Headline

Dua Pelaku Penganiayaan Putri Anggota DPRD

PINRANG, BKM — Kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap RSK alias ASK (14) terus menyita perhatian publik. Bukan hanya masyarakat umum maupun media sosial (medsos). Tapi juga Pemerintah Kabupaten Pinrang. Termasuk Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.
Apalagi, dalam perkembangan terbaru, dua dari empat tersangka yang telah ditahan, merupakan putri seorang anggota DPRD Pinrang dari Partai Gerindra. Keduanya adalah Hrn dan En. Kakak beradik ini ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti melakukan penganiayaan da pengeroyokan secara bersama-sama.
Satu tersangka lainnya, Nld (18) juga terkonfirmasi statusnya. Ia bukan seorang guru di SD Negeri Duampanua, Pinrang. Melainkan mahasiswi yang tengah melaksanakan KKLP (Kuliah Kerja Lapangan Plus) di sekolah tersebut.
Andi Rudy Hamid dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pinrang menyampaikan hal itu, kemarin. ”Ini yang harus kami luruskan. Dia (Nld) bukan guru. Dia mahasiswa yang sementara KKLP di SDN 134 Duampanua. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan sekolah,” terang Andi Rudy di kantornya.
Diakui, kasus ini sudah dilaporkan ke Bupati Pinrang. Pihaknya diinstruksikan agar kasus ini diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.
”Pak Bupati sudah tahu dan meminta kasus ini jangan menyudutkan pemerintah, karena kasus ini bersifat pribadi. Bupati juga menyampaikan agar kasus ini diserahkan sepenuhnya ke pihak berwajib dan ditangani sesuai hukum,” jelasnya.
Kepala SD Negeri 134 Duampanua, Hudawis juga menegaskan bahwa Nld bukanlah guru di sekolah yang dipimpinnya.
“Bukan. Dia bukan guru disini,” ujarnya.
Jauh sebelum kejadian, menurut Hudawis, Nld datang bersama orang tuanya. Ia memohon agar anaknya itu diterima melaksanakan KKLP di SDN 134 Duampanua.
“Karena datang ke rumah hari Sabtu sore, jadi saya minta ke sekolah pada hari Senin,” katanya.
Ketika datang ke sekolah pada hari Senin, pihaknya langsung meminta surat pengantar dari kampus tempat Nld kuliah. Hal itu untuk dijadikan bukti bahwa yang bersangkutan memang sudah diharuskan mengikuti KKLP.
“Ternyata tidak ada dokumen itu, makanya kami tolak,” timpalnya.
Meski ditolak, Nld tetap datang ke sekolah. Bahkan menggunakan seragam guru, seperti laiknya guru-guru yang lain.
“Tapi dia tidak pernah mengajar. Kami juga tidak hiraukan keberadaannya di sekolah. Meski dia tiap hari datang ke sekolah berpakaian dinas,” jelasnya.
Perkembangan terakhir, kondisi korban Rsk masih trauma dengan peristiwa penganiayaan yang dialaminya. Ia bahkan harus diungsikan dan diamankan ke rumah salah satu kerabatnya. Hal itu ditempuh pihak keluarga, karena korban tak berani keluar rumah pascakejadian. Sementara luka memar akibat penganiayaan, kini mulai membaik.
“Kondisi korban sudah membaik. Kami selalu komunikasi dengan orangtua korban dan memantau perkembangannya. Memang dia sementara sudah diungsikan pihak keluarga dengan alasan keamanan,” ujar Kapolsek Duampanua, AKP Adinal Alam yang dikonfirmasi BKM via telepon selularnya, kemarin.
Pihaknya sudah melakukan upaya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pascakejadian. Salah satunya menggelar pertemuan dengan unsur pimpinan wilayah setempat.
”Kami sudah lakukan bersama Camat Duampanua, para kades dan lurah, Danramil serta tokoh masyarakat. Kita harus cegah adanya aksi balas dendam dengan melakukan koordinasi bersama pihak terkait,” jelas Kapolsek.
Orang tua korban Rsk, I bolong yang dihubungi, membenarkan jika saat ini anaknya diungsikan ke suatu tempat. Kondisinya juga disebutkan sudah membaik.
“Cuma anak saya masih trauma dengan kejadian itu. Dia sekarang tak mau keluar rumah. Kami sengaja ungsikan, karena isu adanya ancaman setelah kasus ini dipolisikan,” kata I Bolong, diamini suaminya Liongnge, kemarin.
Meski kasus ini telah berproses hukum dan bukan pihak keluarga korban yang melaporkan kejadian, I Bolong dan suaminya berharap penanganan kasus yang menimpa anaknya dilakukan secara adil. Pelaku hendaknya diganjar dengan hukuman setimpal.
”Sebenarnya anak kami tidak sekolah lagi sejak kelas VI SD. Kami tidak berani melapor ke polisi, karena anak saya diancam pelaku. Tapi kasus ini muncul sendiri videonya di media sosial. Biarlah kasus ini diproses pihak berwajib,” imbuh I Bolong.
Selain Hrn dan kakaknya, En serta Nld yang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, satu lainnya adalah Slf. Keempatnya merupakan warga Kampung Salubone, Kelurahan Data, Kecamatan Duampanua, Pinrang.
Sebelumnya, En sempat dipulangkan oleh polisi dan hanya dijadikan saksi. Namun belakangan ia juga dijadikan tersangka berdasarkan pengakuan tiga pelaku lainnya. Dalam video penganiayaan yang beredar luas di medsos, ia ikut mengeroyok korban dengan cara menendangnya. En yang merupakan ibu rumah tangga diketahui kini sedang hamil empat bulan.
Kasat Reskrim Polres Pinrang, AKP Muhammad Nasir membenarkan status keempat pelaku yang sudah ditingkatkan menjadi tersangka. Nasir juga mengakui kalau dua tersangka merupakan saudara kandung yang juga anak seorang anggota DPRD Pinrang.
“Betul, dua bersaudara, EN dan Hrn adalah anak pejabat,” kata AKP Muh Nasir di ruang Penyidik PPA, kemarin.
Dia menegaskan, dalam penegakkan hukum, pihaknya tidak memandang apakah dia seorang anak pejabat atau bukan. “Yang jelas, siapapun bersalah kita akan proses,” tegasnya.
Pekerjaan penyidik reskrim lainnya, tambah Muh Nasir, yakni memburu pelaku penggunggah video tersebut ke media sosial.
Setelah mengetahui identitas orang pertama yang menyebarkan video tersebut ke Facebook, polisi melakukan pengejaran.
“Identitas pelaku penggunggah video kita sudah ketahui dan saat tengah kita kejar. Dari hasil pemeriksaan, tidak ada pelaku yang mengaku mengapload video itu ke media sosial. Insya Allah dalam waktu dekat pelaku penggunggah vdeo ini akan kami tangkap,” pungkasnya.
Sementara itu, sejumlah awak media yang mencoba melakukan konfirmasi kepada oragtua Hrn dan EN di gedung DPRD Pinrang, belum berhasil. Legislator asal Dapil I Pinrang tersebut tidak berada di kantor. Nomor selularnya pun tidak aktif.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo ketika dimintai tanggapannya terkait kejadian yang mencoreng dunia pendidikan ini, mengaku belum tahu. Namun dia berjanji akan segera melakukan pengecekan seperti apa kasus yang sedang heboh di media sosial tersebut.
“Saya akan segera telepon Pak Bupati seperti apa persoalan tersebut. Saya akan memberi perhatian terhadap kasus ini,” ujarnya ketika ditemui di Hotel Clarion Makassar, Selasa (22/11).
Dia berharap aparat kepolisian menangani kasus itu dengan baik dan secara proporsional.
Mengetahui jika korban penganiayaan masih di bawah umur, Syahrul menegaskan, apapun kesalahan yang diperbuat, seharusnya ditangani sesuai porsinya.
“Di era seperti ini, menghukum dan mengajar anak harus pada porsinya. Bukan dengan kekerasan,” katanya. (ady-rhm/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top