Yatim Sejak SD, Kerja Jadi Tukang Batu – Berita Kota Makassar
Headline

Yatim Sejak SD, Kerja Jadi Tukang Batu

BKM/NURHAMZAH BASO Agi Sugianto

SEKALI lagi ini tentang usaha dan modal. Selama ini banyak yang beranggapan butuh modal besar ketika hendak mengawali sebuah usaha. Juga pengalaman mumpuni. Tapi itu tidak berlaku bagi Agi Sugianto.

Laporan: Amiruddin Nur

LELAKI ini akrab disapa Mas Agi. Sekarang tercatat sebagai CEO (Chief Executive Officer) PT Media Musik Proaktif. Sebuah perusahaan rumah produksi dan event organizer.
Ia bertandang ke redaksi Berita Kota Makassar, pekan lalu. Diceritakanlah apa yang dilakukannya dalam merintis usaha. Hanya dengan semangat dan modal yang tak seberapa.
”Tidak semua usaha yang akan dilakukan bertumpu pada modal materi, ataupun harus ada pengalaman. Melainkan lebih ditentukan pada sebesar apa semangat yang kita punya untuk melakoni usaha itu. Soal bagaimana trik yang harus dilakukan untuk mengelolanya, bisa sambil jalan atau belajar sendiri. Saya sendiri mengelola usaha ini secara otodidak,” tutur Mas Agi memulai kisahnya.
Sebelum bisa berhasil seperti sekarang, kehidupannya justru lebih banyak didera cobaan. Ketika usianya masih sangat belia, saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Mas Agi telah menjadi anak yatim. Posisinya sebagai lelaki tertua, memaksanya untuk berpikir bagaimana bisa menghidupi keluarga dan saudara-saudaranya.
”Saya lima orang bersaudara. Dua orang kakak saya perempuan. Sedangkan dua orang adik saya laki-laki dan perempuan. Upaya orangtua untuk bisa memperbaiki kehidupan keluarga bukan tidak ada. Tapi mereka punya kemampuan yang terbatas. Jadi pekerjaan yang bisa dilakukan juga terbatas. Hingga akhirnya adik saya dititipkan kepada seseorang, dengan harapan agar pendidikannya tetap lanjut,” kenangnya.
Iapun mengisahkan satu hal yang tak bisa ia lupakan sepanjang hidupnya dari adik laki-lakinya itu. Sang adik sempat mendapat perlakuan kasar dari pemilik rumah.
”Semua berawal dari ketidaksengajaan adik saya menumpahkan air bekas pel di sepatu dan celana si pemilik rumah. Saat itu adik saya sempat tertidur duduk di lantai yang habis dipelnya, sambil memeluk ember pelnya. Entah apa yang dilakukan si pemilik rumah sehingga adik saya terkaget. Secara tak sengaja ember yang dipeluknya tumpah. Airnya mengenai sepatu dan celana pemilk rumah. Adik saya kena marah besar dan mendapat perlakuan tidak pantas,” tutur Agi dengan mata berkaca-kaca.
Berbagai pekerjaan berat harus Mas Agi lakoni. Termasuk menjadi seorang tukang batu.
Dituturkan, hidup serba kekurangan memang sangat tidak mengenakkan. Karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari susahnya minta ampun.
Tapi dari hidup serba kekurangan ini juga yang membuatnya semakin bersemangat. Ia terus mengasah asanya untuk bisa mengubah kehidupan ekonomi keluarganya.
”Mau diapa lagi, Mas. Hanya tukang batu ini yang mudah saya kerjakan. Karena tidak butuh skill atau keterampilan khusus. Kecuali diperlukan tenaga yang kuat. Sambil jadi tukang batu, saya juga tetap melanjutkan sekolah dan membiayai keluarga. Cukup lama juga saya bekerja jadi tukang batu hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti,” ujar Mas Agi yang datang ke redaksi BKM, Kamis sore (1/12).
Motivasi untuk mengubah kehidupan dan ekonomi keluarganya terus ditanamkan dalam hati. Diapun terus mencari pekerjaan yang bisa menjadi tumpuan hidup diri dan keluarganya.
Pada akhirnya Mas Agi diterima menjadi seorang wartawan di salah satu koran nasional. Bak gayung bersambut, ia selalu mendapat penugasan mewawancarai orang-orang sukses.
”Saya sangat bersyukur bisa diterima menjadi wartawan. Apalagi, tugas-tugas yang saya waktu itu lebih banyak mewawancarai orang-orang sukses. Terutama dari kalangan pengusaha. Setidaknya, dari wawancara itu saya bisa belajar dari banyak orang dengan bidang yang bermacam-macam,” tuturnya.
Selama 13 tahun lebih Mas Agi menjalani profesi sebagai wartawan. Hingga akhirnya mengambil keputusan bulat untuk resign dari dunia kewartawanan. Ia kemudian memilih menjadi seorang entrepreneur.
”Awalnya sempat juga terjadi perang batin. Apakah saya tetap menjadi seorang wartawan dengan nilai pendapatan yang sudah tetap setiap bulannya. Ataukah saya berhenti menjadi wartawan dan memulai usaha dari nol lagi. Dimana pendapatannya bakal tidak menentu,” ujar lelaki kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 7 Juli 1965 ini.
Karena dorongan untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, Agi pun memutuskan berhenti menjadi wartawan yang sudah memberinya banyak pengalaman berharga. Dan juga zona aman dengan penghasilan yang cukup setiap bulannya.
Usaha kali pertama yang digeluti Mas Agi adalah menjadi seorang entertainer. Untuk mendukung usahanya, ia membentuk perusahaan rumah produksi dan event organizer yang diberi nama PT Media Musik Proaktif.
Banyaknya pesaing yang sudah lebih dulu ada, membuat Agi harus memeras otak agar usahanya bisa tetap eksis. Karena ia meyakini, usaha ini kelak akan mengantarnya pada sebuah keberhasilan.
”Saya mulai mencari talent-talent muda untuk diangkat ke permukaan. Salah satu talent muda yang kami orbitkan dan langsung booming adalah Trio Macan. Selain itu, kami juga bekerjasama salah satu televisi swasta memproduksi sebuah acara yang menonjolkan keunikan dan belum pernah ditayangkan di stasiun televisi manapun,” terangnya.
Sulitnya mencari narasumber yang unik di berbagai belahan daerah di Indonesia, memaksa Agi harus menghentikan acara tersebut. Ia kemudian memulai peruntungan dalam bisnis lainnya. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top