Sudah 19 Tahun Dilakoni, Malam Minggu Paling Ramai – Berita Kota Makassar
Headline

Sudah 19 Tahun Dilakoni, Malam Minggu Paling Ramai

BAK dapat durian runtuh. Itulah yang dirasakan Ahmad Syafri. Sekalipun tak pernah terlintas di benaknya ia bisa tidur di kamar hotel. Apalagi berbintang lima seperti Hotel Clarion. Gratis lagi. Siapa Ahmad Syafri sebenarnya?

Laporan: Arif Alqadri

SELAIN sebagai kota terbesar di kawasan timur Indonesia, Makassar juga dikenal memiliki banyak kuliner khas dan tradisional. Untuk mendapatkannya tidaklah sulit.
Hampir di setiap sudut kota banyak pelaku usaha kuliner yang menjajakan aneka rupa jajanan khas tersebut. Mulai dari coto Makassar, pallubasa, palluce’la hinga sop konro. Untuk jenis kue-kuenya, sebut saja cangkuning, pisang ijo, pisang epe’, barongko dan bermacam penganan lainnya.
Kue buroncong menjadi satu dari beberapa jenis kue tradisional yang sampai saat ini banyak diburu. Hanya saja, untuk mendapatkannya tergolong gampang-gampang susah. Sebab, penjualnya biasa muncul pada pagi dan malam hari.
Ahmad Syafri adalah satu dari segelintir orang yang sampai kini masih setia menjajakan kue tradisional itu. Ia berjualan dengan menggunakan sebuah gerobak sederhana. Ukuran panjangnya 1,5 meter. Di bagian samping gerobak, tepat di bawah tungku, terdapat tulisan BRONIS. Kependekan dari Buroncong Manis.
Di atas gerobak hasil renovasinya itu, Ahmad Syafri yang biasa disapa Pak Ustadz ataupun Daeng Appi, menyimpan sejumlah perlengkapan usahanya. Ada cetakan khusus membuat buroncong berbentuk setengah lingkaran. Ada tungku untuk memanggang.
Pada bagian lain ada pula adonan membuat buroncong. Terdiri dari terigu, santan, parutan kelapa, gula merah dan gula pasir. Bahan tersebut kemudian disatukan. Tidak cair, tidak pula terlalu kental.
Di Jalan Ujung Pandang, Kecamatan Tallo, tidak jauh dari kantor Dinas Sosial Kota Makassar. Di situlah Daeng Appi berjualan. Keberadaannya sudah cukup dikenal masyarakat sekitar. Termasuk pengguna jalan yang melintas.
Sudah 19 tahun lamanya ia melakoni pekerjaan ini. Tempat berjualannya menetap di pertigaan Jalan Ujung Pandang.
Jadi, jangan heran jika Daeng Appi sudah memiliki banyak pelanggan. Silih berganti pembeli datang dan singgah. Bahkan ada yang rela antre untuk mendapatkan buroncong yang diinginkan.
Bukan tanpa alasan buroncong buatan Pak Ustaz laku dan cukup diminati. Lelaki kelahiran Ujung Pandang, 21 Juni 1996 ini begitu paham dengan selera pembeli.
Seperti halnya usaha kuliner lainnya, inovasi juga dilakukan Daeng Appi. Ada dua rasa yang ditawarkan pada buroncong buatan Pak Ustaz. Warna coklat untuk yang berbahan gula merah. Sementara warna putih yang terbuat dari gula pasir.
Buroncong tersebut dipanggang di atas tungku dengan menggunakan kayu bakar. Sebuah alat berbahan besi menyerupai gancu, dipakai untuk mengangkat buroncong yang telah matang.
Untuk menikmatinya, pembeli tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Cukup Rp2.000, sudah bisa menikmati tiga biji buroncong buatan Daeng Appi. Rasa gula merah atau gula pasir, harganya sama.
Setiap subuh hari, Pak Ustaz mulai mempersiapkan diri untuk berjualan. Setelah salat subuh, ia membenahi gerobak jualannya. Membersihkan dan menyusun kayu-kayu bakarnya.
Ketika jarum jam menunjuk pukul 06.00 Wita, itu artinya Daeng Appi harus meninggalkan rumah. Ia kemudian mendorong gerobak jualannya ke tempat mangkalnya.
Tidak lama Pak Ustaz berjualan di lokasi ini. Kira-kira hanya tiga jam. Pukul 09.00 Wita ia meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah. Pada sore hari pukul 17.00 Wita, Daeng Appi kembali berjualan hingga malam hari pukul 22.00 Wita.
Ada kebiasaan Daeng Appi yang patut dicontoh. Setiap kali hendak meninggalkan lokasi berjualannya, ia menyempatkan diri untuk membersihkan sampah yang berserakan. Mulai dari kantong plastik hingga kertas yang ditinggalkan pembelinya.
Sabtu malam atau malam minggu, diakui Daeng Appi, menjadi hari baik baginya untuk berburu rezeki. Malam itu cukup banyak pembeli yang datang. Semua kalangan dari berbagai usia, meminta untuk dibuatkan buroncong warna coklat dengan rasa gula merah.
”Dalam sehari saya biasa jualan dua kali. Pagi dan malam. Sabtu malam itu paling banyak pembeli. Khususnya anak muda yang pergi atau pulang dari bermalam minggu,” tuturnya.
Pada hari-hari biasa, Daeng Appi bisa mendapatkan Rp75 ribu dari penjualan buroncongnya. Sementara pada malam minggu, biasa mencapai Rp125 ribu.
”Untuk satu kali membuat adonan, ada 8 kg terigu, gula merah dan gula pasir yang saya pakai. Ditambah 10 biji kelapa,” kata pria berpeci ini, sambil menawarkan buroncong buatannya kepada BKM. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top