Metro

Pernah Jadi Kuli dan Terjatuh Dari Bangunan

SEORANG pemuda tampak sibuk membersihkan altar tempat persembahan di Kelenteng Kwang Kong. Mustari, begitu nama lengkapnya, merupakan warga pribumi yang mencoba mengais rezeki pada tempat peribadatan yang berada di Jalan Sulawesi, Makassar.

Pemuda berusia 30 tahun ini adalah seorang petugas kebersihan di kelenteng itu. Satu di antara sejumlah warga pribumi yang menggantungkan hidupnya di sana. Mustari yang sudah tujuh tahun bekerja di kelenteng tersebut, mengaku memang dirinyalah yang meminta pekerjaan.
“Dulu saya sempat bekerja sebagai kuli bangunan namun keluar. Saya keluar setelah sempat terjatuh dari bangunan lantai 3,” katanya, saat ditemui penulis, kemarin.
Dia bersama teman-temannya termasuk warga Tionghoa bersihkan setiap hari kleteng yang ramai didatangi warga Tionghoa untuk beribadah. Pekerjaannya pun semakin berat, tatkala ada perayaan yang dilakukan di klenteng, seperti halnya imlek.
Sebagai tukang bersih-bersih, dirinya pun harus selalu mengkondisikan tempat agar selalu bersih. Ini dilakukan agar warga Tiong Hoa dapat nyaman beribadah. “Saya disini sudah 7 tahun,” Kata pria yang mengaku masih bujang itu.
Di depan penulis, Mustari mengaku, pekerjaan yang dia lakoni sangat cocok karena resiko keselamatan tidak terlalu berbahaya dibanding saat dirinya masih menjadi kuli bangunan. Setiap hari, dirinya bekerja mulai dari pukul 07.00 Wita pagi hingga pukul 17.00 Wita sore.
Selama dia bekerja, banyak suka duka yang dia alami. sukanya karna menambah jaringan orang tionghoa dan dukanya banyak tekanan pekerjaan yang harus dilalui. “Banyak tong suka dulunya kerja disini,” ucapnya.
Soal penghasilan, pria yang berdomisili di Jalan Abubakar Lambogo itu menceritakan jika dirinya sangat bersyukur atas pekerjaaan yang dilakoni bersama dengan enam orang rekan-rekannya.
Walaupun tidak menentu, namun cukup membuat dirinya bangga bisa hidup mandiri. Dalam sehari terkadang dirinya hanya mendapat jatah makan saja ketika tidak ada kegiatan keagamaan. Namun jika ada kegiatan seperti hari raya Imlek maka dirinya mampu menghasilkan Rp300 ribu perhari. “Kalau penghasilan tidak menentu, kadang jatah makan ji kita dapat. Tapi kalau ada kegiatan biasa saya dapat Rp300 ribu,” tambahnya. (*)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top