Usai Disunat, Pasien Bisa Langsung Berenang – Berita Kota Makassar
Headline

Usai Disunat, Pasien Bisa Langsung Berenang

PRAKTIS dan tidak menakutkan. Itu merupakan beberapa alasan kenapa masyarakat banyak memilih melakukan sunat menggunakan metode di luar konvensional. Peluang itu banyak ditawarkan klinik maupun rumah sakit.

REPORTER: RAHMAWATI AMRI-NUGROHO NAFIKA

SALAH satu pasien yang menggunakan layanan sunat laser adalah Irfan. Bocah kelas VI SD itu ditemani sang ibu ke klinik Pacica untuk konsultasi usai sunat beberapa hari lalu. Walaupun berjalan agak lambat, namun bocah tambun itu sudah bisa ke klinik tanpa menggunakan sarung.
Menurut Irfan, ibunya memang menawari dirinya untuk sunat saat ini karena sedang liburan sekolah. Alasannya, agar tidak mengganggu pelajaran di sekolah. Namun, dia mewanti-wanti kepada sang ibu tidak mau disunat secara konvensional, seperti yang pernah dilihat waktu temannya sunat. Makanya, sang ibu membawanya ke klinik dengan janji proses sunat yang akan dilakukan tidak seperti temannya.
Irfan mengaku waktu disunat memang tidak sakit. Nanti setelahnya.
“Waktu disunat tidak sakit. Nanti setelah sunat ada sakit-sakit sedikit. Tapi tidak terlalu,” ujarnya.
Sebenarnya, untuk penyembuhan pasca sunat, menurut dr Muh Firmansyah, yang paling cepat adalah konvensional. Namun, banyak yang tidak berani melakukan, khususnya di kalangan anak-anak. Namun, yang paling rapi hasil sunatnya adalah yang menggunakan metode smart klem.
Ada yang menarik dari metode tersebut. Karan seusai sunat, pasien bisa langsung mandi dan berenang. Karena memang dianjurkan untuk selalu kena air.
Sementara untuk bayi, lebih dianjurkan menggunakan metode laser atau smart klem. Kecuali jika harus ada perlakuan khusus saat sunat dan terpaksa menggunakan sistem konvensional.
“Metode itu paling banyak permintaannya. Prosesnya juga tidak terlalu lama. Cuma beberapa menit saja,” ungkapnya.
Bukan hanya anak lelaki, orang dewasa juga banyak yang meminta jasa sunat di klinik. Biasanya, bagi lelaki muslim, alasannya untuk sunat ulang karena sunat kampung atau konvensional yang dilakukan waktu masih anak-anak tidak maksimal.
Namun tidak melulu lelaki muslim yang melakukan sunat. Banyak juga non muslim karena alasan kesehatan.
Dia menganjurkan proses sunat dilakukan sejak dini. Alasannya, karena pembuluh darah di penis masih kecil sehingga risiko pendarahan lebih kecil. Selain itu, bisa mendeteksi secara dini jika ditemukan adanya kelainan pada penis.
Tempat lain yang juga telah menerapkan metode sunat modern adalah di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati. RSIA yang beralamat di Jalan Tamalanrea Raya Nomor 9-10 Kompleks Bumi Tamalanrea Permai (BTP), ini melayani sunat dengan metode konvensional, laser, dan smart klem.
Penanggungjawab Ruang Operasi dan Penanggungjawab Ruang Sterilsasi RSIA Permata Hati, Dedi Rasmedi, mengatakan bahwa seorang yang akan disunat di tempat ini harus diperiksa terlebih dahulu.
“Kalau masih anak-anak, biasanya kita periksa atau tanyakan dulu ke orang tuanya. Saat terjadi luka pada anak itu, maksimal lukanya berapa menit. Kalau lebih dari lima menit, kita curigai mengidap hemofilia. Maka, kita sarankan menggunakan metode sunat smart klem,” jelas Dedi.
Ia menambahkan, selama RSIA berdiri sejak 2010, kebanyakan pasien yang akan disunat lebih memilih menggunakan metode laser. Alasannya, karena rasa sakit yang ditimbulkan hampir tidak terasa. Berbeda ketika menggunakan metode sunat modern lainnya, pada smart klem, yang akan terasa sakit apabila perban dari hasil sunat akan dilepas.
Banyak pengalaman yang telah dirasakan Dedi dalam proses sunat di RSIA Permata Hati. Salah satunya, ketika ada pasien yang umurnya belum sampai setahun dan orang tuanya ingin menyunatnya.
Semua rumah sakit dan klinik pada saat itu menolak karena alasan usia. Namun dengan pengalaman yang dimiliki, akhirnya Dedi bersedia melakukan proses sunat.
Selain itu, ia juga pernah melakukan sunat kepada seorang mualaf asal Swedia. Dedi mengatakan, antara anak-anak dan orang dewasa memiliki perbedaan saat akan dilakukan sunat. Salah satunya adalah obat yang diberikan untuk anastesi pasien.
“Untuk anak maksimal 2 cc. Kalau dewasa lebih dari 2 cc. Bisa-bisa sampai 6 cc. Hal ini karena ukuran organ dan ketebalan kulit yang akan disunat,” kata Dedi.
Pasien terbanyak yang melakukan sunat di RSIA Permata Hati rata-rata berumur 11-12 tahun. Jumlah ini akan sangat meningkat saat hari libur sekolah tiba.
Dedi mengingatkan, tidak semua orang bisa disunat. Contohnya, pasien dengan kelainan bawaan seperti hipospadia dan epispadia tidak bisa melakukannya.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis. Sementara epispadia adalah gejala di mana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis, atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka. ”Seseorang dengan kondisi seperti ini sebaiknya tidak disunat,” sarannya.
Terakhir, Dedi mengatakan jika akan disunat, sangat dianjurkan kepada pasien menggunakan metode sunat laser. Metode ini dinilai sangat praktis dan pasien tidak akan merasakan sakit. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top