Calo Maba Habiskan Waktu Mengaji di Sel – Berita Kota Makassar
Headline

Calo Maba Habiskan Waktu Mengaji di Sel

MAKASSAR, BKM — Lazimnya dalam praktik-praktik ilegal, pelakunya jarang menggunakan nama asli. Mereka memilih memakai nama palsu ataupun samaran.
Itu pula yang terjadi dalam praktik percaloan penerimaan mahasiswa baru (maba) Unhas. Empat dari lima nama yang disebut tersangka Rahmatia, bukanlah asli.
Lima orang itu adalah Awal, Raba, Daud, Sulis dan Irwan. Dari nama-nama itu, hanya Daud yang nama asli. Dia bertugas di bagian penjernihan kampus.
Untuk mengungkap nama asli keempat calo lainnya, penyidik Polrestabes Makassar meminta bantuan dari Unhas. Pihak kampus kemudian menurunkan tim pengawas internal yang dipimpin Nasruddin Salam.
Sebelumnya, ketika diperiksa penyidik, Rahmatia ‘bernyanyi.’ PNS Unhas yang bertugas di bagian arsip rektorat itu menyebut anggota jaringannya. Lima nama diungkap. Tapi hanya satu yang asli.
Tim dari Unhas telah menemui Rahmatia yang ditahan di mapolrestabes. Mereka menggali informasi atas pengakuannya.
”Tim dari Unhas sudah datang menemui tersangka Rahmatia. Karena dia kan PNS rektorat. Mereka juga mendalami pengakuan tersangka yang menyebut lima nama dalam jaringannya,” terang Wakil Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Wakapolrestabes) Makassar, AKBP Hotman Sirait.
Dijelaskan, penyidik dibantu tim dari Unhas untuk mengungkap kasus ini. Khususnya mereka yang terlibat. Sebab ada beberapa nama yang disebutkan tersangka merupakan samaran.
Ketua Tim Pembinaan Internal Unhas, Nasruddin Salam mengatakan, pihaknya memeriksa Rahmatia untuk kepentingan internal. Sebab yang bersangkutan merupakan aparatur sipil negara yang bertugas di Unhas.
“Kita telusuri nama yang ia sebutkan yang merupakan staf rektorat. Rahmatia menyebut lima nama. Itu yang kami dalami. Karena dari lima nama yang disebut, empat diantaranya samaran. Sementara kami telusuri nama aslinya, untuk membantu aparat kepolisian,” terang Nasrudin.
Nama asli empat orang tersebut, menurut Nasruddin, baru bisa terungkap setelah polisi memeriksa Daud. Rencananya, penyidik akan memeriksa Daud secepatnya.
BKM kemudian mencoba mencari tahu nama yang disebutkan Rahmatia. Daud dan Irwan disebutkan merupakan PNS Unhas.
Namun, hanya Daud yang merupakan staf rektorat. Irwan tak diketahui PNS di mana.
Sejak Rahmatia tertangkap, Daud tak pernah lagi masuk berkantor. Rekan kerjanya tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Bagaimana dengan dr Abd Rahman Rauf yang juga disebut oleh Rahmatia? Tim internal Unhas mengaku tak berkompeten memeriksanya. Ia menyerahkannya ke penyidik polrestabes untuk melakukannya.
Terpisah, dr Rahman membantah dirinya terlibat dalam praktik percaloan yang dilakoni Rahmatia. ”Nama Rahmatia itu saya tidak dikenal. Siapa dia. Kenapa sampai mencatut nama saya. Sejauh ini saya tidak pernah berinteraksi dengan dia,” kelit dr Rahman.
Belakangan, pemilik sebuah kampus akademi kebidanan di bilangan Jalan Perintis Kemerdekaan itu pun mengaku tahu dengan Rahmatia. Ia mengetahuainya dari seseorang berinisial LK.
Selain sebagai alumni Unhas, menurut dr Rahman, LK juga bekerja di rumah sakit (RS) yang dipimpinnya. LK bertugas sebagai penjaga rumah sakit. Bahkan tinggal dan menetap di RS Inau.
”Saya kenal ibu itu sejak perkenalan LK bersamanya beberapa bulan lalu. LK saya ketahui dekat dengan seorang perempuan. Belakangan LK cerita ibu itulah yang bernama Rahmatia,” beber Rahman.
Dari situlah, LK kemudian menyampaikan kepada dr Rahman bahwa dirinya disuruh mencari calon mahasiswa baru yang ingin masuk ke FK Unhas. Tertarik, dr Rahman lalu mencari calon maba di daerah. Selanjutnya mempertemukannya dengan Rahmatia.
”Waktu dengar cerita LK, saya sempat nasihati agar dia berhati-hati dengan ibu yang bernama Rahmatia. Saya juga jelaskan bahwa tak ada penerimaan mahasiswa baru di Unhas dengan sistem pembayaran seperti itu,” terang dr Rahman lagi.
Menurut pengakuan LK, seperti ditirukan Rahman, ia sudah pernah melakukan transaksi dengan Rahmatia di RS Inau. Juga pada sebuah kafe di bilangan jalan masuk kompleks perumahan Bumi Tamalanrea Permain (BTP), Makassar. “Kemungkinan nama saya dipakai untuk meyakinkan korban,” kata dr Rahman yang dikonfirmasi, Minggu (11/12).
Melalui perantara LK, dr Rahman sudah berhasil mendapatkan delapan orang calon maba. Dari jumlah itu, ia menerima fee sebesar Rp20 juta. Uang tersebut, diakui masih disimpan.
‘”Sebenarnya saya pernah sarankan ke LK, kalau dalam pengurusan seperti itu harus membuat surat pernyataan. Agar kalau terjadi masalah, uang orang kembali utuh,” jelasnya.
Sementara itu, pantauan BKM di sel mapolrestabes Makassar, Rahmatia ditahan satu kamar dengan rekannya sesama calo, Nurjannah Jalil. Keduanya mengisi waktu dengan mengaji. Baik siang mapun sore.
Bahkan, seorang penjaga tahanan memuji suara Nurjannah ketika mengaji. ”Bagus sekali suaranya ibu Nurjannah kalau mengaji. Biasa mengaji kalau siang atau sore di sel titipan. Salatnya juga tidak pernah bolong. Usai diperiksa, langsung mengaji,” beber salah seorang anggota piket Reskrim Polrestabes. (ish/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top