Headline

Sopir Bus Temukan Perbedaan di Sepanjang Jalan

EFEK media sosial memang sangat luar biasa. Karena melalui medsos, kebiasaan seseorang pada suatu daerah bisa diketahui oleh orang lain di luar daerah tersebut. Sama halnya dengan fenomena Om Telolet Om.

Laporan: Nugroho Nafika

OM TELOLET OM yang tadinya hanya keisengan anak-anak di Jepara, kini telah diketahui sampai ke berbagai penjuru dunia. Bukan hanya dari kalangan anak-anak. Ternyata beberapa mahasiswa, bahkan orang dewasa diketahui ikut-ikutan pula memburu telolet.
Bukan juga sekadar para pemburu. Ternyata para sopir bus juga tak mau kalah mengikuti tren ini.
Efek media sosial inilah yang mewabah ke beberapa sopir dan pengelola bus di Makassar. Sebut saja Juni Lenang. Lelaki kelahiran Makassar yang biasa dipangil Juni ini merupakan pengelola salah satu perusahaan bus di Makassar, Manggala Trans. Juni mengaku mengetahui fenomena Om Telolet Om dari Youtube.
Sejak hebohnya fenomena tersebut, tak jarang ia mendapati segerombolan anak yang meminta telolet di pinggir jalan. Bahkan ia mengatakan sering juga ada anak-anak yang meminta telolet di depan perwakilan Manggala Trans, tepatnya di Jalan Nusa Tamalanrea Indah.
“Di setiap jalan itu selalu ada. Apalagi di Sudiang. Bahkan biasa di depan sini (perwakilan),” kata Juni.
Ternyata bukan hanya di Makassar saja fenomena ini ada. Cerita dari para sopirnya, Juni mengatakan, mereka selalu menemui fenomena ini hampir di setiap daerah. “Hampir setiap daerah. Paling banyak biasa di Enrekang,” lanjut Juni.
Manggala Trans sendiri adalah Perusahaan Otobus (PO) yang melayani perjalanan dari Makassar ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Tujuan yang dilayani Manggala Trans adalah Kota Palopo, Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, sampai Mamuju. Di setiap perjalanan ke daerah tersebut, selalu saja ada anak-anak yang meminta telolet.
Juni mengklaim, klakson telolet yang ada pada bus Manggala Trans murni keluaran show room. Bukan klakson yang sengaja dipasang demi kepentingan fenomena Om Telolet Om.
“Jadi ini bus baru. Semua yang ada klakson teloletnya langsung dari show room. Bukan kita sendiri yang pasang. Kebetulan sekali juga bus ini mengikuti tren telolet,” ujar Juni sambil tertawa.
Mengenai fenomena telolet, Juni mengaku jika sebenarnya itu bisa membahayakan. Dia menilai, hal tersebut memang membuat anak-anak merasa senang. Namun di sisi lain itu bisa sangat mengganggu.
Juni mencontohkan, jika klakson tersebut bisa membuat kaget pengendara lain. Misalnya pengendara motor. Mereka bisa saja kehilangan kestabilannya saat berkendara jika kaget. Hal itu dianggap rawan terjadi kecelakaan.
Karena itu, Juni selalu mengimabu kepada para sopirnya untuk tidak sembarangan membunyikan klakson telolet. Ia menyarankan jika klakson tersebut harus digunakan sebagaimana mestinya saja. Seperti saat akan menyalip kendaraan lain atau saat macet.
Selain Juni, fenomena Om Telolet Om juga dirasakan Aksel. Dia sopir PO Bintang Prima. Bintang Prima sendiri adalah perusahaan yang sama dengan Manggala Trans. Daerah tujuan pun sama.
Pria kelahiran Tana Toraja ini menjadi sopir Bintang Prima dengan bus tujuan Tana Toraja. Selama fenomena Om Telolet Om menjadi viral di beberapa media sosial, Aksel selalu mendapati hal yang berbeda dari biasanya. Sekarang, hampir setiap tempat di perjalanannya saat bertugas ia mendapati anak-anak yang meminta telolet.
“Sudah empat tahun saya jadi sopir di sini. Dalam beberapa minggu ini bedaki memang. Banyak sekali anak-anak yang minta telolet,” jelas Aksel.
Berbeda dengan Manggala Trans, beberapa bus di Bintang Prima memang sengaja memasang telolet di busnya. Aksel yang sebenarnya tidak memasang telolet, akhirnya tertarik juga mengikuti fenomena yang ada. “Baru ini kupasang, karena teloletmi,” katanya.
Aksel mengatakan, beberapa bus di Bintang Prima sengaja dipasangkan telolet. Klakson yang dipasangpun berbeda-beda. Ada yang hanya dua terompet. Ada juga yang sampai enam terompet. Semua itu sesuai selera para sopir.
Pengadaan klakson tersebut pun tidak main-main. Untuk dua terompet seperti yang dipasang pada bus Aksel saja, biayanya bisa mencapai Rp1,5 juta. Klakson seperti inipun harus dipesan secara langsung dari daerah Jawa.
Walaupun diperadakan dengan biaya yang tidak murah, klakson telolet inipun juga tidak berdampak bagi kuantitas penumpang Aksel. Aksel mengaku jika diukur dari banyaknya penumpang, memakai telolet ataupun tidak, jumlah penumpangnya sama saja seperti hari biasa.
Berdasarkan pengalaman Aksel, fenomena Om Telolet Om ini memiliki sisi positif bagi dirinya. Aksel mengatakan, selama ada anak-anak yang sering meminta telolet, bus yang dikemudikannya selalu terhindar dari aksi kejahatan.
“Dulu itu, biasaki dilempari batu busku di jalan. Apalagi kalau malam. Sekarang, sejak ada anak-anak minta telolet, ndak pernahmi ada,” jelas Aksel.
Walaupun dengan sengaja memasang telolet dan berdampak positif bagi dirinya, namun Aksel tetap tidak sembarangan membunyikan telolet. Ia menganggap telolet juga memiliki sisi yang membahayakan bagi pengendara lain. Jadi, ia hanya akan memberikan telolet kepada anak-anak jika kondisi sekitarnya sepi dan dianggap tidak mengganggu orang lain. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top