Headline

Dosen yang Bangun Desa dengan Filosofi Air

BKM/FIRDAUS Sakmawati Rahman

KELUAR dari zona nyaman lalu beralih ke profesi yang lebih menantang. Tentu tidak semua perempuan bisa melakukannya. Tapi Sakmawati Rahman mampu untuk itu.

Laporan: Firdaus

SAKMAWATI merupakan seorang wanita pada umumnya. Punya suami dan tiga orang anak. Ia lahir di Desa Rompegading, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng 13 Desember 1970.
Tak pernah terbersit di benaknya kelak ia akan menjadi pemimpin di tanah kelahirannya. Sebab, Sakmawati punya cita-cita ingin menjadi seorang dosen di almamaternya, Universitas Hasanuddin, Makassar. Apalagi saat duduk di bangku kuliah, ia termasuk salah satu mahasiswa berprestasi.
Gayung pun bersambut. Jebolan Fakultas Sastra Unhas ini kemudian mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Soppeng. Saat itu ia baru saja menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1995. Hingga sekarang masih tercatat sebagai dosen luar biasa (LB).
Lebih kurang 10 tahun bergelut di dunia kampus, perjalanan karir perempuan berjilbab ini berubah drastis. Di tahun 2015 ia mendapat amanah yang cukup besar. Menjadi Kepala Desa Rompegading. Ia menduduki posisi yang ditinggalkan suaminya, Ma’wa yang telah berakhir periode kepemimpinannya.
Disadari betul oleh Sakmawati, bahwa menjadi seorang kepala desa bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi di tengah tuntutan dan keinginan masyarakat yang sangat kompleks dan beragam. Menjadi tanggung jawabnya untuk menjawab segala tuntutan tersebut. Apalagi seorang kepala desa dipilih secara langsung oleh masyarakatnya.
Lalu apa yang menjadi modal Sakmawati dalam memimpin raktyatya? ”Semangat. Itu modal utama saya dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan,” ujarnya.
Ia berprinsip bahwa tidak ada persoalan yang tak bisa diatasi, sepanjang dilakoni dengan penuh keikhlasan dan bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Termasuk memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal di daerahnya, seperti adat istiadat.
Hal itu penting, karena Rompegading merupakan desa di Kabupaten Soppeng yang cukup kental dengan nuansa religiusnya. Di wilayah ini terdapat sebuah pesantren yang tergolong besar.
Desa Rompegading termasuk cikal bakal pemerintahan Soppeng. Dalam sejarah, desa ini sudah lama ada. Bahkan saat ini sama statusnya dengan kecamatan, yakni Distrik Pattojo di bawah pemerintahan Arung Pattojo.
Sampai sekarang aromanya masih terasa. Jejak-jejak peninggalan sejarah masih terlihat. Soraja Pattojo masih berdiri kokoh di Desa Rompegading.
Filosofi mengalir seperti air juga menjadi pegangan Sakmawati dalam memimpin desa. Belum ada hambatan berarti yang ditemuinya dalam membangun desa.
Apalagi dia menerapkan falsafah Bugis kuno. Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata. Artinya kurang lebih; hanya dengan kerja keras, sunguh-sungguh dan tak mudah menyerah yang akan mudah mendapatkan ridha dari Allah SWT. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top