”Jangan Tinggalkan Pendidikan, Bagaimanapun Susahnya Hidup” – Berita Kota Makassar
Headline

”Jangan Tinggalkan Pendidikan, Bagaimanapun Susahnya Hidup”

TERKADANG, keberhasilan baru tiba setelah kesulitan dialami. Karena itu, jangan pernah menyerah untuk menggapainya walau kesusahan datang mengadang.

Laporan: Ardhita Anggraeni

SEBUAH kesuksesan harus dimulai dengan melakukan sesuatu. Tanpa itu, jangan pernah bisa meraih keberhasilan. Doktor Tasrifin Tahara menjadi seseorang yang telah membuktikannya.
Ketika bersekolah dulu, ia harus menumpang truk pengangkut pasir dan batu. Sebab hanya itu satu-satunya angkutan transportasi yang bisa digunakannya untuk bisa sampai di sekolah. Karena sekolahnya berada di atas gunung.
Usai lulus SMA, pria kelahiran Melai, 23 Agustus 1975 ini kemudian memutuskan untuk hijrah ke Kota Makassar. Ia ingin melanjutkan kuliah. Dipilihlah jurusan antropologi di Universitas Hasanuddin (Unhas). Tasrifin diterima kuliah di kampus merah tahun 1994.
”Saya memilih jurusan budaya, karena ingin mensosialisasikan budaya. Dan saya punya feeling disitu. Saya berkata, kampus yang sebenarnya itu adalah pengalaman pribadi kita sendiri,” ujarnya.
Ketika duduk di bangku kuliah, prestasi terus ditorehkan Tasrifin. Tidak heran jika ia kemudian mendapatkan banyak beasiswa. Predikat cum laude dan wisudawan Fisip Unhas terbaik pun disandangnya pada September 1998. Sarjana strata satu (S1) Antropologi Fisip Unhas berhasil dituntaskannya.
Tasrifin tak berhenti sampai disitu. Tahun 2000 ia melanjutkan kuliah magister (S2) Antropologi Program Pascasarjana Unhas. Selesai tepat waktu tahun 2002. Sekali lagi, ia menjadi wisudawan terbaik. Setelah diterima menjadi dosen Antropologi Unhas, Iping pun melanjutkan Program Doktor di Pascasarjana Universitas Indonesia (UI).
Sebagai seorang antropolog,Tasrifin aktif dalam berbagai penelitian dan konsultan instansi pemerintah. Juga swasta dan NGO. Biasanya terkait isu sosial dan budaya. Aktif pula sebagai pembicara pada berbagai even dan seminar, baik pada level lokal, nasional bahkan internasional.
Diakui Tasrifin, awalnya ia selalu mengangkat pengalaman hidupnya sebagai anak pulau. Sebab apa yang dialaminya, juga menimpa tidak sedikit anak-anak pulau lainnya di negeri ini.
Berangkat dari niat itu, setiap punya proyek kegiatan ataupun kesempatan, ia selalu menyisihkan waktunya untuk berkeliling wilayah Indonesia Timur. Hasilnya kemudian ia tuangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Kebiasaan yang sudah dilakoninya sejak masih duduk di bangku kuliah.
Iping adalah dosen antropologi yang intens mengangkat isu-isu marginal. Iping juga banyak menulis buku terkait orang-orang yang dimarginalkan. Hal itu menjadi misi untuk disuarakannya. Sebut saja buku berjudul, Buton Tengah: Negeri Seribu Gua (Selayang Pandang, Sejarah dan Potensi Daerah). Nilai Budaya ”Sabangka Sarope”: Tradisi Pelayaran Orang Buton.
Ada pula; Direktori Sejarah dan Nilai Budaya dan Kebangkitan Identitas Orang Bajo di Kepulauan Wakatobi dalam Antropologi Indonesia (Indonesian Journal of Social and Cultural Anthroplogy).
Di tengah pencapaiaannya saat ini, Iping tak akan pernah melupakan jasa kedua orang tuanya. ”Mereka sangat menekankan pendidikan. Bagaimanapun susahnya hidup, jangan pernah tinggalkan pendidikan. Itu pesan mereka untuk saya,” kenangnya. Apalagi setelah sang ayah berpulang. Ibunyalah yang menjadi penopang hidup. ”Beliaulah yang membantu membiayai saya waktu kuliah. Walaupun harus utang atau menjual hasil kebun untuk pendidikan anak-anaknya,” ujarnya haru.
Buah dari pengorbanan itu telah dicicipi Iping. Selain sebagai dosen, ia juga aktif di berbagai organisasi. Seperti Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Resiko Bencana (FPT-PRB), dan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS).
Tasrifin juga tengah menggarap proyek audio visual, berupa film etnografi. Seperti yang baru-baru ini diputar di bioskop. Judulnya; Cultural History Consultant Film “Barakati”, Chacha Frederica Production–Moviestat Film.
Juga menjadi penulis naskah film dokumenter Profil Pendidikan Masyarakat Pegunungan Desa Laiya, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, produksi TVRI.
Hidup sukses memang menjadi dambaan setiap orang. Namun sayangnya, tidak banyak yang mengetahui proses menuju kesuksesan itu. Apalagi kerap melelahkan dan berliku.
Banyak dari kita yang kemudian menyerah kalah dan tak mampu menggapai kesuksesan. Padahal, sebenarnya kunci sukses adalah terus berusaha dan memperbaiki cara hidup dengan benar. Dengan begitu, kita dapat terus berusaha sehingga tercapai apa yang diinginkan. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top