Aktifis dan Ormas Islam Kecam Kontes Waria – Berita Kota Makassar
Headline

Aktifis dan Ormas Islam Kecam Kontes Waria

BANTAENG, BKB — Sejumlah aktifis di Kabupaten Bantaeng memprotes festival waria yang dikemas dalam lomba busana adat, Sabtu malam (10/12). Melalui sosial media, mereka mengecam panitia dan pemberi izin kegiatan tersebut. Semua komentar bernada sama, yakni mengecam dengan keras kontes waria di Butta Toa.
Tak ketinggalan tokoh-tokoh yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Bantaeng (KKB) di sejumlah daerah di Indonesia. Termasuk Jakarta. Mereka menegaskan keberatannya. Tidak rela daerahnya dijadikan ajang festival waria dalam bentuk apapun.
Lomba busana adat yang dilakoni kaum waria ini, bukan hanya mencabik-cabik harga diri aktifis dan kaum agamis. Tapi juga dinilai sebagai penista budaya. Dimana baju bodo sebagai busana adat Bugis Makassar yang dikenakan kaum wanita, dipakai oleh yang bukan wanita.
Komandan Daerah Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah/salah satu Ortom Muhammadiyah) Bantaeng, Abdul Jalil, mengaku mendatangi Tribun Seruni pada malam festival dilaksanakan. Dia mencari panitia untuk meminta membubarkan acara ini. “Kalau tidak dibubarkan, maka kami dari Kokam akan bertindak,” cetusnya.
Tidak lama berselang, muncul sejumlah personel dari Polres Bantaeng, Mereka langsung membubarkan acara sebelum dimulai. “Mungkin ada yang melapor ke polres, sehingga kami didahului bertindak,” ujar Jalil.
Ironisnya, lanjut Jalil, kegiatan yang batal dilaksanakan di Tribun Seruni, rupanya dialihkan ke rumah jabatan bupati. “Saya tidak mengarahkan pasukan ke rujab bupati, karena saya pikir mungkin menjadi tamu di rujab. Tapi ternyata, disana dilaksanakan kegiatannya,” sesalnya.
Subhan Hasibu, aktifis Ortom NU, juga melontarkan kecaman pedas. Dia menyatakan akan menggalang kekuatan dengan sejumlah elemen untuk melakukan aksi.
“Kami sangat prihatin rujab bupati dijadikan ajang kontes busana adat oleh waria. Kami akan berunjuk rasa terkait kegiatan tersebut,” ketusnya.
Ketua Tanfidziyah PC NU Bantaeng, H Jaelani Jabbar didampingi Sekretarisnya, Mappisabbi berjanji akan segera menggelar rapat untuk membahas dan membuat pernyataan sikap. “Mengenai pernyataan sikap, terlebih dahulu kami akan membahas dalam rapat internal. Karena hal ini menyangkut nama organisasi,” akunya.
Terkait fenomena ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bantaeng, KH Abdul Majid Rudda, menggelar rapat internal, Senin (11/12). Dia meminta Sekretaris MUI, HM Nasir HM untuk membuat surat protes yang ditujukan ke Bupati Bantaeng. “Kami akan menyurati bulati,” ujarnya.
Baik Ketua Tanfidziyah NU maupun Ketua MUI, sepakat menyandarkan sikap kepada fatwa MUI Pusat. “Sebagai pemimpin organisasi Islam, kami menyandarkan sikap kami kepada fatwa MUI Pusat,” ucap keduanya.
Nasir yang juga dikenal sebagai tokoh penggerak massa Kalba, mengaku sangat prihatin atas dilibatkan istri Bupati HM Nurdin Abdullah, Lilies F Nurdin dalam menandatangani surat undangan panitia.
“Saya sebagai pribadi, sangat prihatin kepada ibu bupati. Kasihan dia. Pasti ada yang mempengaruhi sehingga mau manandatangani undangan panitia,” tambahnya.
Ketua MUI meminta semua elemen untuk menahan diri dan bersikap bijak terhadap persoalan ini. “Kita harus bijak dalam menyikapi masalah ini. Jangan sampai biasnya menimbulkan dampak yang merugikan,” imbuhnya. (wam/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top