Headline

1.856 Bercerai, Perempuan Lebih Banyak Menggugat

MAKASSAR, BKM — Angka perceraian yang terjadi di Kota Makassar mengalami peningkatan. Jika tahun 2015 lalu jumlahnya 1.849 perkara, pada rentang Januari hingga Oktober 2016 angkanya sudah mencapai 1.856 perkara.
BKM mendapatkan data ini di Pengadilan Agama Klas Ia, Makassar, Senin (28/11). Juru bicara PA Makassar, Jamaluddin merincikannya.
Disebutkan, jumlah gugatan cerai yang diterima tahun 2015 sebanyak 2.508. Terdiri dari cerai talak (gugatan diajukan pihak laki-laki) yang diterima sebanyak 662 perkara. Sementara cerai gugat (diajukan pihak perempuan) sebanyak 1.846 perkara.
Dari angka itu, cerai talak yang diputus berjumlah 459 perkara. Cerai gugat sebanyak 1.390 perkara.
Sedang pada 10 bulan di tahun 2016, ada 2.308 gugatan cerai yang diterima. Cerai talak sebanyak 593 perkara. Cerai gugat 1.715 perkara. Yang diputus, cerai talak 475 perkara. Cerai gugat 1.381 perkara.
”Angka ini kemungkinan akan mengalami peningkatan hingga akhir Desember nanti,” kata Jamaluddin di kantornya, kemarin.
Ditanya penyebab yang mendominasi terjadinya perceraian, Alimuddin belum bisa merincinya.
Terkait semakin tingginya angka perceraian di perkotaan, khususnya cerai gugat, Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Suparman,MSi punya penjelasannya. Dia menyebut, perceraian yang terjadi setiap tahun, 70 persen didominasi perempuan.
”Tidak diragukan lagi, kesetaraan gender menjadi salah satu pemicu tingginya angka perceraian saat ini. Pihak perempuan bisa mengungguli pria. Itu bukan lagi hal tabu. Jadi tidak mengherankan kalau setiap tahun angka perceraian selalu meningkat. Didominasi perempuan. Antara 50-70 persen,” beber Suparman yang ditemui di kampus Unhas, kemarin.
Dinamika perkotaan yang begitu kencang semakin mendorong tingginya angka perceraian. Begitu pula dengan kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga. Intensitas untuk bertemu sangat kurang. Interaksi dari hati ke hati setiap pasangan yang sudah tidak efektif lagi, membuat pondasi hubungan rumah tangga sangatlah rapuh.
”Perempuan sekarang beda dengan dulu. Perempuan sekarang lebih terdidik dan berpikiran terbuka. Inilah yang saya katakan kesetaraan gender. Perempuan saat ini tidak takut lagi untuk menuntut perceraian,” terang Ketua Program Studi Pascasarjana Sosiologi Unhas ini.
Selain itu, kecenderungan perempuan untuk tergantung pada pria sudah sangat berkurang. Banyak perempuan yang lebih dominan mencari uang dibanding suami atau pria.
Kecanggihan di era teknologi juga telah membuat perubahan yang sangat signifikan. Pemikiran yang muncul, perjumpaan keluarga bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Padahal, itu bisa membuka ruang serta celah yang cukup lebar bagi terjadinya perpisahan.
Pria bertubuh tegap ini menerangkan penyebab lainnya. Yakni kemajuan dalam berkarier, kemandirian serta keterbukaan informasi. Perempuan dengan mudahnya mengepresikan diri, misalnya melalui media sosial.
”Jika perempuan yang telah bersuami merasa dirinya terancam dalam mengarungi rumah tangga, mereka sudah tahu yang mesti dilakukan. Misalnya dengan mengajukan masalah tersebut ke Pengadilan Agama,” jelasnya.
Namun, pakar Ilmu Kesejahteraan Masyarakat, Syamsuddin Simmau,SS,MSi punya argumen lain. Menurutnya, faktor pemicu terjadinya perceraian pada masing-masing pasangan tidak bisa digeneralisir. Sebab hal itu sifatnya personal dan beragam. Jika pun pihak perempuan yang banyak mengajukan gugatan cerai, ada banyak faktor yang menyebabkannya.
”Tidak salah jika dikatakan menjaga keharmonisan dalam keluarga sangat berperan pada sebuah hubungan suami istri. Karena hal itu dapat mencegah terjadinya perpisahan. Jika ada permasalahan dalam keluarga, tidak ada yang boleh mengompor-ngompori. Tapi memosisikan diri sebagai mediator,” jelasnya.
Ia sedikit memberi strategi dan masukan dalam upaya menekan angka perceraian. Khususnya kepada lembaga sosial keagamaan. Mereka perlu secara intensif melakukan mediasi perkawinan, dakwah dan penyuluhan. Yang tak kalah pentingnya adalah peran lembaga mediasi di pengadilan.
”Ini juga yang menjadi persoalan. Sebab saat ini Pengadilan Agama sangat mudah memutuskan perceraian pasangan suami istri. Kalau ada gugatan cerai yang masuk, janganlah dengan mudah memutuskan. Apalagi karena mengejar penyelesaian kasus. Mestinya, memprioritaskan rujuk ketimbang keputusan cerai,” imbuhnya. (mat-ita/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top