Metro

Pantang Ikut-ikutan Jadi Pengemis

Halima, Nenek Penjual Jagung Bakar di AP Petta Rani (2-Habis)

LEBIH baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Ungkapan kata itu memang dapat ditujukan ke nenek renta Halima.

Laporan: ARIF AL QADRY

Meski usianya sudah lanjut, namun perempuan kelahiran Jeneponto tetap bersemangat mencari rezeki yang lebih baik ketimbang hanya mengharapkan belas kasih orang-orang dengan menjadi pengemis.
Sudah sekitar 50 tahun Halima berjualan jagung bakar, gogos, telur asin dan air mineral di Jalan AP Pettarani. Itu dilakukan untuk mencari sesuap nasi dan menyambung hidup. Apalagi sudah beberapa tahun, dirinya belum juga dikunjungi ketiga anak angkatnya yang bekerja di Gorontalo. “Tinggal ini yang bisa saya kerja, dari pada harus menjadi pengemis,” sebutnya.
Setiap sore, Halima berangkat dari rumah keluarganya yang dia tempati di Jalan Sukaria menuju ke gubuk tempat aktifitasnya berjualan jagung bakar. Sebelum melangkah keluar rumah, Halima terus berdoa semoga rezeki lebih baik dan dagangannya bisa laris terjual. “Sebelum saya melangkah pergi berjualan pasti saya berdoa. Karena biar bagaimana kita harus ingat Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Setiap hari, ia membawa sebanyak 50 biji gogos titipan dari orang. Gogos dijual seharga Rp5 ribu perbiji. Sedangkan untuk jagung, dia mengaku hanya modal sendiri dan setiap hari ia bawa sebanyak 20 biji.
Jika ramai, Halima mengaku dapat menjual semua jagung yang dibawa dan menghabiskan gogos dan telur asin yang dititipkan kepadanya dengan upah tiap biji sebesar Rp1.500. Hasilnya, sebagian besar digunakan untuk biaya sehari-hari membantu keluarga yang dia tempati tinggal bersama.
“Setiap hari biasa saya dapat mi itu Rp50 ribu atau Rp100 ribu dari hasil jualan jagungku. Sedangkan saya juga biasa dapat Rp30 ribu dari hasil jualan gogos karena gogos itu sering banyak sisa,” sebutnya.
Sebuah gubuk bambu ukuran panjang sekitar tiga meter dan lebar satu setengah meter, tanpa dinding dengan atap dari terpal menjadi tempat usaha Halima, perempuan usia 97 tahun itu.
Gubuknya tersebut hanya disinari sebuah lampu minyak, serta dibantu cahaya lampu kendaraan yang melintas di Jalan AP Petta Rani.
Gigitan nyamuk, hujan, dan dinginnya udara malam sudah menjadi hal yang biasa bagi anak bungsu dari tiga bersaudara.
Dia bersyukur sampai saat ini, dirinya masih diperbolehkan untuk tinggal di rumah keluarganya tersebut.
Di depan penulis, ia sedikit berkisah, perempuan kelahiran Jeneponto tahun 1919 silam itu menyebut awal kedatangannya ke Kota Makassar memang untuk mengadu nasib pascaditinggal mati suami. Rumahnya yang berada di Jeneponto, dia jual. Hasil penjualan rumahnya digunakan sebagai modal merantau ke Makassar.
Tidak cukup lama setelah tinggal di rumah kakaknya yang berada di Jalan Sunu, Halima mendapat tawaran dari pemilik tanah yang berada di Jalan AP Petta Rani, ujung Jalan Maccini untuk tinggal sementara waktu sambil menjaga tanah tersebut. Karena gratis, Halima menerima tawaran dan uang hasil penjualan rumahnya di Jeneponto sebagian dia gunakan untuk membeli kayu dan membangun rumah gubuk sederhana. Saat itulah, dia memulai menjual jagung bakar tepat di depan rumah yang dibangun diatas lahan yang dipinjamkan dan sempat dibantu oleh anak angkatnya berjualan.
Namun hanya berselang beberapa bulan pascaanak angkatnya ke Gorontalo untuk bekerja, dia diminta untuk meninggalkan rumah gubuknya karena pemilik lahan akan menjual dan dibanguni. Tanpa waktu yang lama, dia pun meninggalkan rumah sederhananya dan tinggal sementara waktu di gubuk tempat penjualan jagung bakar yang berada tepat di depan bekas rumahnya. Untungnya, salah seorang pelanggan setia berbaik hati mengajak Herlima tinggal bersama setelah melihat Herlima tidur di gubuk penjualannya tanpa dinding.
“Sudah tidak pernah ma lagi dia lihat tiga orang anak angkatku. Terakhir itu datang belum adapi ini jembatan layang ka, dan disitu anakku bawakanka uang Rp200 ribu. Saya dengar di larangki sama istrinya datang, karena saya juga bukan ji mama kandungnya. Saya dulu punya ji anak kandung enam orang, tapi mereka itu meninggal semua ada yang tenggelam, dan ada juga yang pas dilahirkan. Suamiku juga sudah meninggal mi, jadi saya ke Makassar itu bersama anak angkatku,” kisahnya sambil sesekali mengusap dahinya. (arf)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top