Headline

Rp3 Miliar untuk 10 Petepete Smart

MAKASSAR, BKM — Resmi sudah petepete smart diluncurkan. Satu unit contoh kendaraan angkutan umum roda empat ini telah diperkenalkan kepada masyarakat.
Moda transportasi darat ini berbasis teknologi informasi (TI). Di dalamnya terdapat fasilitas AC, wifi, tangga untuk penyandang disabilitas. Ada pula CCTV yang dikontrol secara langsung dari operation room balai kota. Hanya saja, spesifikasi yang dimiliki petepete smart saat ini masih perlu diperbarui di tahun-tahun mendatang.
”Petepete smart memiliki tangki dengan daya tampung 50 liter bensin. Kapasitas mesinnya 1.300 cc. Rencananya akan ditambah menjadi 1.500 cc untuk pengadaan berikutnya. Soal rute dan tarif per kilometer, masih perlu dibicarakan lagi,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Mario Said, kemarin.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto masih enggan membeberkan angka pasti anggaran pribadinya yang digunakan dalam pengadaan satu unit petepete smart.
“Rp200 juta itu rendah. Rp300 juta itu terlalu tinggi. Sekitar Rp250 juta itulah. Karena petepete smart ini kita rombak,” ujarnya bernada diplomatis.
Tahun depan, tambah Danny, Pemkot Makassar mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk pengadaan 10 petepete smart
di Makassar. Prosesnya dilakukan melalui tender.
”Kalau untuk rutenya, masih perlu digambarkan. Lebar petepete smart kira-kira 1,5 meter. Jadi kemungkinan, seperti di Jalan Ahmad Yani kita buat tiga jalur. Dua jalur untuk rute petepete smart, dan satu jalur lagi bagi pengendara lain,” terang Danny.
Kehadiran petepete smart ini mendapat sambutan dari Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Makassar, Saenal Abidin. Apalagi, kata dia, angkutan umum bertujuan mensejahterakan para pengusaha angkutan kota serta sopirnya.
Karena sopir petepete smart nantinya tidak lagi kebut-kebutan berburu penumpang. Sehingga mereka bisa lebih fokus memberikan pelayanan kepada masyarakat penggunanya.
“Kalau janji pemerintah kota ditepati, kehadiran petepete smart bisa benar-benar memberikan kesejahteraan kepada pengusaha dan sopir petepete. Mereka tidak lagi mengejar penumpang. Karena pemerintah membayar per kilometer. Ada atau tidak ada penumpang, sopir tetap dapat uang yang dihitung per kilo meter,” jelasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi A DPRD Makassar, Susuman Halim meminta pemkot melakukan evaluasi atas rencana pengoperasian petepete smart. Apalagi dengan alasan untuk mengurangi tingkat kemacetan serta peremajaan mobil petepete konvensional.
”Jumlah kendaraan angkutan umum di Makassar sudah banyak sekali. Ada petepete yang lama, bentor, taksi, ojek, bus maminassata hingga becak. Sekarang ditambah lagi petepete smart. Apakah tidak semakin padat ini jalan raya, dengan keterbatasan ruas jalan. Belum lagi parkir sembarangan,” kata Sugali, sapaan akrab Susuman Halim, kemarin.
Selain itu, tambah legislator Fraksi Demokrat ini, kehadiran petepete smart juga dapat menimbulkan konflik di kalangan masyarakat. Khususnya mereka yang menggantungkan hidup sehari-harinya dari penghasilan mobil petepete.
“Sudah jelas, jika armada transpotasi bertambah, sudah pasti kemacetan meningkat. Belum lagi armada yang satu saling bentrok dengan jalur dan halte,” katanya mengingatkan. Ketua Komisi A DPRD Makassar, Wahab Tahir punya pendapat berbeda. Menurutnya, apa yang dipersoalkan sopir petepete selama ini hanyalah kesalahpahaman. Sebab, kehadiran petepete smart tidak tersosialisasikan dengan baik dan lengkap.
”Saya kira rencana pemkot bukan untuk menggusur atau mengambilalih mata pencaharian mereka. Malah sebaliknya, akan mensejaterahkan,” ujarnya. (arf-ita/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top