Headline

Ayah yang Tikam Putrinya Dibawa ke Dokter Jiwa

MAKASSAR, BKM — Amal Mattajang (39), ayah yang tega menikam putri kandungnya, Riska (3) hingga meninggal dunia, disebut-sebut mengalami gangguan jiwa. Untuk memastikannya, aparat Polsek Libureng yang menangani kasus ini, membawa Amal ke Makassar untuk diperiksa dokter ahli kejiwaan.
”Baru saja dia (Amal) dibawa anggota ke Makassar. Mau diperiksa ke dokter kejiwaan. Sudah ada keluarganya yang menunggu di Makassar. Kalau hasil pemeriksaan nantinya terbukti mengalami gangguan jiwa, pemeriksaan dihentikan. Proses hukum tidak dilanjutkan,” terang Kapolsek Libureng, AKP Makmur AR melalui telepon selular, kemarin.
Dua psikolog yang dihubungi terpisah, juga mengindikasikan kalau pelaku sampai tega menganiaya buah hatinya hingga meninggal, disebabkan karena penyakit gangguan jiwa akut. Pelaku juga tidak memperlihatkan rasa penyesalan akibat perbuatannya.
Psikolog yang juga dosen psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Widyastuti,SPsi.MSi menyebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tua sampai hati membunuh anaknya sendiri.
Selain gangguan jiwa, juga karena faktor intern atau penyebab dari dalam diri pelaku. Sementara faktor eksternal, datang dari luar diri pelaku. Seperti keadaan lingkungan sekitar yang menyebabkan pelaku tega melakukan perbuatannya.
”Gangguan jiwa memang bisa menyebabkan seseorang tega melakukan apapun, karena berada di bawah kesadarannya. Kalau orang normal tidak mungkin tega berbuat seperti itu. Jadi kita harus lihat dulu pemicunya,” kata Widyastuti, kemarin.
Psikolog yang akrab disapa Widya ini, menuturkan gangguan jiwa yang paling dikhawatirkan adalah schizophrenia. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa seperti ini bisa melakukan tindakan tanpa adanya perasaan menyesal. Juga tidak menampakkan ekspresi apapun.
”Ini sangat diluar batas normal. Saya menduga, dalam kasus yang terjadi di Bone itu, pelakunya memiliki gangguan jiwa akut. Melihat tindakan bapak ini sangat sadis terhadap anaknya sendiri yang masih kecil,” terangnya.
Widya juga menyebut kemungkinan penyebab lainnya. Ketika seseorang tidak kuat menahan beban, maka bisa saja dia bertindak agresif. ”Diibaratkan, ketika tubuh tidak kuat menahan serangan virus, maka bisa menjadi sakit,” katanya memberi analogi.
Terlepas dari beberapa faktor di atas, Widya menyarankan, anggota keluarga yang mengalami masalah gangguan kejiwaan tidak bisa didiamkan. Mereka membutuhkan perhatian ekstra untuk penyembuhannya. Karena penyakit kejiwaan bisa dicarikan solusi penanganannya.
”Sesama anggota keluarga harus saling memberikan kasih sayang, perhatian dan kepercayaan. Juga dibutuhkan sikap saling terbuka, agar segala masalah bisa dicarikan solusinya dan diselesaikan dengan baik. Kalau cara seperti itu sudah dilakukan, kejadian yang tidak diingankan, seperti kejahatan pembunuhan, bisa dicegah. Itu diawali dari individu kita masing-masing,” jelasnya.
Kepala Praktik Psikolog Halwa Makassar, Hilwa Anwar,SPsi.MA punya pendapat sendiri. Menurutnya, kekurangsabaran orang tua menjadi penyebab utama dalam kasus ini.
”Seorang ayah sampai tega membunuh anaknya sendiri, itu dikarenakan ketidaksabaran dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Juga karena dia mengalami gangguan jiwa,” terang Hilwa, kemarin.
Karenanya, tambah Hilwa, orang tua sangat perlu bisa mengendalikan emosi dalam menghadapi anak-anaknya. Sehingga anak tidak menerima tindakan yang merugikan dari orang tuanya.
”Masalah seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab butuh penanganan khusus, sebelum gangguan jiwa yang dimiliki orang tua menjadi akut,” tandasnya. (ita/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top