Berawal dari Iseng, Juara I LKTIM Tingkat Nasional – Berita Kota Makassar
Headline

Berawal dari Iseng, Juara I LKTIM Tingkat Nasional

IST JUARA I-Muhammad Alimka (kanan) menerima hadiah sebagai juara I Agritech Axhibition Brave 2015.

MERAIH prestasi merupakan sebuah pencapaian yang sangat membanggakan. Terkadang, pengakuan intelektualitas seseorang diukur dari prestasi yang pernah diraih. Namun apakah semua orang bisa mendapatkannya?

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

HAKIKATNYA, otak manusia diciptakan sama. Memiliki volume kira-kira 1350 cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf. Yang membedakan pengaruh pada diri orang tersebut adalah kerja keras, ketekunan, kreativitas dan doa.
Itulah yang ditunjukkan Muhammad Alimka. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (PTIK FT UNM) ini berhasil meraih juara dalam berbagai kompetisi yang diikuti.
Diantaranya juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) Brawijaya Event (Brave) di Universitas Brawijaya (UB) Malang tahun 2015. Juga juara 1 di LKTIM Kreasi Universitas Hasanuddin (Unhas) di tahun 2016.
LKTIM Brave UB adalah kompetisi Karya Tulis Ilmiah (KTI) tingkat nasional yang pesertanya dikhususkan untuk mahasiswa se-Indonesia. Sedangkan LKTIM Kreasi Unhas merupakan kompetisi KTI tingkat regional. Pesertanya adalah mahasiswa se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Alimka, sapaan akrab Muhammad Alimka mengisahkan pengalamannya saat menjadi juara di UB. Dia menuturkan, tema yang diangkat dalam LKTI tersebut tentang pertanian.
Alimka optimis bisa mendapatkan juara, karena dari semua subtema yang disediakan, ia mengangkat subtema yang berbeda dari peserta lainnya. Sebagian besar peserta saat itu mengambil subtema mengenai inovasi pangan maupun pemasaran pertanian. Namun Alimka lebih memilih mengambil subtema inovasi teknologi pertanian. Karena dasar itu, ia optimis menang.
Bersaing dengan mahasiswa dari seluruh Indonesia, Alimka membuat aplikasi android yang disesuaikan dengan kebutuhan pemasaran hasil tani para petani. Melalui aplikasi tersebut, Alimka membuatnya dalam bentuk karya tulis, yang kemudian dipresentasikan di UB Malang.
Proses dalam pembuatan KTI tersebut, Alimka dibantu dua rekannya. Masing-masing Darmawansyah dan Muhammad Nasrullah. Mereka kemudian tergabung dalam tim.
Diberi judul “Gerakan Berbagi 1000 Smartphone (Diintegrasikan Aplikasi Pemasaran Dari Petani, Oleh Petani, dan Untuk Petani)”, KTI tersebut sukses membuat juri terpukau.
Ada cerita yang menarik dari proses pembuatan KTI tersebut. Berawal dari keresahan, Alimka dan dua rekannya hanya sekadar iseng membuat abstrak saat tahu bahwa UB akan mengadakan lomba. Tanpa disangka, abstrak yang dikirimkan Alimka lolos bersama puluhan abstrak lain dari mahasiswa seluruh Indonesia. Lebih terkejutnya lagi, karena hanya ada dua peserta yang mengirimkan abstrak dengan subtema inovasi teknologi pertanian. Mengetahui hal itu, Alimka optimis dan bertekad untuk juara. “Disitulah kami optimis, karena sangat jarang orang yang memilih subtema itu,” kata Alimka.
Setelah lolos abstrak, tahap selanjutnya adalah pengiriman KTI. Jadi abstrak yang sudah dinyatakan lolos, wajib dikembangkan menjadi KTI untuk selanjutnya akan diseleksi kembali.
Dalam penyeleksiannya, hanya 10 KTI yang dinyatakan lolos oleh panitia ke tahap berikutnya. Uniknya, Alimka menjadi satu-satunya peserta yang akan mempresentasikan KTI dengan subtema inovasi teknologi pertanian.
Hal ini karena KTI lain dengan subtema serupa tidak dinyatakan lolos dalam penyeleksian tahap kedua. “Dari dua yang tadinya mengirim subtema itu, ternyata yang satunya tidak lolos. Kami satu-satunya yang membawakan subtema itu. Kami tambah yakin juara,” kata Alimka penuh optimisme.
Namun di balik itu, Alimka bukannya tidak menemui kendala. Salah satu masalah yang dihadapi saat itu adalah soal biaya. Biaya transportasi dan akomodasi untuk mengikuti lomba di Malang ternyata tidak direspon positif oleh pihak universitas. Padahal Alimka dan rekan-rekannya membawa nama kampus saat mengikuti seleksi.
Tidak pantang menyerah, Alimka dan rekan-rekannya melakukan mediasi kepada pihak fakultas. Alhasil, dengan proses yang panjang, pihak fakultas akhirnya bersedia membantu membiayai transportasi dan akomodasi Alimka selama di Malang.
Selesaikah masalah? Ternyata tidak. Setelah sampai di UB, ternyata dalam lomba itu diikutsertakan pameran hasil karya peserta. Hal inilah yang awalnya tidak diketahui oleh Alimka karena kesalahan informasi.
Namun, kondisi seperti itu tidak membuat Alimka kehabisan ide. Membutuhkan beberapa media dan alat seperti video tutorial, poster dan banner, Alimka membagi semua itu kepada rekannya untuk dikerjakan bersama. Akhirnya, semua itu bisa diselesaikannya dalam satu malam. Alimka pun dapat mengikuti pameran tepat waktu.
“Karena KTI ini berbasis teknologi, kami hanya menyediakan dua laptop dan beberapa smartphone sebagai alat dalam pameran. Poster dan banner pun berhasil kita pajang,” jelas Alimka.
Pada saat presentasi, akhirnya Alimka mendapatkan nilai tertinggi dan membuatnya sebagai juara satu. Saat presentasipun Alimka mendapat banyak saingan, seperti dari UB sendiri, Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan Universitas Bengkulu. Ketiganya dianggap sebagai saingan berat, karena kualitas KTI yang dibuat juga mendapatkan apresiasi dari juri.
Selain mendapatkan juara 1 di LKTIM Brave UB, Alimka juga pernah meraih juara 1 pada LKTIM Kreasi Unhas. Berbeda dengan LKTIM Brave UB yang berskala nasional, LKTIM Kreasi Unhas berskala Sulselbar.
Tapi Alimka menganggap jika kualitas KTI yang dibuat oleh para lawannya di LKTIM Kreasi Unhas tidak kalah dengan saat ia mengikuti LKTIM Brave UB.
Saat di Unhas, Alimka juga membuat KTI yang berbasis teknologi. Kali ini dia membuat website yang kontentnya adalah “galang dana”. Galang dana ini bertujuan untuk mengumpulkan dana, yang kemudian akan disalurkan ke panti asuhan dan desa-desa terpencil.
Mendapat saingan berat dari tuan rumah Unhas, Alimka membuktikan kembali jika dirinya bisa menjadi yang terbaik. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top