Headline

Ungkap Kasus Korupsi, Jadi ‘Musuh’ Banyak Orang

IST Abdul Muttalib

APAKAH Indonesia telah menjadi negara korup? Jika jawabannya iya, lalu apakah Sulawesi Selatan juga merupakan provinsi yang menjadi pemeran?

Laporan: Nugroho Nafisa Kassa

DATA dari Anti Corruption Committe (ACC) Sulawesi, selama tiga tahun terakhir saja, hampir setiap instansi, baik negeri maupun swasta di Sulawesi Selatan tercatat memiliki kasus korupsi. Hal ini seakan menjadi kita telah dikepung oleh orang-orang “kotor”.
Korupsi adalah tindakan yang sangat keji. Semua orang bahkan sepakat jika korupsi itu sama dengan mencuri. Mencuri dengan cara yang lebih intelek. Sebagian lagi mengatakan jika itu merupakan penyalahgunaan amanah. Amanah yang seharusnya diemban setulus hati, justru disalahgunakan dengan mementingkan keuntungan pribadi.
Lalu, apakah masih ada orang-orang yang peduli ingin memberantas korupsi demi bangsa ini? Jika memang ada dan orang itu adalah kita yang notabene bukan dari kalangan pejabat pemerintah yang berpengaruh, apakah sebaiknya kita pasrah dan menerima kondisi yang ada? Atau memang tak ada yang bisa dilakukan?
Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada Abdul Muttalib, ia pasti akan menjawab; tidak benar. Tidak benar jika kita hanya bisa pasrah dan tak bisa melakukan apa-apa.
Lalu siapakah Abdul Muttalib? Dia adalah ketua Badan Pekerja ACC. Lahir dan besar di Makassar.
Saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), Abdul Muttalib memang sangat tertarik dengan dunia hukum. Sampai saat inipun, selain sebagai Ketua Badan Pekerja ACC, Talib juga aktif sebagai pengacara.
ACC sendiri adalah lembaga non profit yang didirikan sejak 26 Desember 1998 di Makassar. Lembaga ini dibentuk dengan spirit pemberantasan korupsi. Hingga kini ACC tetap eksis pada upaya pemberantasan korupsi melalui media pendidikan, kampanye, dan investigasi mafia hukum.
Talib, sapaan akrab Abdul Muttalib, memulai karirnya di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Setelah tidak menjabat lagi di LBH, Talib dipercaya menjadi Ketua Badan Pekerja ACC. Ia menggantikan Abraham Samad yang terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2011.
Sejak menjabat, sudah banyak kasus yang ditangani oleh ACC di bawah kepemimpinan Talib. Kurang lebih sudah ada 30 kasus besar yang dilaporkan. Termasuk diantaranya Dana Bantuan Sosial (Bansos) dan beberapa kasus di Universitas Negeri Makassar (UNM) yang sempat heboh beberapa tahun terakhir.
Tidak mudah memang menjadi orang yang memperjuangkan hukum. Selama menjabat, Talib sudah menjadi “musuh” banyak orang. Biasanya dari kalangan pejabat pemerintah yang seakan membiarkan praktik korupsi terus berjalan di negeri ini.
“Karena kita ini lembaga pengawas. Jadi setiap dicurigai terindikasi melakukan korupsi, kita selalu awasi. Dasar itulah kenapa kita selalu menjadi musuh dalam tanda kutip,” kata Talib.
Proses penindakan yang dilakukan Talib bersama ACC tidaklah mudah. Talib dan timnya harus memperkuat data terlebih dahulu jika ada indikasi korupsi.
Data dan informasi harus diperkuat terlebih dahulu supaya proses analisanya jelas. Setelah itu baru dianalisis unsur-unsur korupsinya dan tindak pidana yang bisa dikenakan.
“Jika unsur-unsur sudah diketahui, kita bisa menentukan tindak pidananya. Pasal apa yang bisa dikenakan oleh pelaku,” terang Talib.
Bukti-bukti yang mendukung pada laporan juga merupakan unsur yang penting. Karena semua itu akan dilampirkan pada laporan indikasi korupsi. Laporan tersebut akan dianalisis untuk diserahkan kepada dewan pakar ACC. Kemudian akan dilengkapi dan dikirim ke lembaga penyidik.
Pengiriman laporan pun ditentukan berdasarkan kebutuhan kasusnya. Apakah hanya dikirim ke kejaksaan atau ke KPK. Prosedur seperti ini yang selalu Talib lakukan demi tekadnya memberantas korupsi.
Dalam penegakannya saja, Talib mengakui memiliki banyak kendala. Apalagi ACC bukanlah lembaga penyidik layaknya KPK. “Kalau ada laporan dari masyarakat mengenai indikasi korupsi, biasanya kita tindaklanjuti. Nah, KPK selalu saja membalas hanya dengan sepucuk surat yang katanya belum lengkap. Padahal bagi kita itu sudah lengkap. Harusnya kalau menurut KPK belum lengkap, ya sebaiknya mereka lengkapi,” jelas Talib.
Prinsip pria 41 tahun ini sendiri adalah bekerja dan mengawasi. Siapapun yang mendukung proses akuntabilitas, transparansi, dan sebagainya akan senantiasa didukung, baik person maupun pihak pemerintah. Karenanya, walaupun banyak kendala dalam upaya memberantas korupsi, namun pekerjaan mulia seperti ini harus tetap ada.
Telah banyak penghargaan yang diterima Talib dalam upaya pemberantasan korupsi. Salah satunya ialah sebagai aktivis anti korupsi dari Kapolda Sulsel. Talib juga pernah diundang oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat secara eksklusif untuk mempresentasikan perilaku korupsi yang terjadi di Indonesia. “Kurang lebih satu bulan saya di Amerika. Itu di tahun 2014,” ucap Talib.
Tak lupa Talib memberikan pesan kepada masyarakat untuk sentiasa menjadi mitra ACC. Baik secara langsung maupun tidak. Menjadi mitra tidak langsung, artinya adalah ikut melaporkan jika melihat adanya indikasi terjadinya korupsi. Talib pun mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut membersihkan negara ini dari praktik-praktik korupsi. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top