Headline

Kerja Jadi Sopir dan Sales untuk Biaya Kuliah

IST Muh Amin Tasrief

TAK ada yang tidak mungkin bisa diraih dalam hidup ini. Selama kita mau berusaha dan bekerja keras. Itulah pegangan hidup Muh Amin Tasrief,SH.

Laporan: Rahmat

DI sebuah lorong, yang lebih layak disebut gang Jalan Pongtiku, Makassar, Minggu siang (18/12). Disinilah Amin Tasrief tinggal. Rumah batu yang tergolong sederhana ini masih milik orang tuanya.
Amin adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Ia berusaha merintis karirnya dari nol, hingga menjadi seorang advokat seperti saat ini.
Tak pernah terlintas di benak Amin, jika suatu hari nanti akan berada pada jalur profesi pengacara. Perjalanan hidup yang begitu keras telah mengantarnya pada posisinya sekarang.
Kehidupan ekonomi keluarga yang pas-pasan, begitu disadari oleh Amin. Diapun tidak muluk-muluk ketika sampai pada putusan untuk melanjutkan kuliah setamat SMA.
Maklum saja, orang tua harus membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari enam orang anaknya. Sementara pekerjaannya hanyalah pegawai swasta pada sebuah perusahaan ekspedisi.
Diapun kemudian memutar otak untuk tetap melanjutkan kuliah. Cara hidup ekstra hemat ia terapkan. Untuk ke kampus saja, Amin harus berjalan kaki.
”Jangankan ongkos ke kampus, uang kuliah pun terkadang telat dibayar. Tapi saya tidak pernah patah semangat dan berputus asa,” kenang Muh Amin.
Di lingkungan sekitar rumahnya, Amin dikenal mudah bergaul. Tak ayal, karena memiliki banyak teman dan pergaulannya luas, terkadang ia lupa dan terlambat mengerjakan tugas-tugas dari kampus.
”Kalau sudah ngumpul di pinggir jalan dengan teman-teman, sering lupa waktu. Jadi kadang terlambat masuk kuliah,” terangnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, ada banyak yang sebaya dengan Amin. Mereka juga berstatus sebagai mahasiswa. Karena biasa ngumpul dan begadang sampai pagi, gelar anak jalanan yang tidak punya masa depan, sempat melekat pada dirinya.
Terkadang lupa dengan tugas dan jadwal kuliah, membuat dosen di kampusnya sering marah. ”Pernah beberapa kali saya ditegur oleh dosen karena jarang masuk kampus dan mengerjakan tugas kuliah. Makanya, waktu itu banyak nilai mata kuliah yang di bawah standar rata-rata,” bebernya.
Karena sering dianggap tidak memiliki masa depan, Amin kemudian bertekad untuk membuktikan kepada semua orang, bahwa dirinya bisa berhasil seperti orang lain. Cita-citanya yang ingin menjadi seorang advokat semasa kuliah, harus mampu diwujudkan.
Diapun memutuskan untuk bekerja sambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
“Waktu itu saya bekerja sebagai sopir dan sales di sebuah perusahaan swasta hingga selesai kuliah. Gaji saya itulah yang saya pakai bayarkan uang kuliah hingga lulus menjadi sarjana,” jelasnya.
Setelah lulus dengan menyandang gelar sarjana hukum, diapun terpaksa harus kembali bekerja di salah satu perusahaan swasta selama beberapa tahun. Hingga ada pembukaan dan pelatihan untuk Advokat di Persatuan Advokat Indonesia (PERADI).
Amin mencoba mendaftarkan diri. Tanpa disangka-sangka diapun lulus menjadi seorang advokat muda. Saat itulah dia mulai meniti karirnya menjadi seorang advokat. Magang di kantor Advokat Taslim Suwarman and Partner selama beberapa tahun.
“Alhamdulillah, akhirnya profesi advokat mengubah hidup saya sedikit demi sedikit. Walau penghasilan saya waktu itu masih terbilang sedikit, tapi saya bersyukur karena bisa juga membantu orang tua dan keluarga,” imbuhnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top