Enam Kali Olah TKP, Belum Ada Tersangka – Berita Kota Makassar
Headline

Enam Kali Olah TKP, Belum Ada Tersangka

GOWA, BKM — Siapa yang membunuh Rafika Hasanuddin (22), hingga saat ini belum terungkap. Padahal, peristiwa tragis yang dialami alumni Fakultas Farmasi Universitas Indonesia Timur (UIT) sudah beberapa hari berlalu. Korban ditemukan tak bernyawa pada Senin malam (16/1).
Hingga Kamis (19/1), personel gabungan dari Labfor Mabes Polri Cabang Makassar, Biddokes Polda Sulsel, Inafis Polres Gowa dan tim khusus Polda Sulsel sudah enam kali melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Mereka masih mengumpulkan bukti-bukti dari lokasi kejadian, di perumahan Yusuf Bauty Garden, Jalan Manggarupi, Kecamatan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, Gowa.
Dari olah TKP lanjutan kemarin, pihak kepolisian tampak membawa sejumlah barang yang dikemas dalam kantongan. Isinya berupa pisau, obeng dan sejumlah barang bukti lainnya. Petugas juga mencari jejak pelaku yang ada di dinding, lantai dan pakaian.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan yang dikonfirmasi, kemarin mengatakan, beberapa saksi masih diambil keterangan untuk pendalaman. ”Semuanya masih dalam proses lidik. Belum ada tersangka sampai saat ini,” ujarnya.
Untuk mengungkap kasus ini sepertinya butuh waktu. Apalagi jika hendak menunggu hasil tes DNA (Deoxyribose-nucleic Acid). Sebab alat tesnya tidak ada di Makassar.
Kepala laboratorium (labfor) Polda Sulsel, Kombes Samir yang ditemui di sela-sela olah TKP, kemarin menyebutkan, butuh waktu kurang lebih satu minggu untuk mengetahui hasil tes sampel DNA korban.
”Kita butuh waktu lebih satu minggu untuk mengetahui hasil tes DNA. Karena kami harus mengirimnya ke Cipinang, Jakarta Timur. Karena alatnya hanya ada di situ,” terang Kombes Samir.
Pada Rabu tengah malan hingga Kamis dinihari, polisi menurunkan anjing pelacak ke rumah yang berada di blok A nomor 5 itu. Sedikitnya sembilan ekor anjing pelacak bagian K9 Polda Sulsel melakukan penyisiran di lokasi korban ditemukan.
Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Sulsel, Kombes Pol Erwin Sadma menjelaskan, pihaknya melibatkan anjing pelacak dalam proses olah TKP guna membantu proses pengungkapan pelaku pembunuh Rafika.
”Dalam proses penyelidikan, bukan satu kali saja dilakukan olah TKP. Harus berulang kali. Ini dilakukan untuk bisa mendapat bukti lain dan identitas pelaku,” kata Erwin.
Dari hasil olah TKP terakhir, lanjut Erwin, diamankan pisau, sarung bantal, obeng serta bercak berwarna coklat yang diduga darah di tembok samping rumah korban. Tepatnya di samping pos security. Tim juga menemukan pagar seng belakang rumah korban penyok. Ada pula puntung rokok.
”Seluruh alat bukti yang diambil di rumah korban dari enam kali olah TKP akan kami selidiki untuk pengembangan kasus. Termasuk temuan bercak coklat di tembok samping rumah korban, serta pagar seng belakang rumah yang rusak,” ujarnya.
Pada olah TKP kemarin, pos security perumahan juga dipasangi garis polisi. Pada pisau dan obeng yang ditemukan di dalam rumah korban, juga terdapat bercak darah. Kuat dugaan kedua alat ini dipakai untuk menghabisi Rafika. Sementara pada sarung bantal yang ditemukan dalam kamar, terdapat bercak darahnya.
Kanit Resmob Polda Sulsel, Kompol Muchammad Yunus Saputra menjelaskan, pihaknya sengaja mendatangkan anjing pelacak ke lokasi untuk mengetahui jejak langkah kaki pelaku.
”Anjing ini bisa mengetahui jejak langkah kaki pelaku. Makanya kami menurunkan anjing pelacak agar bisa memudahkan proses penyelidikan pengungkapan kasus,” terang Yunus Saputra.
Tim Mabes Polri yang turun membantu melakukan penyelidikan dipimpin Kepala Cabang Laboratorium Forensik (Kacablabfor), Kombes Pol Samar. Alat bukti yang ditemukan selanjutnya akan diperiksa di Cipinang.
Khusus puntung rokok yang ditemukan di belakang rumah korban, akan dicocokkan dengan rokok yang selama ini diisap Saleh, security perumahan.
”Titik terangnya sudah ada. Temuan puntung rokok ini akan kita cocokkan dengan rokok milik Saleh yang telah diamankan dan berstatus sebagai saksi. Kita masih menunggu hasil pemeriksaan semua alat bukti yang dikirim ke Cipinang,” kata Edwin Zadma.
Terkait kasus ini, polisi telah memeriksa delapan orang saksi. Baik dari rekan Rafika hingga keluarga yang kerap berkunjung ke rumah korban. Rumah tersebut merupakan kediaman tante korban.
Salah seorang tetangga korban, Lisna (43) yang ditemui di lokasi menuturkan, sebelum ditemukan meninggal dengan leher tergorok, dirinya sempat mendengar suara ribut-ribut di rumah korban. Sabtu (14/1) dinihari pukul 03.00 Wita, Lisna mendengar suara seperti sesuatu yang dipukulkan ke tembok.
“Sempatja dengar itu suara pukulan sebanyak tiga kali di tembok. Tapi tidak adaji suara teriakan. Andaikan ada pasti, langsungka keluar,” tambah Lisna.
Di kalangan keluarganya, warga Bajo, Kabupaten Luwu itu dikenal sebagai anak yang penurut. Tidak pernah membantah apa yang disampaikan orang tuanya ketika menimba ilmu di UIT, Makassar.
Ayahnya, Hasanuddin meninggal dunia ketika Rafika masih duduk di bangku MTs Bajo. Sejak saat itu, ibu kandungnya, Yusni Yunus yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia berprofesi sebagai guru di SMA Unggulan Kamanre. Sementara almarhum ayahnya, merupakan pensiunan camat di Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu.
Tante korban, Fatmawati yang juga staf persidangan di DPRD Luwu, membenarkan keseharian Rafika yang sangat penurut “Rafika itu anak penurut dan pendiam. Dia menjadi harapan satu satunya keluarga. Setelah diwisuda di UIT Desember 2016, rencananya dia mau lanjut S2 Farmasi di UMI. Tapi sayang, dia menjadi korban pembunuhan di Gowa” jelas Fatmawati.
Bupati Luwu, Andi Mudzakkar mengutuk keras pembunuhan yang dialami Rafika. Ia mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap siapa pelakunya. (sar-ish-wan/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top