Polisi Periksa Sampel DNA dan Darah Korban – Berita Kota Makassar
Headline

Polisi Periksa Sampel DNA dan Darah Korban

IST GARIS POLISI-Di rumah inilah Rafika Hasanuddin tewas dibunuh. Di depannya masih dipasangi garis polisi.

GOWA, BKM — Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sulsel kembali mendatangi rumah korban pembunuhan sadis di Perumahan Yusuf Bauty Garden, Jalan Manggarupi, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Rabu (18/1).
Mereka mengambil sampel DNA korban Rafika Hasanuddin yang ada di lantai rumahnya, saat ditemukan tewas bersimbah darah dengan kondisi leher tergorok benda tajam.
Ketua Tim Labfor Polda Sulsel, Kompol dr Eka Yunianto mengatakan, kedatangan kembali tim forensik di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa) untuk mengambil sampel DNA Rafika guna keperluan penyelidikan.
“Kedatangan kami untuk mengambil kembali sampel DNA dari korban guna penyelidikan. Kami juga ingin mencocokkan darah kering yang ada di parang milik security yang ditemukan kemarin,” kata dr Eka Yunianto.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan yang dikonfirmasi kemarin, terkait perkembangan penyelidikan mengatakan pihaknya masih terus melakukan proses penyelidikannya. Terkait tersangka, AKP Mangatas menegaskan, penyidik belum bisa menyimpulkan. Sebab semuanya masih dalam penyelidikan.
Di Makassar, Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani memberi keterangan pers kepada wartawan di Rumah Sakit Bhayangkara, Rabu (18/1) siang. Ia menjelaskan, penyidik gabungan masih terus mengumpulkan bukti-bukti untuk dapat mengungkap kematian Ika, sapaan akrab korban.
”Selama dua hari polisi terus melakukan penyelidikan. Sejumlah alat bukti telah diamankan. Seperti handphone milik korban, sebilah badik dan parang. Polisi masih terus mendalami kasus ini,” jelas Dicky.
Dari hasil otopsi terhadap jasad korban, menurut Dicky, tidak ditemukan adanya tanda-tanda jika Rafika tengah berbadan dua. Juga tidak ada unsur pemerkosaan sebelum korban dibunuh.
”Kalau percobaan pemerkosaan oleh pelaku terhadap korban, kemungkinannya bisa saja terjadi. Namun karena korban berusaha melawan, pelaku kemudian menghabisi korban,” beber Kabid Humas.
Luka gorok di bagian leher diduga kuat menjadi penyebab korban meninggal. Selain itu, juga terdapat luka memar di kening, pipi dan dada.
”Jadi, ada tindakan penganiayaan oleh pelaku terhadap korban sebelum dibunuh. Semuanya akan terungkap nantinya ketika pelakunya sudah ditangkap. Mulai dari perencanaannya hingga sampai melakukan pembunuhan,” terang Dicky.
Pada bukti lain hasil otopsi dan hasil penyelidikan polisi, terungkap jika pelaku mengenal korban. Juga dipastikan tidak ada tindak kriminal lain yang dilakukan pelaku, seperti pencurian ataupun perampokan. Sebab tidak ada barang berharga milik korban yang hilang.
”Dari olah TKP yang dilakukan, tidak ada barang milik korban yang hilang. Motornya masih ada di dalam rumah. HPnya ditemukan di saluran air,” jelas Dicky lagi.
Guna mengungkap pelaku dalam kejadian ini, polisi meminta agar masyarakat membantu melakukan pencarian. Jika ada informasi tentang pelaku, agar segera disampaikan.
Hingga kemarin, rumah tempat Rafika dibunuh masih dipasangi police line. Suasana di sekitarnya tampak sepi.
Ibunda Rafika, Yusni Yunus (43) melalui telepon selular, kemarin menyampaikan firasat yang dirasakan sebelum anak semata wayangnya itu menjemput ajal. Tanda-tanda itu ia dapatkan pada hari Jumat (13/1).
”Ada firasat lain ketika itu. Saya merasa sangat gelisah. Namun tidak tahu apa arti itu semua. Saya tidak pernah menyampaikan itu kepada anak saya,” tuturnya.
Belakangan, Yusni mendapat kabar mengejutkan pada hari Senin (16/1). Putrinya ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan tak bernyawa. Diapun tak henti-hentinya menangis.
”Sewaktu mendapat kabar kematiannya, baru saya sadar akan arti dari firasat itu. Ternyata itu pertanda anak saya akan pergi untuk selamanya,” ujarnya.
Ibu yang terlibat aktif dalam sejumlah organisasi di Kabupaten Luwu ini, mengaku terakhir bertemu dengan buah hatinya itu pada hari Rabu (11/1). Saat itu Rafika berada di Luwu dan hendak kembali ke Makassar.
Ada pesan khusus yang disampaikan Yusni buat Rafika kala hendak berpisah. ”Nak, satu pesan saya kepadamu. Saya tidak bisa melihat apa yang kami kerjakan setiba di Makassar. Tapi saya minta, ketika kamu kenal dengan seorang pria, maka jagalah kehormatanmu,” katanya mengenang.
Korban selanjutnya berangkat ke Makassar dengan menggunakan mobil angkutan umum yang sudah menjadi langganannya. Setibanya di Makassar, Yusni menghubungi korban. Ia mengingatkan agar barang yang dititipkan oleh tantenya dikirim ke Luwu melalui sopir mobil yang mengangkutnya.
“Sewaktu di Makassar, saya menghubunginya. Saya minta agar barang yang dititip saudara saya dikirim saja melalui sopir mobil yang mengangkutnya. Karena berisi barang pecah belah,” terang Yusni.
Diakui Yusni, selama ini korban cukup terbuka terhadap dirinya. Termasuk masalah pribadi.
”Dia terbuka sekali ke saya. Masalah pribadinya tidak pernah ditutup-tutupi,” tambah Yusni.
Termasuk hubungan pribadinya dengan seorang pria yang berstatus anggota TNI dan bertugas di Pulau Jawa. Semasa hidupnya, Rafika pernah menyampaikan kepada ibunya bahwa lelaki yang juga seorang atlet itu akan datang ke Makassar untuk bermain bola.
”Waktu itu saya kembali mengingatkan agar dia menjaga diri. Tetap menjaga kehormatan,” kunci Yusniar. (sar-ish/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top