Politik 2017 Memanas, Tapi Belum Mendidih – Berita Kota Makassar
Headline

Politik 2017 Memanas, Tapi Belum Mendidih

MAKASSAR, BKM — Tahun 2017 tinggal menghitung hari. Di tahun yang akan segera kita masuki itu, suhu politik di Sulawesi Selatan diprediksi bakal semakin memanas.
Karena menjelang pemilihan gubernur (pilgub), yang rencananya dihelat 2018. Bersamaan dengan pemilihan wali kota (pilwali) serta pemilihan bupati (pilbup).
Para bakal calon (balon) gubernur dan wakil gubernur pun terus melakukan komunikasi. Baik dengan elit partai politik, para kepala daerah dan wakil kepala daerah. Termasuk tokoh masyarakat Sulsel, baik yang pernah memegang peranan penting di pemerintahan, maupun yang sedang mengendalikan sebuah organisasi.
Tak hanya itu. Elit partai politik juga sudah intens melakukan pendekatan dengan sejumlah tokoh untuk ikut bergabung. Hal ini menimbulkan kesan adanya aksi saling caplok kader dengan berbagai alasan dan pertimbangan.
Saat ini, Golkar Sulsel yang dikendalikan HAM Nurdin Halid (NH) sedikitnya telah menetapkan tujuh bupati sebagai ketua Golkar. Yakni Adnan Purichta Ichsan di Gowa. Andi Fashar Padjalangi di Bone. Burhanuddin Unru di Wajo.
Syamsuddin Hamid di Pangkep. Andi Kaswadi Razak di Soppeng. Iksan Iskandar di Jeneponto, dan Taufan Pawe di Parepare.
Golkar masih menunggu bergabungnya Bupati Luwu Timur Thoriq Husler, Bupati Enrekang Muslimin Bando, Bupati Selayar Basli Ali dan lainnya.
Tak hanya itu. Golkar juga kembali menarik sejumlah tokoh yang selama ini berada di barisan Partai Nasdem maupun Partai Gerindra. Padahal sebelumnya, Nasdem begitu getol mengajak kader Golkar dan Gerindra untuk hengkang. Kini, aksi tersebut berbalik.
Seperti yang dialami Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulsel, Ince Langke IA. Ia akhirnya mundur dari kepengurusan partai yang dipimpin Rusdi Masse di Sulsel itu.
Ince Langke yang pernah tercatat sebagai anggota DPRD Sulsel, sudah mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai wakil ketua DPW Nasdem Sulsel. Ia lebih memilih kembali bergabung ke Partai Golkar yang telah membesarkannya.
“Iya. Suratnya (surat pengunduran diri) sudah ada saya pegang,” ujar Ince Langke kepada BKM, kemarin.
Mantan ketua DPD II Golkar Selayar ini mengemukakan alasan dirinya meninggalkan partai bentukan Surya Paloh itu. Dia tidak bisa bekerja maksimal sebagai pengurus DPW Nasdem Sulsel, lantaran lebih banyak beraktifitas di Kabupaten Selayar.
“Iya dinda. Karena saya tidak bisa bekerja efektif jadi pengurus provinsi. Saya lebih banyak di Selayar. Karena saya berada di kabupaten (Selayar), tentu saya mungkin beraktifitas kembali di Golkar,” jelas mantan ketua DPRD Selayar ini.
Pindahnya Ince Langke ke Partai Golkar, dibenarkan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Selayar, HA Kadir Halid kemarin. Kadir mengungkapkan, Partai Golkar Sulsel sudah menerima surat pengunduran diri Ince Langke dari Partai Nasdem.
“Surat pengunduran diri Pak Ince sudah saya terima. Saya terima itu waktu saya ke Selayar,” jelas Kadir yang juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Sulsel.
Ia menambahkan, bergabungnya kembali Ince Langke sudah diproses di DPP Partai Golkar. Termasuk proses pemulihan nama Ince Langke di partai berlambang pohon beringin rindang.
“Jadi sudah ada juga surat permohonan pengembalian menjadi anggota aktif kembali. Semuanya tidak ada masalah. Prosesnya akan diselesaikan secepatnya,” tutur Kadir.
Tak hanya Ince yang kembali ke Golkar. Belasan kader lain melakukan hal serupa. Seperti Basmin Mattayang, Yasir Mahmud, Abbas Hady dan beberapa nama lainnya.
Wakil ketua DPW Nasdem Sulsel, Arum Spink yang dimintai tanggapannya soal pengunduran diri Ince Langke dari Nasdem, mengaku belum mendapat informasi. “Sampai saat ini saya belum mendapat informasi, jika Pak Ince Langke mengajukan surat pengunduran diri sebagai pengurus Nasdem Sulsel,” ujar Arum Spink yang juga anggota komisi A DPRD Sulsel.
Soal tensi politik yang semakin memanas dengan aksi pindah partai, ditanggapi santai Kadir Halid.
“Pilkada di Sulsel tahun 2017 hanya digelar di Takalar. Tapi di pertengahan tahun jelas sudah sangat ramai untuk pilgub dan Pilkada di 12 kabupaten/kota. Untuk itu, diharapkan kepada semua kandidat yang akan maju di pilkada maupun pilgub agar membuat kesejukan di tengah masyarakat. Sehingga semua bisa berjalan dengan suasana yang damai dan aman,” kata Kadir Halid.
Politisi Partai Demokrat, Selle KS Dalle menilai, suhu politik di tahun 2017 masih sebatas hangat hangat kuku. Belum sampai pada titik mendidih.
“Semua partai dan komponen pedukung lainnya akan sibuk mempersiapkan diri untuk memantapkan segala strategi. Termasuk hal-hal lain yang dibutuhkan pada perhelatan Pilkada 2018 nanti,” ujar Selle yang juga anggota komisi D DPRD Sulsel.
Dosen politik Univesitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, Dr Firdaus Muhammad memprediksi kontestasinya pilgub Sulsel akan berlangsung panas. Selain tidak diikuti petahana, juga bakal diikuti pasangan calon antara tiga hingga empat. “Perebutan partai menjadi bagian lebih berat bagi para kandidat,” ucapnya.
Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Arqam Azikin, mengakui dinamika politik Sulsel akan meningkat eskalasinya di tahun 2017. Hal ini karena kandidat yang akan bertarung di pilbup dan pilwali kian intens bergerak mematangkan agendanya.
“Apakah direspon masyarakat atau tidak, akan tergambar dari sambutan di tengah-tengah warga di daerah masing-masing. Banyaknya figur yang akan maju otomatis memperbanyak simulasi politik yang terjadi di lapangan,” terangnya.
Di sisi lain, tambah Arqam, eskalasi balon di pilgub Sulsel juga akan memainkan peran posisi politik. ”Dari akumulasi situasi politik itulah yang akan memperkuat dinamika politik yang berproses di kabupaten kota,” kuncinya. (rif/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top