Headline

Mampu Kuliahkan Anak Meski Menderita Hepatitis

DOK PRIBADI VOCER GRATIS-Dirut BKM, Mustawa Nur berswafoto dengan Daeng Appi usai menyerahkan vocer menginap gratis di Hotel Clarion.

DI sebuah lorong Jalan Ujung Pandang Baru. Terdapat rumah, atau lebih layak disebut gubuk, dengan kondisi memprihatinkan. Di situlah Daeng Appi tinggal.

Laporan: Arif Alqadri

MEMILIKI rumah sendiri meski sederhana, menjadi impian Pak Ustaz selama ini. Sejak membina rumah tangga dan memiliki empat orang anak, ia masih tinggal di kediaman peninggalan orang tuanya.
Tak hanya satu keluarga yang tinggal di tempat ini. Tapi tiga kepala keluarga. Dua KK lainnya merupakan saudara Daeng Appi.
”Kalau hujan deras saya tidak keluar, karena kayu bakar basah. Jadi saya tinggal saja di rumah. Saya tinggal di rumah orang tua. Selain anak dan istri saya, ada juga saudara lain yang masing-masing mengambil kamar. Satu rumah ada tiga KK. Saya berharap, suatu saat nanti bisa mendapat rezeki supaya bisa beli rumah,” imbuhnya.
Sudah 19 tahun Ahmad Syafri berjuang dengan penuh semangat menghidupi keluarga. Berjualan buroncong menjadi tumpuan harapannya.
Ketika memulai usahanya, pria kelahiran Ujung Pandang, 21 Juni 1966 ini membeli sebuah becak bekas di Jalan Andi Tonro. Harganya Rp350 ribu. Ia kemudian merenovasinya menjadi sebuah gerobak. Di atasnya lalu disimpan tungku kayu dan cetakan untuk membuat buroncong.
Sebenarnya, Daeng Appi pernah bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan swasta. Namun, di tahun 1996 ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya itu.
Bukan tanpa sebab itu meninggalkan profesi duduk di belakang kemudi kendaraan. Umurnya yang sudah tidak muda lagi, membuat kondisi fisiknya tak lagi sekuat dulu. Indra penglihatannya juga sudah kabur. Ia menderita penyakit hepatitis pula.
Ada pula penyebab lain. Ia agak kecewa kepada pihak perusahaan. Ketika dirinya masuk rumah sakit selama seminggu, Daeng Appi berusaha meminjam uang ke perusahaan. Namun pinjaman itu tak sesuai harapan. Pak Ustaz hanya diberi setengahnya.
Akumulasi dari kekecewaan itu, ia kemudian keluar dari tempat kerjanya. Daeng Appi tak lagi memikirkan empat anaknya yang masih bersekolah. Saat itu yang sulung masih duduk di bangku SMA.
Sempat lama berdiam diri di rumah. Ketika itulah dia mulai sadar jika keluarga kecilnya. Khususnya bagi keempat anaknya sangat butuh pendidikan.
Otaknya terus berpikir untuk mencari penghasilan. Salah satu yang muncul di benaknya kala itu adalah menjual mainan anak di sekitar Makassar Mal. Termasuk berdagang balon gas.
Pekerjaan ini sempat dilakoninya. Namun tidak bertahan lama. Barang dagangannya kurang diminati pembeli. Akhirnya gulung tikar dan berhenti.
Terhitung sejak tahun 1997, Daeng Appi mulai merintis usahanya yang baru. Berjualan buroncong. Lokasi yang dipilih tidak jauh daru rumahnya di Jalan Ujung Pandang Baru.
Selama setahun pertama, dia berjualan sambil mempelajari cara membuat buroncong yang disukai dengan rasa asli. Setiap komentar akan rasa kue khas yang dibuat, disebut Daeng Appi sangatlah membantu.
“Saya sangat bersyukur. Karena pas usaha jualan buroncong mulai menunjukkan hasil yang baik, dua anak saya sudah lulus SMA. Satu orang saya langsung kuliahkan. Satunya lagi menyusul tahun berikutnya. Uang kuliahnya itu dari hasil buroncong,” bebernya.
Sekeras baja tekad Daeng Appi agar anaknya mencicipi bangku perguruan tinggi. Salah satu pemacunya, karena cemoohan tetangga yang menyebut dirinya tak mampu membiayai anaknya dari berjualan buroncong. Ia juga ingin melihat kelak anak-anaknya punya penghidupan yang lebih baik dari dirinya.
Ketika tengah berjualan buroncong di tempat mangkalnya, Daeng Appi kedatangan tamu istimewa. Dia adalah Direktur Utama Harian Berita Kota Makassar, Mustawa Nur.
Waktu itu petang tengah menjemput malam, Selasa (6/12). Keduanya kemudian sempat berbincang-bincang. Tak ada sekat diantara mereka. Layaknya penjual buroncong dan pembelinya.
Siapa sangka, Mustawa kemudian memberikan hadiah tak terduga bagi Pak Ustaz. Sebuah amplop warna putih diterimanya. Setelah dibukanya, isinya selembar vocer menginap di Hotel Clarion Makassar.
”Ini vocer menginap gratis di hotel. Silakan Bapak ke sana,” kata Mustawa lalu kemudian beswafoto dengan Daeng Appi.
Alangkah gembiranya Daeng Appi. Tak henti-hentinya dia mengucapkan rasa syukurnya. ”Terima kasih banyak, Pak,” ujarnya.
Selang beberapa menit kemudian, Pak Ustaz beranjak untuk menunaikan salat magrib. Ungkapan rasa syukur kembali ia panjatkan. Tuhan membuktikan kalau Dia Maha Mengatur segala yang ada di muka bumi. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top