Metro

Danny Saksikan Kesedihan Warga Bugis di Bali

MAKASSAR, BKM– Hari terkahir kunjungan ke Denpasar Bali, Bagian Humas Pemerintah Kota Makassar menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Bugis yang berada di Desa Serangan, Denpasar Selatan Bali, Minggu (8/1) siang.
Kunjungan yang dipimpin langsung Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto itu, disambut dengan kesedihan dengan penuh harapan oleh seluruh warga Bugis yang menjadi korban penggusuran 3 Januari 2017, belum lama ini.
Wali kota yang datang ke Kampung Bugis, Desa Serangan mengenakan kemeja berwarna biru langit itu datang bersama Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bali, Zaenal Tayyeb dan Sekretaris Dewan Kehormatan PMI Bali, Haji Bambang.
Di bawah tenda di dalam Makam Syaikh H Mukmin Bin Hasanuddin, Danny sapaan akrab wali kota berdialog bersama tokoh masyarakat Bugis. Sesekali warga yang bercerita tak dapat menahan rasa sedih hingga mengucurkan air mata saat menceritakan ikhwal penggusuran di Kampung Bugis yang memiliki cukup banyak cagar budaya seperti rumah adat Bugis Makassar dan Masjid AS Syuhada yang hanya saling berhadapan.
“Dalam waktu dekat, saya akan melaporkan hal ini ke Gubernur Sulawesi Selatan untuk mencari solusi dari permasalahan ini,” kata Danny.
Danny mengharapkan, masalah yang terjadi di Desa Serang tidak menjadi isu hangat di Indonesia. Sehingga masalah ini dapat diselesaikan secara hukum bukan dengan cara yang lain yang dapat memecahkan kebersamaan.
“Masalah ini bukan masalah etnik Bugis dan Bali. Orang Bali saudara kita, dan Bugis adalah kita. Tidak ada penderitaan yang tiada akhirnya. Pasti pemerintah kota juga berusaha untuk membantu,” jelasnya.
Menurutnya, persoalan di kampung Bugis di Bali merupakan persoalan teknis yang dimana dirinya tentu tidak dapat ikut campur didalamnya. Meski demikian, pemerintah kota berjanji tidak hanya tinggal diam dan tetap akan memberikan bantuan kemanusiaan. “Kami turun memberikan bantuan kemanusiaan bukan dengan konteks politik,” sebutnya.
Sebelumnya Usman, salah seorang warga di Kampung Bugis yang menjadi korban penggusuran menceritakan, sejak lahir di tahun 1972 dirinya telah tinggal di Kampung Bugis, Desa Serangan, Denpasar Selatan Bali. Dimana rumah yang dia tempati merupakan warisan dari neneknya yang memiliki sertifikat.
Namun di awal 2017, dia bersama 170 warga sama sekali tidak menyangka rumah yang selama berpuluh-puluh tahun dia tempati diratakan dengan tanah oleh pemerintah melalui aparat penegak hukum tanpa ada pemberitahuan setelah sebelumnya mendapat surat edaran pengosongan yang dikeluarkan pemerintah.
Sementara itu, Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bali, Zaenal Tayyeb mengatakan, sejauh ini dirinya masih terus mengkoordinasikan kepada pemerintah Bali agar warga Bugis yang menjadi warga Bali kembali mendapatkan haknya. “Mereka sudah tinggal ratusan tahun di Bali. Dimana orang Bugis bertempat tinggal di Pulau atau Desa Serang setelah mendapat pemberian dari Raja Bali dulunya. Bahkan mereka memiliki PBB dan sertifikat,” bebernya. (arf)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top