Metro

Tak Terasa Gigitan Nyamuk dan Dinginnya Malam

ADA banyak cara yang dapat dilakukan seseorang untuk dapat terus bertahan hidup. Usia yang tak lagi muda, bukan menjadi alasan yang tepat untuk tidak berusaha mencari rezeki.

Laporan: ARIF AL QADRY

Itulah yang tergambar dari sosok perempuan lanjut usia yang setiap malam berjualan jagung bakar, gogos, telur asin dan air mineral di Jalan AP Pettarani, sebelum jembatan layang flyover.
Sebuah gubuk bambu ukuran panjang sekitar tiga meter dan lebar satu setengah meter, tanpa dinding dengan atap dari terpal menjadi tempat usaha Halima, perempuan usia 97 tahun itu.
Gubuknya-pun hanya disinari sebuah lampu minyak, serta dibantu cahaya lampu kendaraan yang melintas di Jalan AP Petta Rani.
Setiap hari, Halima mencari sesuap nasi dengan berjualan jagung bakar dari pukul 17:00 wita sampai dini hari.
Meski telah renta dimakan usia dengan kulit yang keriput, semangat Halima seakan tak pernah surut. Ia menawarkan jagung bakar dan gogos yang disimpannya di atas meja kayu dan sesekali menatap penuh harap ke setiap pengendara yang singgah di depan gubuk agar dagangannya dapat laris terjual.
Usai mendapatkan pundi-pundi rupiah, dia berbegas pulang ke rumah tumpangannya untuk sejenak beristerahat. Rumah tumpangannya-pun tidak besar dan berada tidak jauh dari tempat dia berjualan.
Gigitan nyamuk, hujan, dan dinginnya udara malam sudah menjadi hal yang biasa bagi anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia sudah 50 tahun bertahan berjualan jagung bakar, gogos dan telur asin di Jalan AP Petta Rani yang dimulai sejak 1966 sejak awal dia datang ke Kota Makassar bersama anak angkatnya yang sudah berkeluarga.
Di depan penulis, ia sedikit berkisah, perempuan kelahiran Jeneponto tahun 1919 silam itu menyebut awal kedatangannya ke Kota Makassar memang untuk mengadu nasib pascaditinggal mati suami. Rumahnya yang berada di Jeneponto, dia jual. Hasil penjualan rumahnya digunakan sebagai modal merantau ke Makassar.
Tidak cukup lama setelah tinggal di rumah kakaknya yang berada di Jalan Sunu, Halima mendapat tawaran dari pemilik tanah yang berada di Jalan AP Petta Rani, ujung Jalan Maccini untuk tinggal sementara waktu sambil menjaga tanah tersebut. Karena gratis, Halima menerima tawaran dan uang hasil penjualan rumahnya di Jeneponto sebagian dia gunakan untuk membeli kayu dan membangun rumah gubuk sederhana. Saat itulah, dia memulai menjual jagung bakar tepat di depan rumah yang dibangun diatas lahan yang dipinjamkan dan sempat dibantu oleh anak angkatnya berjualan.
Namun hanya berselang beberapa bulan pascaanak angkatnya ke Gorontalo untuk bekerja, dia diminta untuk meninggalkan rumah gubuknya karena pemilik lahan akan menjual dan dibanguni. Tanpa waktu yang lama, dia pun meninggalkan rumah sederhananya dan tinggal sementara waktu di gubuk tempat penjualan jagung bakar yang berada tepat di depan bekas rumahnya. Untungnya, salah seorang pelanggan setia berbaik hati mengajak Herlima tinggal bersama setelah melihat Herlima tidur di gubuk penjualannya tanpa dinding.
“Sudah tidak pernah ma lagi dia lihat tiga orang anak angkatku. Terakhir itu datang belum adapi ini jembatan layang ka, dan disitu anakku bawakanka uang Rp200 ribu. Saya dengar di larangki sama istrinya datang, karena saya juga bukan ji mama kandungnya. Saya dulu punya ji anak kandung enam orang, tapi mereka itu meninggal semua ada yang tenggelam, dan ada juga yang pas dilahirkan. Suamiku juga sudah meninggal mi, jadi saya ke Makassar itu bersama anak angkatku,” kisahnya sambil sesekali mengusap dahinya.
Dia bersyukur sampai saat ini, dirinya masih diperbolehkan untuk tinggal di rumah tumpangan tersebut. Bahkan ia tetap bersemangat ingin berjualan jagung karena dia tidak ingin membebani pemilik rumah.
“Kalau jagung itu biasa saya beli sendiri di Pasar Terong, tapi kalau gogos dan telur asin barangnya orang yang dia titip sama saya. Tapi itu ada ji juga saya dapat dan uangnya itu saya kumpulki setiap hari dan sedekahkan juga,” katanya.(arf)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top