Sosiolog: Meski Berpisah, Tetaplah Pantau Anak – Berita Kota Makassar
Headline

Sosiolog: Meski Berpisah, Tetaplah Pantau Anak

PERNIKAHAN sejatinya membawa kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Tak ada satu anak pun di dunia ini yang menginginkan orang tua mereka bercerai. Karena bukan tidak mungkin, banyak anak-anak yang menjadi korban dari perceraian kedua orang tua mereka.
Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Suparman,MSi menilai, perilaku anak akan berubah ketika kondisi dalam rumah tidak senyaman dan harmonis lagi. Belum lagi paradigma berpikir individu terhadap esensi sebuah pernikahan.
Menjadi seorang single parent, baik ibu ataupun ayah, pasti memiliki serangkaian masalah. Yang perlu dijaga adalah nilai pertukaran.
“Nilai pertukaran yang dimaksud adalah saling memahami perbedaan satu sama lain dan tetap kompak dalam keluarga. Kenapa anak berubah karena faktor keluarga? Jangan salahkan tindakan anak. Sebab perubahan anak itu terjadi akibat kurangnya kasih sayang. Tidak adanya bentuk kepedulian lagi. Tergantung cara orang tua membesarkan seorang anak. Apalagi hanya dibesarkan dari orang tua tunggal. Malah sampai tidak ada yang urus, maka semakin hancurlah anak ini,” ujarnya, kemarin.
Ketua Program Studi Ilmu Sosiologi Pascasarjana Unhas ini menerangkan, bahwa anak yang orangtuanya berpisah atau bercerai, secara mental akan terpengaruh. Mereka tidak siap jika harus tinggal dengan ayah atau ibunya saja. Hal ini tentu berakibat pada perubahan perilaku anak akibat pertengkaran yang mereka lihat.
“Bukan hanya orang tua yang menanggung beban atas perceraian tersebut. Dampak dari perceraian orang tua yang paling terasa itu pada anak. Anak tidak hanya merasakan dampak psikologisnya, tapi juga sosialnya. Termasuk kepada teman-teman dan lingkungannya. Begitupun kesehatan,” terangnya.
Remaja yang menyaksikan orang tua mereka bercerai, cenderung akan menderita berbagai masalah sosila. Seperti diejek oleh teman-temannya. Ketika berkelahi tidak ada yang peduli. Anak juga akan semakin kurang bersosialisasi dan tidak ada gairah hidup.
Dari segi kesehatan, diantaranya sering sakit kepala. Terganggunya kualitas tidur, tertekan, pusing, serta hilangnya nafsu makan.
“Semua membutuhkan kekuatan hati dan daya juang yang tinggi. Termasuk mengikis perasaan dendam kepada kedua orang tuanya. Belum lagi setelah salah satu orang tuanya menikah lagi. Maka semakin bertambahlah beban seorang anak. Perceraian orang tua juga dapat meningkatkan risiko psikosomatik pada anak,” bebernya.
Psikosomatik adalah gangguan jiwa yang berpotensi pada penyakit fisik, yang akibatnya akan merusak kejiwaan anak dan tanpa ragu-ragu akan berbuat sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Seperti mencuri, berkelahi, memakai barang-barang haram hingga membunuh seseorang.
“Semua itu dapat terjadi. Jadi saya harap pernikahan yang berujung perceraian jangan sampai menjadikan anak sebagai korbannya. Ada beberapa solusi yang bisa diambil dilakukan. Seperti saling menghargai dan menjaga keharmonisan, walaupun sudah berpisah. Tetaplah pantau kondisi sang anak,” kuncinya. (ita/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top