Headline

Gagal Kuliah di Unhas Gegara Sakit Mata

MENJADI orang tua yang sukses ternyata tidak cukup dengan hanya memiliki kemampuan mendidik saja. Pak Haji misalnya. Dengan kesuksesan anak-anaknya kini, ia merasakan betul bagaimana mengubah mindset berpikir orang agar kelak bisa sukses.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PAK HAJI bukanlah dari kalangan orang yang berada. Kehidupan masa kecil di sekolahnya dihabiskan untuk bekerja membantu orang tuanya. Hal ini juga yang mendorong Pak Haji untuk lebih berkembang lagi.
Ayahnya adalah seorang petani. Buta huruf pula. Setiap pulang sekolah, Pak Haji tak lupa ke sawah untuk membantu ayahnya mencangkul. Saat bulan Ramadhan tiba pun, dirinya tetap mengolah tanah. Kebiasaan ini terus dilakukan sampai ia menamatkan sekolahnya.
Apakah kondisi seperti itu terus dipertahankan oleh Pak Haji? Jelas saja tidak. Setiap harinya, saat di sekolah, ia selalu memikirkan masa depannya. Mau menjadi orang yang sama di masa depan. Atau orang yang lebih berkembang dari segi manapun.
Pola berpikir seperti itulah yang selalu tertanam dalam pikiran Pak Haji demi meraih kesuksesan. Hal ini pulalah yang menjadi dasar caranya mendidik anak-anaknya. “Saya tidak pernah menyerah untuk hidup,” kata Pak Haji lantang.
Pak Haji merasa bahwa salah satu hal yang dapat mengubah hidupnya adalah melalui pendidikan. Makanya, yang namanya pendidikan, selalu diutamakan olehnya. Entah itu bagi dirinya sendiri ataupun untuk anak-anaknya.
Setelah menyelesaikan masa sekolahnya di kampung halamannya, Pinrang, Pak Haji berniat melanjutkan pendidikannya di Makassar. Pak Haji beranggapan bahwa ini merupakan jalan agar keluarganya kelak bisa memperbaiki kualitas hidupnya.
Karena pendidikan di Makassar dianggap lebih baik daripada di kampung halamannya. Akhirnya, walaupun dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, orang tua Pak Haji mendukung keinginan anaknya tersebut.
Pada awalnya, Pak Haji melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas). Namun sayang, karena penyakit mata yang dideritanya saat itu, Pak Haji tidak melanjutkan pendidikannya di kampus merah tersebut. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat disesali Pak Haji ketika itu.
Namun kegigihannya untuk kuliah selalu tetap ada. Gagal kuliah di Unhas, Pak Haji akhirnya masuk di Universitas Negeri Makassar (UNM). Disinilah awal mula perjuangan Pah Haji menjadi lebih baik dimulai.
Tidak memiliki biaya yang cukup untuk tinggal di Makassar, beberapa upaya dilakukan oleh Pak Haji. Mencari rumah keluarganya yang ada di Makassar sampai beberapa kali numpang di rumah temannya, menjadi upaya yang bisa dilakukan.
Saat libur kuliah tiba, Pak Haji tak lupa pulang kampung untuk membantu lagi orang tuanya mencangkul. Setiap pulang kampung, Pak Haji selalu menumpang truk yang lewat menuju kampungnya secara gratis. Walaupun harus berhadapan dengan risiko yang ada, namun inilah kondisi yang harus dijalani Pak Haji dulu.
Lama menjalani kuliah, Pak Haji mulai merasa kasihan dengan kondisi orang tuanya yang susah payah membiayai kuliahnya. Dengan perasaan seperti itu, Pak Haji berinisiatif untuk membantu orang tuanya dengan menjadi staf pengajar di salah satu sekolah.
“Ada lah gajinya. Setidaknya bisa membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” kata Pak Haji.
Disamping kuliah dan mengajar, Pak Haji juga menyelesaikan tugas akhirnya. Saat itu, dikatakan Pak Haji, adalah masa dimana ia harus berjuang hidup. Dengan pola pikir yang terus dia pertahankan, Pak Haji yakin kehidupan akan berputar.
Setelah selesai kuliah, Pak Haji fokus pada pekerjaannya mengajar. Sampai pada akhirnya dia diangkat sebagai wakil kepala sekolah. Hal yang menjadi kesyukuran tersendiri atas kegigihannya mengubah kehidupan keluarga.
Sepertinya, kehidupan ekonomi Pak Haji terus mengalami peningkatan. Setelah menjadi guru, diapun dipercaya menjadi dosen di UNM.
Pak Haji benar-benar mengambil hikmah dari semua yang sudah ia korbankan. Bagaimana harus berjuang dengan kehidupan. Sampai yang paling sulit adalah mengubah mindset untuk menjadi sukses dengan caranya. Pola inilah yang diterapkan kepada anak-anaknya sampai mereka meraih sukses melampaui dirinya.
Tak lupa Pak Haji memberikan kiat-kiat agar sukses mendidik anak. “Orang tua hendaknya menempatkan anak-anaknya pada sekolah yang baik. Lengkapi buku-bukunya sebagai bahan pelajaran. Beri mereka bimbingan di rumah. Jangan dibiarkan begitu saja,” saran Pak Haji.
Pak Haji juga menambahkan, memantau dan mengikuti perkembangan anak menjadi sangat penting. “Saat penerimaan raport misalnya. Hendaknya orang tua rutin menanyakan bagaimana perkembangan anaknya kepada wali kelas. Hal itu bisa menjadi bahan evaluasi pola mendidik anak,” tutup Pak Haji. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top