Politik

Beras dan Garam Seharusnya Dapat Swasembada

POLITISI Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Andi Akmal Pasluddin mengemukakan bahwa Indonesia
sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah namun belum ada satupun memberikan kebanggan akan komoditas pangan yang dihasilkan secara institusi negara. Hal ini dikatakan Akmal yang juga anggota komisi IV DPR RI mencermati produk pangan negara ini hingga kini belum ada lagi yang mencapai swasembada. “Saya berkeyakinan, bahwa beras dan garam sangat potensial bagi Indonesia untuk mencapai swasembada. Negara ini sangat subur dan pernah dalam sejarah telah mencapai swasembada beras. Begitu pula bentangan pantai negara ini terpanjang kedua di dunia setelah Kanada,”jelas Akmal.
Mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel ini menjelaskan dengan miris, bahwa harga beras kita pernah paling mahal di dunia tahun ini. Keadaan ini menjadikan negara-negara luar produsen beras sangat tergiur memasukkan beras ke negara ini. Bulan Februari 2016, harga beras Indonesia mampu mencapai dua kali lipat harga beras Thailand, Vietnam dan India. Harga beras di negara-negara itu dapat mencapai Rp. 6.000,- per kilogram. Sedangkan di Indonesia rata-rata sudah Rp12 ribu per kilogram. Padahal, kata Akmal, negara kita produsen beras dengan luasan yang cukup, namun sistem produksi yang tertinggal, penggilingan padi yang kurang efisian hingga rantai distribusi yang buruk membuat negara ini banyak tertinggal.
Mantan Ketua DPW PKS Sulsel ini menambahkan, bahwa regulasi sistem perberasan negara ini sangat buruk. Ini terlihat jelas bahwa kesejahteraan petani padi yang tidak kunjung berubah menjadi lebih baik. Bahkan lebih setengah penduduk miskin Indonesia didominasi petani. Fakta buruknya regulasi perberasan kita juga terlihat ketika pemerintah menyatakan produksi surplus, namun kenyataan dilapangan, di pasar-pasar, menunjukan harga beras naik. “Selama ini komoditas beras hanya memberikan keuntungan pada segelintir pihak. Petani tetap tidak berdaya. Pemerintah harus mulai merubah paradigma sistem perberasan nasional. Karena jika regulasi beras ini baik, saya yakin swasembada beras bukan sebuah mimpi, tapi akan segera menjadi kenyataan,”jelas Akmal.
Alumni IPB ini mengatakan, bahwa negara ini minimal memiliki kebanggaan swasembada produk pangan. Pemerintah saat ini harus fokus pada capaian prestasi yang masuk akal. Swasembada beras dan garam adalah sebuah capaian yang bukan mustahil. Dengan mampunya swasembada beras dan garam, Akmal sangat yakin bila ini terjadi akan memberikan kontribusi besar pada pengentasan kemiskinan. “Saya berkeyakinan, bahwa bila swasembada beras dan garam mampu dicapai pemerintah, hal ini akan dikenang dalam sejarah sebagai prestasi besar pemerintah sekarang. Karena efek rantai swasembada ini akan mampu mengurangi kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia sehingga pada kompetisi masa depan dengan negara luar, negara ini telah siap,”pungkas wakil rakyat asal dapil Sulsel II ini. (rif)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top