Headline

Bebaskan Buruh Bangunan, Diberi Uang Recehan

IST Abdul Muttalib

KESUKSESANNYA di Anti Corruption Committe (ACC) sejak 2011, tak lepas dari pengalaman Abdul Muttalib memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Pria yang telah dikaruniai dua anak ini punya banyak kenangan unik nan mengharukan tentang LBH.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PRESTASINYA di LBH berbanding lurus dengan yang ditorehkan Talib –sapaan akrabnya– di ACC. Hal tersebut cukup wajar, karena ia bergelut di LBH selama 10 tahun. Dari tahun 2000 sampai tahun 2010, Talib fokus membantu masyarakat kurang mampu yang bermasalah dari segi hukum.
Ada hal menarik mengapa Talib bisa sampai menjadi aktivis LBH. Bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa. Saat itu Talib aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi di ketua Komisariat Fakultas Hukum UMI.
Talib muda ketika itu diajak oleh rekannya untuk pergi menggelar demonstrasi. Usai kuliah, hanya dengan modal keberanian, Talib dibawa oleh rekannya ke Jalan Veteran. Mereka berangkat dengan menggunakan pete-pete. Disitulah Talib baru menyadari jika yang hendak didemo adalah LBH.
Saat itu Talib belum banyak mengetahui tentang LBH. Ia hanya tahu alasannya berdemo. LBH disebutkan telah ‘menjual bangsa.’
Diduga, saat itu LBH terlalu banyak menerima bantuan subsidi dari pihak luar negeri. Sebaliknya, informasi terkait bantuan hukum banyak disampaikan ke pihak luar.
Talib benar-benar belum banyak mengetahui tentang LBH dan isu yang terkait dengan lembaga tersebut. Dia sekadar ikut aksi hingga selesai, tanpa tahu apa esensi sebenarnya dari demo yang melibatkan dirinya.
Mulai saat itulah, Talib berniat mencari tahu lebih jauh tentang LBH. Masih sulitnya jaringan internet saat itu, membuat ia menuntaskan rasa ingin tahunya dengan mengunjungi beberapa perpustakaan. Juga sambil bertanya langsung kepada dosennya.
“Ternyata LBH banyak memberikan bantuan ke orang miskin. Melakukan pembelaan di pengadilan,” jelas Talib, yang akhirnya tahu dan mengerti tentang LBH.
Sampai pada akhirnya, skripsi yang ia buat pun adalah mengenai LBH. Dari situlah ketertarikan Talib kepada LBH terus berlanjut.
Talib akhirnya menemui orang-orang yang pernah ia demo di LBH. Talib mengajukan diri menjadi seorang volunteer, karena ketertarikannya yang telah memuncak.
Untung saja, para aktivis LBH yang sebelumnya pernah didemo oleh Talib sangat menghargai sikapnya. Akhirnya, Talib mengakui bahwa apa yang pernah ia lakukan terhadap LBH itu keliru.
Setelah menjadi volunteer di LBH selama enam tahun, akhirnya Talib diangkat menjadi kepala divisi. Selama enam bulan, Talib terangkat lagi menjadi kepala bidang internal. Hanya empat bulan berselang, diangkat menjadi Direktur LBH hingga 2010.
Berdasarkan data kasus yang telah ditangani oleh LBH, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Talib. Karena ada ribuan jumlahnya.
“Saya sangat bangga menangani kasus-kasus orang miskin. Kurang lebih sudah ribuan kasus,” kata Talib.
Tidak memiliki tekanan dalam bekerja, membuat profesi Talib menjadi menarik. Ia selalu menekankan kepada rekan-rekannya jika setiap kasus yang akan ditangani jangan dijadikan beban. Namun tanggung jawab dan rasa ingin menolong harus tetap diutamakan.
Kasus pertama dan menjadi yang menarik bagi Talib selama di LBH, adalah kasus dari seorang buruh bangunan. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya baruh bangunan tersebut dituntut bebas oleh pengadilan.
Hal menariknya adalah setelah proses peradilan tersebut. Talib mengisahkan, keesokan harinya ia didatangi oleh istri buruh bangunan tersebut di kantor LBH. Dengan hanya menggunakan baju seadanya dan mengenakan sarung, istri buruh bangunan itu tiba-tiba menangis dihadapan Talib. Tanpa henti perempuan itu mengucapkan terima kasih kepada Talib karena telah membantu suaminya.
Dari balik sarungnya, wanita itu mengeluarkan sejumlah uang. Kemudian menyerahkannya ke Talib.
Yang membuatnya merinding, karena yang disodorkan kepadanya adalah uang recehan. Talib merasa tak berhak menerima pemberian itu. Diapun kemudian mengembalikan uang tersebut.
Saat itu juga, Talib merasa sangat bahagia telah bisa membantu sesama. Kejadian ini membuat Talib bertekad untuk tetap melanjutkan karirnya di LBH.
Tapi, tidak semua kasus yang ditangani berjalan mulus. Cukup banyak kendala yang selalu dihadapi Talib. Yang paling sering pada penegakan hukumnya.
”Banyak praktik penegakan hukum yang sebenarnya tidak sesuai. Biasa diistilahkan mafia hukum dan sebagainya. Penegak hukum biasa belum bisa bekerja dengan hati nuraninya, sesuai dengan rasa keadilan masyarakat,” tambah Talib.
Hal tersebut menjadi sangat memprihatinkan jika berbicara tentang keadilan masyarakat. Fakta-fakta dalam proses ini harus benar-benar jelas untuk menghindari penegakan hukum yang salah.
Namun yang selalu diyakini Talib, apa yang dilakukannya adalah tindakan positif. Hal positif pasti akan berbuah positif. “Sebagai pencegahan, anak-anak mulai sekarang harus diajarkan sikap jujur,” kunci Talib. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top