Calo Penerimaan Maba FK Unhas Raup Rp1,079 M – Berita Kota Makassar
Headline

Calo Penerimaan Maba FK Unhas Raup Rp1,079 M

IST Nurjannah Jalil

MAKASSAR, BKM — Anda atau keluarga yang lain pernah mendapat tawaran bisa lulus di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan membayar ratusan juta? Hati-hati, bisa saja itu ulah calo.
Aksi tipu-tipu dari praktik percaloan ini telah terbongkar. Dua perempuan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ditengarai sebagai pelakunya.
Masing-masing Rahmatia alias Ita (36), beralamat di Jalan Teuku Umar, Kecamatan Tallo, Makassar. Ia bekerja sama dengan Nurjannah Jalil (53), warga Jalan Bangkala Dalam 2 nomor 127 Makassar.
Rahmatia diketahui sebagai staf di bagian Arsip Rektorat Unhas. Sementara Nurjannah mengaku sebagai PNS.
Keduanya diamankan anggota Polsek Tamalanrea, Senin (5/12) kira-kira pukul 14.30 Wita. Mereka sempat semalaman berada di Mapolsek Tamalanrea. Usai menjalani pemeriksaan intensif di tempat ini, Nurjannah dan Rahmatia kemudian diserahkan ke Unit Reskrim Polrestabes Makassar, Selasa (6/12) siang.
Kepala Humas dan Protokol Unhas, M Dahlan Abubakar, kemarin mengkonfirmasi jika Rahmatia adalah PNS di rektorat Unhas. Sementara Nurjannah yang disebut-sebut sebagai peluncur dalam kasus ini, tidak diketahui bekerja di mana.
”Kalau Rahmatia memang PNS di bagian Arsip Rektorat. Kalau Nurjannah, saya tidak tahu. Katanya PNS guru,” ujar Dahlan.
Diakui, Rahmatia memang bermasalah. Dia sebelumnya ditempatkan di Fakultas Hukum (FH). Namun ada laporan yang masuk ke rektorat kalau Rahmatia suka memalak mahasiswa. Akhirnya ia dipindahkan ke bagian arsip rektorat agar tidak lagi berhubungan dengan mahasiswa.
Meski telah dipindahkan, perilaku Rahmatia tak berubah. Sebaliknya, malah menjadi-jadi. Ia menjadi calo penerimaan maba. Janjinya, bisa meloloskan masuk ke Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) .
”Kalau untuk masuk FKG, dia memasang tarif Rp135 juta. Sementara untuk Fakultas Kedokteran, ada dua laporannya. Masing-masing Rp400 juta dan Rp200 juta,” beber Dahlan.
Kelakuan Rahmatia tak sampai disitu. Ia bahkan nekat memalsukan surat keputusan (SK) penetapan 19 orang mahasiswa yang diterima lewat jalur mandiri di Fakultas Kedokteran.
”Keterangan yang diperoleh dari WR (Wakil Rektor) III (DR Ir Abd Rayid Abdul Jalil,MSi), uang telah dikumpulkan Rahmatia mencapai Rp1.079.000.000. Untuk angka itu, 19 orang membayar Rp100 juta saja, sudah mencapai Rp1,9 miliar. Mungkin belum semua membayar. Baru sebagian,” terang Dahlan lagi.
Menyusul penangkapan Rahmatia bersama seorang komplotannya, Dahlan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. ”Apapun hasilnya akan kita ikuti. Biarkan polisi bekerja,” imbuhnya.
Bagaimana dengan sanksi? Dahlan menegaskan, jika nantinya palu hakim menjatuhkan vonis di atas lima tahun penjara, otomatis Rahmatia akan dipecat dari statusnya sebagai PNS. Namun, jika kurang dari lima tahun, akan dikenai sanksi disiplin PNS.
”Sebagai PNS akan ada sanksi yang diberikan. Untuk saat ini proses hukum formal dulu yang berjalan. Setelah itu sanksi disiplinnya,” tegas Dahlan.
Apakah perbuatan Rahmatia ini merupakan perulangan dari tindakan serupa sebelumnya? Dahlan tidak bisa memastikan. Namun, jika mengacu pada perbuatannya yang tergolong berani, kemungkinan ini sudah terulang.
”Bisa saja dia berani melakukan karena pernah mencoba dan berhasil. Tapi selama ini belum ada yang melapor. Jadi tidak bisa diambil tindakan,” jelasnya.
Terpisah, Kasubag Humas Polrestabes Makassar, Kompol H Burhanuddin membenarkan penangkapan Rahmatia bersama rekannya, Nurjannah. Ia kemudian menjelaskan kronologi pengungkapan kasus ini.
Bermula ketika keduanya diamankan di rektorat Kampus Unhas, Senin siang. Mereka diduga telah melakukan penipuan terhadap calon mahasiswa baru (maba) yang hendak masuk ke FK Unhas.
Informasi itu kemudian ditindaklanjuti. Kanit Reskrim Polsek Tamalanrea menginstruksikan Panit II, Ipda Alimuddin untuk meluncur ke kampus Unhas.
Benar saja. Kedua perempuan itu telah diamankan di gedung rektorat. Selanjutnya mereka dibawa ke Mapolsek Tamalanrea untuk menjalani pemeriksaan.
Kepada polisi yang memeriksanya, Nurjannah memberi penjelasan. Awalnya, ia sementara mengurus anak perempuannya untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Unhas. Saat itu ia meminta bantuan kepada Dr Rahman.
Namun, Dr Rahman mengarahkan Nurjannah ke Rahmatia, yang disebut sebagai panitia penerimaan. Keduanya kemudian berhasil bertemu.
Rahmatia menyatakan sanggup untuk mengurus anak Nurjannah masuk Fakultas Kedokteran Unhas. Pada saat bersamaan, Rahmatia menawarkan kepada Nurjannah mencari orang lain yang berminat masuk Fakultas Kedokteran. Ia berdalih, masih ada kuota kosong yang belum terisi.
”Nurjannah kemudian menyampaikan hal tersebut kepada anaknya yang juga seorang dokter. Informasi itu selanjutnya disampaikan ke perempuan Aqilah dan Ikeh. Aqilah lalu menyampaikan kepada ibunya. Dia mengiyakan dan menyatakan bersedia anaknya diurus masuk Fakultas Kedokteran dengan biaya Rp325 juta,” terang Burhanuddin menirukan penjelasan Nurjannah.
Beberapa waktu berselang, orang tua Aqilah mempertanyakan realisasi janji tersebut. Janji tinggal janji. Rahmatia hanya selalu meminta untuk bersabar, karena sementara diurus.
Karena tak kunjung ada bukti, orang tua Aqilah kemudian bermaksud memasukkan anaknya di Fakultas Kedokteran universitas swasta di Makassar. Diapun meminta agar uangnya dikembalikan.
Namun, Rahmatia tak bisa memenuhi permintaan tersebut. Diapun akhirnya dilaporkan ke Polsek Tamalanrea. Baik Rahmatia, maupun Nurjannah, hingga berita ini dibuat masih menjalani pemeriksaan intensif di Unit Reskrim Polrestabes Makassar. (jul-ita/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top