Pinjam Rp75 Ribu untuk Kuliah – Berita Kota Makassar
Headline

Pinjam Rp75 Ribu untuk Kuliah

TAK pernah ada satu pun orang yang bisa memprediksi seperti apa perjalanan hidupnya kelak. Jalani saja. Jika Tuhan menghendaki, semua akan indah pada waktunya.

Laporan: Arif Situju

HERMAN HEIZER lahir di Desa Sungai Raya, Kecamatan Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Masa kecil ia habiskan hari-hari dengan bertani. Membantu orang tua membuka lahan hutan untuk dijadikan areal pertanian dan perkebunan kelapa.
Terlahir 7 Juni 1979, Herman menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Sungai Raya Jambi. Ketika itu datang seorang hadir seorang penceramah di sekolahnya. Isi ceramah sang ustas menjadi inspirasi bagi Herman untuk bersekolah di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Daerah penghasil sutera ini merupakan tanah leluhur Herman.
Dia kemudian masuk Madrasah Tsanawiah (MTs) As’adiyah, Sengkang. Lalu melanjutkan ke Madrasah Aliah (MA) As’adiyah. Di tahun keenam, Herman pindah ke Madrasah Aliah Negeri (MAN) 2 Watampone.
Perjuangan hidup mulai dirasakan Herman setelah tamat MAN 2 Watampone. Apalagi ia punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta akhirnya menjadi pilihan. Kisah ‘pahit’ pun dimulai.
Ketika itu, Herman terpaksa meminjam uang Rp75 ribu kepada Husain Naco, kepala sekolah MAN 2 ketika itu. Uang tersebut digunakan sebagai biaya kapal laut berangkat ke Jakarta.
”Jadi saya berangkat ke Jakarta naik kapal laut dengan uang pinjaman dari kepala MAN 2 Watampone, Pak Husain Naco waktu itu,” jelas Herman Heizer.
Di Jakarta, putra pasangan H Sinring dan Hj Hasi ini bekerja sebagai loper koran. Termasuk angkat-angkat piring jika ada acara pernikahan di sebuah gedung. Juga terkadang menjadi badut serta volunter (sukarelawan) pada lembaga swadaya.
Di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Herman juga kuliah rangkap pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Selanjutnya kuliah pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar.
Dalam perjalanannya, tahun 2003 ada sebuah lembaga, yakni Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dibentuk Syaiful Mudjani mengajaknya untuk membantu-bantu. “Saya akhirnya dipercaya sebagai koordinator wilayah untuk Sulsel, Sulbar dan Sultra. Tak lama kemudian saya dikasih juga untuk mengkoordinir Maluku, dan Maluku Utara,” ujar Herman.
Tahun 2008, tepatnya 24 Agustus, Herman mempersunting Syamsiyah. Pasangan ini telah dikaruniai tiga orang putri masing-masing Alicia Fatimah Hezer, Nunia Satria Heizer dan Hana Ghania Heizer.
Tahun 2011 Herman mulai berinteraksi dengan senior di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Seperti Amirullah Nur, dan Andry S Arief Bulu. Keduanya lalu mengajak Herman untuk bergabung di BPC HIPMI Makassar. Tak lama setelah itu, keduanya menyarakan Herman mendirikan lembaga riset sendiri. “Saya kemudian ke Jakarta untuk pamit lalu mendirikan lembaga Celebes Recearch Center (CRC) akhir tahun 2011. Semuanya tentu berkat dorongan dan support dari senior HIPMI di Makassar,” ujar Herman.
Setelah jalan tiga tahun, CRC sudah dapat membangun kantor sendiri berlantai dua dengan luas 24×18 meter. Sejak mengendalikan CRC, Herman telah mendampingi 20 pasangan kepala daerah.
Tak hanya itu, berbagai respon pimpinan partai politik kepada Herman terus bermunculan. “Respons pimpinan parpol sangat baik. Saya merasa CRC sebagai lembaga yang dipercaya publik, karena hasil survei dan hitung cepat tak jauh beda dengan rekap KPU,” jelasnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top