Headline

Akui Rekam Pengeroyokan, Bantah Sebarkan di Medsos

PINRANG, BKM — Kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Pinrang, kini diproses hukum. Pihak Kepolisian Resort (Polres) Pinrang mengambil alih penyidikan kasus, yang pada Minggu (20/11) ditangani Polsek Duampanua.
Penyidik Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Reskrim Polres Pinrang, Senin (21/11) memeriksa tiga orang. Mereka terduga pelaku penganiayaan terhadap korban berinisial Rsk (14), seorang siswi SMP di di Kecamatan Duampanua.
Sebelumnya, ada empat orang yang sempat diamankan Polres Pinrang itu. Yakni Nld (18), oknum guru honorer SD yang beralamat di Kampung Salu Bone, Kelurahan Data. Hrn (17), seorang pelajar yang beralamat di Data, Kelurahan Data, Kecamatan Duampanua.
Sementara Slf (15), pelajar yang beralamat di Kampung Cullu, Desa Bungi, Kecamatan Duampanua. En (20), seorang Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Kampung Data.
Namun, polisi kemudian memulangkan satu orang, yaitu EN. Alasannya, saat kejadian, IRT ini hanya melerai pelaku dengan korban. Tapi ia tetap dikenakan wajib lapor dan dijadikan saksi.
Sementara tiga lainnya, yakni Hrn, Slf dan Nld telah ditahan. a menjalani pemeriksaan intensif di ruang unit PPA Polres Pinrang.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pinrang, AKP Muhammad Nasir menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik PPA. Dikatakan, para pelaku mengakui telah melakukan penganiayaan terhadap korban.
Motifnya, kata Nasir, dilatarbelakangi dendam karena korban menghina para pelaku di media sosial Facebook. “Mereka sakit hati setelah korban memposting ucapan yang tidak senonoh melalui jejaring sosial Facebook. Status ketiganya masih terperiksa. Sementara ibu rumah tangga berinisial EN kita jadikan saksi dan wajib lapor,” ujar AKP Nasir, kemarin.
Dalam pemeriksaan, menurut Nasir, para pelaku mengaku melakukan perekaman aksi penganiayaan pada hari Rabu, 2 November sekitar pukul 15.00 Wita. Mereka diamankan dari kediaman masing-masing pada Minggu (20/11) pukul 20.00 Wita.
”Mereka mengaku merekam aksi penganiayaan itu. Tapi membantah mengunggah hasil rekaman itu ke media sosial,” jelasnya.
Rekaman aksi penganiayaan seorang perempuan oleh beberapa perempuan lainnya merebak di media sosial. Video berdurasi 11 menit 54 detik itu diunggah sejak tanggal 17 November.
Netizen yang sudah menontonnya sudah mencapai 1,8 juta pengunjung. Video disebutkan diunggah oleh akun Facebook bernama Cindi Putry.
Belakangan terungkap kalau korban penganiayaan merupakan siswi SMP 5 Pinrang berinisial RS. Dalam video tersebut ada tiga orang siswi yang melakukan penganiayaan, masing-masing Hrn, Slf dan Nld.
Mereka bertiga melakukan penganiayaan secara bergantian. Juga melontarkan kata-kata kotor dan kasar terhadap korban yang terlihat tak berdaya.
Beredarnya video ini di media sosial, membuat pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan. Menurut laporan anggota Polsek Duampanua, Brigpol Hardiansyah, aksi penganiayaan berlangsung Rabu (2/11) pukul 15.00 Wita. Lokasinya di depan SMPN 5 Kelurahan Data, Kecamatan Duanpanua, Kabupaten Pinrang.
Sesuai laporan polisi nomor: LP/55/XI/2016/Res. Pinrang/Sek Duampanua, dijelaskan bahwa awal kejadian, pelaku Slf menjemput korban Rs di rumahnya di Pacita, Kelurahan Pekkabata. Slf meminta Rs untuk menemaninya memasang behel gigi.
Namun ternyata pelaku membawanya ke TKP (tempat kejadian peristiwa). Setelah tiba di TKP, Slf menghubungi temannya bernama Hrn dan Nld. Mereka kemudian mengeroyok korban. Salah seorang diantaranya merekam. Setelah kejadian itu korban tidak pernah melapor ke polisi.
Barulah pada tanggal 14 November 2016 sekitar pukul. 08.00 Wita. Kapolsek Duampanua menerima informasi bahwa telah beredar video penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan tiga orang perempuan, terhadap korban yang juga perempuan.
Menindaklanjuti informasi itu, Kapolsek memerintahkan anggota Polsek Duampanua, Brigpol Hadiansyah untuk mencari tau asal usul video itu. Penelusuran pun berhasil. Polisi kemudian mendatangi kediaman korban RS dan bertemu dengan ibunya, I Bolong.
Alasan korban tidak melapor setelah kejadian, karena takut setelah diancam oleh ketiga pelaku. Namun karena telah beredar di media sosial, polisi akhirnya turun tangan. Korban akhirnya melaporkan ketiganya ke polisi. Selanjutnya, pihak kepolisian memanggil sejumlah saksi-saksi.
Penyidik Unit PPA Polres Pinrang menyiapkan pasal berlapis untuk menjerat para terduga pelaku penganiayaan. Kasat Reskrim, AKP Muh Nasir menyebut pasal tersebut.
”Pasal yang disiapkan, diantaranya pasal perlindungan anak, IT dan penganiayaan,” kata Nasir.
Hanya saja, tambahnya, penerapan pasal untuk pelaku tidak sama. Tergantung peran mereka masing-masing ketika peristiwa itu terjadi.
”Penyidik masih mendalami. Kita nanti akan lakukan gelar perkara. Menentukan status mereka, kemudian pasal yang dikenakan sesuai perbuatannya,” terang Muh Nasir.
Untuk bukti permulaan, menurut Nasir, sudah cukup guna melakukan penahanan. Bukti-bukti itu yakni rekaman video, baju dan jilbab yang dikenakan korban saat dianiaya sesuai hasil rekaman video yang beredar.
“Penahanannya juga berbeda. Karena dua terduga pelaku masih tergolong di bawah umur. Kita tahan di ruang Unit PPA, bukan di sel tahanan,” tandasnya. (ady-smr/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top