Jadi Imam Masjid, Mengajar Ngaji Hingga Belajar Bisnis – Berita Kota Makassar
Headline

Jadi Imam Masjid, Mengajar Ngaji Hingga Belajar Bisnis

DI TAHUN 2005, ayahnya meninggal saat hendak menunaikan salat Jumat. Setelah kepergian pria yang menjadi tulang punggung keluarga itu, Rio akhirnya dituntut untuk lebih dewasa. Tahun itu menjadi titik balik kisah suksesnya di dunia usaha.

Laporan: Nugroho Nafisa

SULIT untuk percaya denagn kisah hidup masa lalu pemuda pemilik tiga perusahaan ini. Kehidupannya yang sekarang, sangat jauh berbeda dibanding kehidupannya yang dulu.
Tak ada yang tahu jika Rio sering berjalan kaki ke sekolah karena kehabisan uang. Ia juga hampir menjadi tukang bentor. Bahkan tak sanggup membayar sewa kos karena keterbatan uang yang ia punya ketika pertama menempuh pendidikan di Makassar.
Pemuda asal Kabupaten Wajo ini cukup beruntung tidak pernah mengeluarkan uang untuk biaya pendidikannya. Dianggap sebagai siswa yang cukup berprestasi, Rio selalu mendapatkan beasiswa sejak SD hingga kuliah.
Semasa sekolah, ia memang sudah berusaha mencari penghasilan sendiri. Salah satunya adalah menyediakan jasa pembuatan spanduk manual.
“Waktu SMA terimaka pesanan spanduk. Saya beli kainnya. Saya print sendiri tulisannya. Terus saya tempel. Lumayanlah, modal Rp20 ribu saya jual Rp70 ribu,” kenang Rio.
Selain itu, Rio juga sering mengisi acara-acara di tetangganya. “Biasa ikut barasanji. Dapat amplop isi Rp20 ribu. Senan sekalimaki,” tambahnya.
Perjuangan di kala hendak menuntut ilmu di jenjang universitas juga tidaklah mudah. Saat itu Rio ditawari oleh salah seorang gurunya untuk masuk di Politeknik Negeri Ujung Pandang. Namun ia pesimis, karena ada biaya registrasi sebesar Rp1,2 juta setelah kelulusan. Biaya sebesar itu dianggap Rio terlalu mahal. Ia tak sanggup untuk membayarnya.
Karena itulah, kakaknya kemudian menganjurkan Rio untuk tidak lanjut kuliah. Dia diminta untuk menjadi tukang bentor saja. Namun logika Rio justru berkata berbeda. Ia berpandangan, prestasi dan beasiswa yang selama ini didapat akan menjadi sia-sia jika hanya menjadi tukang bentor.
Rio pun tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan kuliah. Alhasil, dia mendapatkan informasi tentang adanya beasiswa Bidikmisi yang diperadakan oleh Diroktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Dengan keyakinan yang penuh, Rio pun bisa melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) menggunakan beasiswa tersebut.
Tidak mudah untuk hidup di Makassar. Itulah yang dirasakannya. Saat awal tiba di Makassar, Rio hampir saja menginap di masjid kampus. Itu terjadi karena ia tidak memiliki kenalan satupun di kota ini. Uang yang diberikan ibunya hanya Rp280 ribu harus ia kelola sebaik mungkin.
Beruntung, dia bertemu salah satu rekannya di masjid itu. “Orang dekat rumah itu, ternyata nakenalka. Kubilang sama dia, mauka sekalian menginap di masjid. Alhamdulillah naajakka ke rumahnya dan nginap disana,” ujar Rio.
Saat memulai kuliah, Rio mencoba untuk menyewa rumah kos. Dia memutuskan menyewa per bulan dengan biaya Rp250 ribu per bulan. “Tidak berani ka ambil tahunan. Tidak ada uangku,” ucapnya.
Keberuntungan lagi-lagi berpihak kepada Rio. Tidak lama setelah menyewa rumah kos, dia ditawari oleh salah satu senior di kampusnya untuk tinggal bersama. Sang senior hanya menawarkan untuk membantunya mambayar biaya listriknya. Bukan biaya kosnya.
Selain aktif di kampus, Rio juga disibukkan dengan kegiatan di masjid dekat kosnya. Dia didaulat menjadi imam masjid. Juga sering mengajari anak-anak mengaji. Pengurus masjid sangat menyukainya. Akhirnya, ia dibuatkan kamar sendiri di masjid tersebut.
“Dibikinkan kamar seperti wisma. Disitumi mulai bagus kehidupanku. Orang sekitar seakan peduli,” jelas Rio.
Ibu-ibu sekitar masjid yang anaknya diajar mengaji oleh Rio kerap memberikannya upah sebagai ucapan terima kasih. Uang yang didapatkannya tidak ia sia-siakan.
Uang tersebut ia gunakan untuk belajar mencari pengalaman. Juga belajar bisnis. Tidak hanya di Sulawesi, tapi hingga provinsi lain. Sebagian uang yang didapatkan disisihkan untuk diberikan kepada ibunya. Doa pun selalu ia panjatkan tiada henti.
Jika melihat masa lalu kehidupan Rio, tidak ada yang akan mengira berapa omzet yang ia dapatkan dalam sebulan saat ini. Jumlahnya mencapai ratusan juta. Disen Design, Sutra Jaya Farm, dan Baper adalah usaha yang ia rintis dengan susah payah.
Disen Design bergerak di bidang konveksi pakaian dan percetakan. Rio mulai menekuni usaha ini dengan kursus konveksi sampai ke Bandung. Di sana ia belajar di salah satu pusat konveksi terbesar di kota tersebut.
Setelah punya pengalaman kursus, ia mengaplikasikannya di Makassar. Saat ini, dari usaha tersebut bisa menghasilkan omzet dari Rp90 juta hingga Rp100 juta per bulan.
Sutra Jaya Farm adalah peternakan ayam kampung super milik Rio. Usaha tersebut merupakan peternakan ayam kampung pertama di Kabupaten Wajo.
Rio mengatakan, ayam kampung super dan ayam kampung biasa cukup berbeda. Ayam kampung super bisa terlihat lebih besar dibanding ayam kampung biasa. Omzet yag dihasilkan per bulannya mencapai Rp13 juta. Jika masuk bulan Ramadhan atau menjelang Idul Adha, omzetnya bisa naik drastis mencapai Rp100juta per bulannya.
Usaha terakhir yang didirikan Rio masih terbilang baru. Dua bulan lalu terbentuk. Namanya Banana Press (Baper). Baper sendiri adalah makanan olahan khas Sulawesi Selatan yang terbuat dari pisang.
Saat ini omzetnya baru mencapai satu jutaan. Namun Rio optimistis jika baper memiliki prospek yang bagus dan akan terus berkembang. Contohnya saja saat launching pertama kali pada salah satu pameran di Mal Ratu Indah, baper habis terjual.
Tak lupa Rio juga menceritakan kiat-kiat suksesnya. Rio mengatakan, jadi pengusaha itu harus sabar. Harus terjun langsung. Jangan pernah merasa puas.
“Jangan selalu pikir tidak ada uang. Tidak ada modal. Salah besar itu. Jadi pengusaha juga harus terjun langsung, supaya tahu secara teknisnya juga usahata. Terus harus banyak berdoa. Jangan sampai dapat uangnya, tapi tidak dapat berkahnya,” terang Rio.
Rio yang baru berusia 24 tahun ini sangat ceria saat diwawancarai di Rumah Produksi Disen Design. Keterbukaan juga menjadi kunci suksesnya. Olehnya, Rio membuka bagi siapapun yang ingin memesan produknya. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top