sejak mahasiswa, pemikirannya yang cenderung berseberangan dengan kepentingan penguasa saat itu, dan dengan gaya yang meledak-ledak, membuat Hidayat selalu menjadi motivator bagi kegiatan yang dilakukan di lingkungan kampusnya.
Saat itu, peran mahasiswa sebagai salah satu agen pembaharu benar-benar terasa. Salah satunya, dengan berkembangnya kelompok-kelompok diskusi yang selalu mengamati, membahas, dan mengkritisi fenomena-fenomena sosial dan politik yang berkembang.
Ketika berlaku regulasi soal pertukaran komoditas ekspor Indonesia dengan film Hollywood, misalnya, kelompok mahasiswa Hidayat dengan tegas menolaknya. Hidayat melihat regulasi itu sebagai keran masuknya budaya asing yang dapat menghancurkan sendi-sendi budaya bangsa Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.
Semua itu terbangun berkat idealismenya yang selalu ingin agar hak-hak masyarakat lebih dikedepankan sehingga tercipta keberadaban publik (public civility).
Dia juga tercatat aktif di bidang dakwah sebagai ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulsel. Lelaki ini juga dipercaya sebagai Dewan Pertimbangan MUI dan masuk dalam struktur kepengurusan Organisasi Wilayah (Orwil) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bidang teknologi informasi. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top