Headline

Jadi Petani saat SMP, Kuli Bangunan Ketika Kuliah

DI MANA ada kemauan di situ ada jalan. Kalimat yang begitu memotivasi ini cocok untuk menggambarkan lakon hidup yang dijalani Syaibani Mujiono.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

JIKA pernah lewat di Jalan Perumnas Raya, Antang, ada satu klinik yang menarik di sana. Yaitu klinik pengobatan menggunakan bekam, ruqyah dan herbal. Satu-satunya klinik bekam di sana.
Pemiliknya adalah Syaibani Mujiono, seorang anak petani dari Lampung yang sukses berbisnis di Makassar. Syaibani menamai klinik tersebut Therapy Holistic Qolbun Salim. Jaraknya kurang lebih 500 meter dari gerbang Perumahan Nasional (Perumnas) Antang. Mudah dijangkau, karena letaknya tepat di poros jalan perumahan tersebut.
Sehari-harinya, Syaibani menerima pasien dari berbagai kalangan yang ingin melakukan pengobatan menggunakan bekam ataupun herbal. Tak jarang juga ada pasien yang ingin diruqyah atau sekadar hanya mau mendiagnosa penyakitnya. Dengan kemampuannya, banyak pasien yang merasa senang dengan keberadaan klinik tersebut.
Omzet yang kini mencapai Rp60 juta per bulannya bisa didapatkan Syaibani, tidak pernah ia duga sebelumnya. Apalagi jika melihat latar belakang keluarganya yang hanya sebagai petani kecil. Namun karena kegigihannya untuk terus maju, Syaibani berani untuk terus malanjutkan pendidikan. Walaupun dengan susah payah, akhirnya Syaibani berhasil menyelesaikan studinya dan sukses mendirikan usaha.
Syaibani tak segan menceritakan pengalamannya selama ini. Sewaktu tamat SD, ia sudah tidak tinggal dengan orang tua. Karena faktor ekonomi, ia akhirnya memutuskan untuk ikut bersama salah satu ustadz di kampungnya melanjutkan sekolah sekaligus belajar agama.
Banyak pekerjaan yang harus ia lakukan semasa SMP. Selain sebagai petani demi kehidupannya, Syaibani juga bekerja sebagai guru mengaji dan beternak. “Sejak kecil, saya memang selalu bekerja untuk tambah-tambah biaya hidup,” kata Syaibani.
Beda lagi cerita sewaktu SMA. Saat itu, Syaibani harus mengasah kemampuannya berdagang demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu yang dilakukannya saat itu adalah menjual madu.
Hasil dari penjualan madu ia gunakan untuk biaya sekolah sampai sewa kost. Karena pada saat SMA, Syaibani tidak lagi tinggal bersama ustadz yang membawanya sejak SMP.
Pendidikan yang ingin ia tempuh ternyata tidak hanya sampai di tingkat SMA. Syaibani pun ingin melanjukan pendidikan sampai perguruan tinggi.
Karena berbagai kendala dalam melanjutkan kuliah, salah satunya adalah biaya, Syaibani akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bersama rekannya. Di sana ia bergabung di salah satu pesantren untuk mengajar mengaji bagi santri.
Setelah hampir dua tahun di pesantren, Syaibani kemudian memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Dengan uang hasil dari mengajar di pesantren, akhirnya Syaibani berangkat ke Makassar untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA).
Alasan Syaibani untuk kuliah di STIBA saat itu adalah ilmu agama. “Saat itu saya mendapat informasi jika untuk belajar bahasa Arab dan ilmu Islam, konsep yang diterapkan di STIBA cukup bagus,” ujarnya.
Di masa awal kuliah, Syaibani mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Hal itulah yang sangat disyukurinya karena bisa melanjutkan kuliah. Namun pada semester berjalan, karena perubahan kebijakan kampus, beasiswa itupun dihapuskan.
Merasa sangat terbebani dengan kebijakan tersebut, Syaibani mendatangi beberapa ustadz di sana untuk mau memberikannya bantuan. “Alhamdulillah, beberapa ustadz mau memberi bantuan. Selain itu, mau tidak mau saya juga harus bekerja sebagai kuli bangunan,” kenang Syaibani.
Proses panjang yang dilaluinya untuk menempuh pendidikan ternyata tidak sia-sia. Saat kuliah di STIBA lah Syaibani mendapatkan banyak pelajaran tentang ilmu pengobatan menggunakan bekam, herbal, meruqyah, dan sebagainya. Dari situlah, awal mula berdirinya klinik milik Syaibani.
Sekarang, Syaibani telah memiliki tempat usaha sendiri. Ia pun bisa mempekerjakan lima orang pegawainya hingga saat ini. “Alhamdulillah, Allah selalu memberi jalan bagi kita yang mau berusaha,” ujarnya. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top