Headline

Anak-anak Setia Tunggu Bus dan Truk Hingga Malam

BKM/NUGROHO BERBURU TELOLET-Alim (berbaju merah celana pendek merah) bersama teman-temannya berburu telolet di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Selasa sore (27/12).

OM TELOLET OM sangat fenomenal akhir-akhir ini. Beberapa media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, bahkan Youtube tak henti manampilkan fenomena itu. Seperti apa populernya fenomena ini di Makassar?

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

OM TELOLET OM awalnya hanyalah sebuah keisengan segerombolan anak di Jepara, Jawa Timur. Anak-anak ini memburu bunyi klakson bus yang terdengar “telolet” dan merekamnya dengan telepon genggam. Jika ada supir bus yang membunyikan klaksonnya, segerombolan anak ini akan sumringah kegirangan.
Saat memburu telolet, anak-anak ini bergerombolan di pinggir jalan menunggu bus ataupun truk yang memiliki klakson unik itu. Ketika bus tiba, mereka mengacungkan jempol sambil berteriak; Om Telolet Om.
Sebagian dari mereka bahkan menuliskan Om Telolet Om pada secarik kertas supaya para supir dapat melihatnya. Setelah mendapat bunyi telolet, beberapa orang mempostingnya di berbagai media sosial. Hal ini diyakini menjadi sesuatu yang unik dan menarik.
Bukan hanya di Jepara, Om Telolet Om telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Bahkan dunia. Terhitung sudah ada beberapa musisi internasional seperti Zedd, Martin Gurrix, DJ Snake, Alesso, dan The Chainsmokers yang terjangkit “virus telolet”.
Mengikuti tren kekinian fenomena baru di media sosial, beberapa anak-anak di Makassar pun tidak kalah hebohnya. Salah satunya yang sering meminta telolet adalah Muhammad Alimuddin, atau biasa dipanggil Alim.
Anak berusia 12 tahun ini sering melakukan hal tersebut bersama rekan-rekan sebayanya di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan kantor Coca Cola Makassar. Maklum, di jalur ini sering melintas truk dan bus angkutan antarprovinsi yang memiliki klakson berbunyi telolet.
Hampir setiap hari, tiap sore sampai malam hari, Alim bersama rekannya setia berdiri di tepi jalan hanya ingin mendengar suara telolet dari bus maupun truk yang lewat. Di usia sebaya Alim pada zaman sekarang, hal ini menjadi sangat menarik. Kebanyakan anak-anak sebayanya yang biasa menghabiskan waktu dengan bermain gadget, Alim bisa bersenang-senang bersama teman-temannya dengan cara berbeda.
Ayah Alim yang hanya berprofesi sebagai buruh bangunan dan ibunya sebagai asisten rumah tangga, membuat kehidupannya jauh dari fasilitas modern seperti smartphone, laptop, dan sebagainya. Inilah mengapa Alim sangat menikmati memburu telolet.
“Senangja kurasa. Apalagi kalau bunyimi klaksonnya. Senang sekali maki,” kata Alim.
Tidak mudah juga ternyata mendapatkan sopir bus atau truk yang bersedia membunyikan teloletnya. Terkadang harus menunggu waktu-waktu tertentu.
Selain harus menunggu sampai malam hari karena kuantitas bus dan truk yang lewat lebih banyak, terkadang Alim harus menunggu sampai ada orang yang mau menyeberang jalan.
“Malampi itu biasa baru banyak. Terus kalau ada juga orang yang mau menyeberang. Begitupi baruki biasa dapat telolet,” jelas Alim.
Seorang warga yang tinggal dekat tempat Alim dan rekannya mencari telolet, Nasrullah mengaku cukup terhibur dengan adanya anak-anak tersebut. Namun tak jarang juga Nasrullah was-was dengan tingkah mereka.
“Jadi ramai kalau ada itu anak-anak. Tapi kadang takut-takutka liatki bus sama truk yang biasa lewat,” ujar Nasrullah.
Nasrullah dan warga lainnya tidak pernah melarang anak-anak itu. Mereka hanya mengingatkan kepada pemburu telolet tersebut untuk berhati-hati.
Hal yang sama juga diungkapkan warga Makassar lainnya, Ismi Ardianti. Ismi, sapaan akrabnya mengaku pernah melihat segerombolan anak meminta telolet di sekitaran Jalan Veteran. Saat itu ia sedang dalam perjalanan ke rumahnya di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo.
Ismi yang juga mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar (PGSD UNM) ini, mengatakan fenomena tersebut memiliki sisi positif dan negatif. “Itu kan sekadar lucu-lucuan. Sama seperti fenomena lainnya. Positifnya, bisa membuat anak-anak merasa senang. Negatifnya, ya karena di pinggir jalan, rawan terjadi kecelakaan,” jelas Ismi. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top