Headline

Selain Mengobati, Juga Perbaiki Sisi Religius Pasien

BKM/NUGROHO NAFIKA OBATI PASIEN-Syaibani Mujiono tengah mengobati salah seorang pasien di kliniknya.

SIAPA sangka jika seorang petani kecil, pernah bekerja sebagai kuli bangunan, kini punya omzet puluhan juta. Kesabaran dan kerja keras, menjadi kunci sukses Syaibani menjadi seorang pengusaha muda.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SYAIBANI dilahirkan dari keluarga cukup sederhana. Mencangkul, membajak, dan menjaga sawah menjadi rutinitas sehari-harinya saat kecil. Maklum, orang tuanya hanya seorang petani yang cuma punya sepetak kecil sawah. Jauh dari kehidupan mewah.
Pendidikan seakan menjawab semua masalah perekonomian Syaibani. Karena kegigihannya menempuh pendidikanlah, kini ia mampu menciptakan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Kehidupannya semasa masih berstatus murid SD, punya banyak cerita yang tidak bisa dilupa oleh Syaibani. Ia mengisahkan, dari segi makanan, yang biasa ia konsumsi tergolong memprihatinkan. Terkadang Syaibani dan keluarganya hanya memakan ubi. Bahkan menjadi santapan pokok pengganti nasi. Lebih parahnya lagi, saking kurangnya uang yang dimiliki, Syaibani hanya memakan ubi yang dicampur dengan garam.
Selain ubi, Syaibani juga biasa hanya makan nasi aking. Nasi hampir basi yang kemudian dikeringkan supaya bisa dimakan kembali esok harinya. “Saat SD memang masa yang sulit. Saat itu kondisi ekonomi keluarga sedang krisis-krisisnya,” kenang Syaibani.
Saat menginjak SMP pun seperti itu. Selain bertani, mengajar mengaji, dan beternak, Syaibani ternyata juga menyisihkan waktu luangnya sebagai buruh bangunan. Gaji dari buruh bangunan tersebut, dikatakan Syaibani, sangatlah sedikit.
Untuk setengah hari saja ia digaji hanya Rp1.250. Kalau ada waktu, kadang juga ia mengambil waktunya seharian supaya bisa mendapat gaji yang lebih besar, Rp2.500.
Walaupun saat itu dirasa beban kerja cukup berat, namun Syaibani tetap menjalaninya dengan ikhlas. Pernah suatu hari, karena seringnya mengangkat semen, Syaibani mengalami cidera di bahunya. Hal yang sangat menyedihkan baginya saat itu, karena cidera itu menyebabkannya sulit bekerja.
Apakah Syaibani menyerah dengan keadaan? Rupanya tidak. Ia justru semakin termotivasi untuk terus bersekolah demi mengubah kehidupan keluarganya.
Dengan susah payah sampai pada bangku kuliah, Syaibani mendapatkan banyak manfaat dari masa pendidikannya di STIBA.
Saat memasuki masa kuliah, Syaibani mulai belajar berbagai metode pengobatan alternatif.
Pertama yang ia pelajari adalah ilmu ruqyah. Saat itu ia dipertemukan oleh salah satu pengobat ternama dari Makassar, Hermanto Aziz. Belajar bersama orang yang sudah dia anggap guru sendiri itu selama kurang lebih satu tahun.
Saat itu Syaibani mulai juga mempelajari bekam, akupuntur, pengobatan herbal, dan berbagai terapi yang ada. Mulai saat itulah, Syaibani fokus untuk mendirikan usahanya.
Saat ini klinik milik Syaibani telah banyak dikenal. Syaibani mengatakan, sejauh ini ia tidak melakukan promosi secara gencar. “Selama ini pasien saya mengetahui klinik ini hanya dari mulut ke mulut. Banyak temannya yang sudah merasakan manfaat klinik ini, sehingga mereka saling menyarankan,” jelas Syaibani.
Pasien yang datang ke Therapy Holistic Qolbun Salim ini ternyata bukan hanya berasal dari Makassar. Syaibani menyebutkan, sebagian datang dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Termasuk beberapa kabupaten yang ada di kawasan Indonesia Timur. Pasien paling jauh berasal dari Sumatra.
“Untuk persentase, kurang lebih 50 persen pasien dari Makassar dan 50 persen pasien dari beberapa daerah lain,” kata Syaibani.
Bicara soal tarif yang dikenakan pada kliniknya, Syaibani mengatakan, tergantung dari jenis penyakit dan metode pengobatannya. Ia memisalkan, jika pengobatan ruqyah tidak ada sama sekali tarif. Hanya saja, jika ada yang menginfaq, baru ia terima.
Berbeda dengan metode pengobatan lain yang memang ia pasang tarif. Pengobatan herbal misalnya, tergantung dengan kondisi penyakitnya.
Contohnya penyakit asam urat atau kolesterol, jika diterapi herbal, biaya yang dikenakan dalam setengah bulan sebesar Rp300 ribu.
Berbeda dengan penyakit seperti tumor atau kanker. Tarifnya lebih tinggi. “Semua itu berdasarkan diagnosa dan ritme terapinya,” kata Syaibani.
Untuk bekam, Syaibani memasang tarif Rp100 ribu sekali bekam. Namun terkadang ia juga punya kebijakan sendiri terkait tarifnya. Misalkan ada pasien yang hanya punya uang Rp50 ribu, Syaibani bisa terima. Kadang juga ada pasien yang mau mengangsur pembayaran, Syaibani juga kadang menerima. Tergantung kondisi keuangan para pasiennya.
Syaibani saat ini sangat menikmati pekerjaannya. Ada Banyak manfaat yang diperoleh, baik bagi dirinya maupun orang lain. Terkadang ada pasiennya yang berobat memiliki kepribadian yang jauh dari tuntutan agama. Selain mengobati, Syaibani juga biasa memperbaiki pemikiran pasiennya dari segi mental untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhannya. Alhasil, banyak dari pasiennya yang bukan hanya sembuh dari penyakit, namun sisi religiusnya juga semakin baik.
Tak lupa pula Syaibani memberikan saran kepada para anak muda untuk lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan. “Islam mengajarkan kita untuk terus bekerja dan memberi. Jadi jangan berhenti berjuang, bagaimanapun kondisi kita,” kuncinya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top