Headline

Iksan Target Jeneponto Jadi Sumber Cahaya di Sulsel

BKM/KR KULLE H Iksan Iskandar

JIKA menyebut Kabupaten Jeneponto, biasanya terbersit di pikiran kita tentang sebuah wilayah yang tandus dan gersang. Daerah ini juga terkenal sebagai penghasil garam. Masih seperti itukah Butta Turatea saat ini?

Laporan: Patahuddin Kr Kulle

JENEPONTO memiliki luas wilayah 74.979 hektare. Terdiri dari 11 kecamatan, 113 desa dengan penduduk 351.100 jiwa.
Daerah ini memiliki tiga karakter wilayah. Masing-masing dataran tinggi, dataran rendah dan pesisir.
Wilayah dataran tinggi menjadi penghasil tanaman kopi, coklat cengkeh dan sayur mayur. Tidak kurang dari 20 mobil setiap harinya, baik truk maupun pick up menyuplai beras, jagung, gaplek dan palawija ke Kota Makassar serta Kalimantan.
Sementara wilayah pesisir menghasilkan rumput laut dan garam. Bahkan merupakan yang terbesar di Sulawesi Selatan.
”Dengan fakta yang ada saat ini, tidak ada lagi alasan untuk menyebut Jeneponto sebagai daerah tertinggal,” kata Bupati Jeneponto, H Iksan Iskandar saat memimpin kerja bakti dan bersih-bersih di halaman kantornya, Selasa (10/1).
Lebih jauh mantan sekkab Jeneponto ini memaparkan uraiannya. Ia menyebut, daerah yang dipimpinnya mempunyai kawasan pengembangan agropolitan. Seperti yang terdapat di Kecamatan Rumbia dan Kelara.
Ada pula kawasan agrominapolitan dan kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Bintaru di Kecamatan Binamu, Batang dan Arungkeke. Sedangkan kawasan agropolitan berbasis pondok pesentren terletak di Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Turatea dan Arungkeke.
Tiga kawasan lainnya adalah kawasan industri pariwisata dan perikanan terpadu, serta kawasan Bendungan Kelara, Kareloe.
”Kita sengaja mengembangkan kawasan ini dengan tujuan untuk mengurangi arus perpindahan penduduk ke kota. Juga meningkatkan daya tarik daerah, sehingga perekonomian desa bisa semakin berkembang. Pada gilirannya kesejahteraan masyarakat kian meningkat,” jelas Iksan.
Pemerintah Kabupaten Jeneponto saat ini masih terus memacu program pembangunan, agar dapat setara dengan daerah lain di Sulsel. Bekerja sama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pemerintah setempat memberi perhatian khusus dalam upaya pengembangan daerah melalui sentuhan teknologi. Dengan begitu, proses pembangunan dapat berjalan lebih cepat.
Saat ini juga, di Kabupaten Jeneponto terdapat PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Bosowa Energy dan PLN Punagayya di Bangkala. Mesin pembangkit listrik ini bisa menghasilkan 2.000 MW.
”Yang patut kita syukuri, karena menurut hasil survei, angin di Jeneponto merupakan yang terbaik di dunia. Karena itu, sudah ada tiga perusahaan asing dari Amerika, Belanda dan Jerman yang membangun PLTB di kawasan Bintaru. Semuanya sudah mendapat izin prinsip. Kalau ini terlaksana, maka Jeneponto akan menjadi sumber cahaya di Sulsel. Sekaligus bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tandasnya.
Akselerasi pembangunan yang terus dipacu saat ini, kata Iksan, telah diakui oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Bahkan, Jeneponto telah mendapat 30 penghargaan selama kurun waktu tiga tahun kepemimpinan Iksan di daerah ini.
Penyelenggaraan pendidikan juga terus digenjot. Tujuannya untuk mendorong indeks pembangunan manusia (IPM). Pembangunan infrastruktur sekolah dilakukan secara intens, agar tidak ada lagi anak yang putus sekolah
Pelayanan publik juga dipacu untuk lebih transparan dan akuntabel. Dengan begitu, masyarakat akan mudah mendapat pelayanan.
Dinas Penanaman Modal PTSP telah memberi pelayanan prima, agar masyarakat bisa dengan mudah memperoleh izin usaha dan kebutuhan terkait lainnya.
Demikian juga sektor kesehatan. Jeneponto di tahun 2015 telah keluar dari persoalan kesehatan. Salah satunya ditunjang oleh Brigade 115, yang setia melayani dan menjemput orang sakit dari rumah untuk dibawa ke rumah sakit.
Soal infrastruktur jalan kabupaten yang panjangnya 700 km, sudah rampung dalam keadaan baik 65 persen. Di tahun 2017 ini ditargetkan rampung 95 persen.
Dengan perbaikan ini, roda perekonomian masyarakat akan semakin lancar. Hasil bumi bisa dengan mudah dipasarkan. Juga mendekatkan wilayah produksi dengan konsumen.
Pemerintahan desa juga menjadi perhatian utama. Apalagi dengan adanya anggaran yang cukup besar melalui program ADD (Alokasi Dana Desa) dari pemerintah pusat. Anggaran tersebut untuk membiayai program-program pemberdayaan masyarakat. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top