Berita Kota Makassar | Tetap Tabah Berjualan Meski Sepi Pembeli
Metro

Tetap Tabah Berjualan Meski Sepi Pembeli

SIANG KEMARIN, penulis menyempatkan berteduh di bawah pohon tepatnya di depan Kantor Pos Besar Jalan Slamet Riady, Makassar. Di tengah hujan gerimis, penulis menyempatkan memandangi para penjual kartu ucapan selamat.

Laporan: ARIF AL QADRY

De era penulis dulu, di tahun 1990 hingga tahun 2000, di lokasi itu bertumpuk orang mengantri memilih kartu ucapan selamat maupun para pecinta prangko. Mereka bahkan berebutan mencari kartu yang tercantik dan terunik di masa itu.
Bahkan ada yang lebih dulu memesan kepada penjual, untuk disimpan-kan hingga ratusan kartu. Ini biasa terjadi saat-saat menjelang Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, begitupun pada saat hari valentine dan ulang tahun.
Namun era sekarang, kartu ucapan mulai tersingkirkan dan hanya bisa menjadi kenangan bagi para pecintanya. Bahkan era handphone dan teknologi informasi (IT) sedikit demi sedikit menyingkirkan keberadaan kartu ucapan selamat tersebut.
Ironisnya lagi, teknologi telah mengubah gaya hidup warga. Dulu memang sebelum era dunia maya dan era handphone menjadi bagian dari gaya hidup, tumpuan komunikasi antar warga sepenuhnya tergantung kepada layanan kantor pos. Kehadiran Pak Pos yang mengantar kartu ucapan selamat lebaran menjadi sangat langka. Kini, orang lebih simpel mengucapkan selamat lewat Sourt Message Sistem (SMS), Blackberry Masengger (BBM).
Berubahnya era kartu ucapan ke ucapan melalui handphone juga dirasakan oleh H Bau Raja (58) tahun, penjual kartu ucapan dan prangko di depan Kantor Pos Slamet Riyadi.
Menurut Bau Raja, sudah 37 tahun lamanya berjualan prangko dan kartu ucapan. Meski sudah dilupakan, dia sama sekali tidak bosan untuk menjual.
Alasan wanita kelahiran Selayar 2 Maret 1958 itu, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakoninya selain berjualan prangko. Berjualan prangko, kata dia, untuk tetap bertahan bertahan hidup dan tetap melanjutkan usaha peninggalan suaminya Andi Mangellai yang telah meninggal beberapa tahun lalu di usianya yang ke 60 tahun.
“Saya memang merasakan, semenjak ada handphone, warung prangko dan kartu ucapan mulai sepi. Jadi saya juga memilih untuk ikut menjual barang campuran seperti minuman dingin supaya pendapatan tetap lancar. Apalagi, dalam sehari kadang sama sekali tidak mendapat pembeli dari kartu ucapan ataupun prangko,” ujarnya.
H Bau juga menceritakan, kalau dulu kedatangan kartu ucapan lebaran berarti menambah koleksi perangko para penggemar filateli. Tapi sekarang tidak lagi. Termasuk menghilangkan pendapatan penjual sedikit demi sedikit. (arf)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top