Sebungkus Mi Instan Dibagi Sembilan Bersaudara – Berita Kota Makassar
Headline

Sebungkus Mi Instan Dibagi Sembilan Bersaudara

ist DR Tasrifin Tahara

HIDUP berputar laiknya roda. Kadang di atas, bisa pula di bawah. Begitulah yang dilakoni Doktor Tasrifin Tahara.

Laporan: Ardhita Anggraeni

JIKA melihat sepintas, tak ada yang terlalu istimewa dari seorang Tasrifin. Seperti orang kebanyakan, ia tampak sederhana. Pergaulannya pun cukup luwes.
Predikat doktor yang disandangnya baru ketahuan secara perlahan setelah ia diajak berbincang. Termasuk tentang jabatannya sebagai Ketua Program Studi (Prodi) Strata Dua (S2) Ilmu Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Hasanuddin (Unhas).
Yang tak disangka-sangka lagi, karena ternyata doktor yang akrab disapa Iping di masa kecilnya ini, punya kisah tak biasa. BKM yang mewawancarai Tasrifin di sela-sela mengikuti sebuah acara di Hotel Clarion, Makassar, Jumat (18/11), ikut larut ketika mendengarkannya.
Dari penuturannya, terungkap jika Tasrifin tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan mengantarnya seperti saat ini. Apalagi ia hanyalah seorang anak dari sebuah pulau yang terletak di Kabupaten Bau-bau, Sulawesi Tenggara.
Iping berasal berasal dari keluarga yang menganut tradisi egaliter di perbukitan Benteng Wolio, sebagai centrum kekuasaan era Kesultanan Buton. Seiring perjalanan waktu, era kesultanan yang sangat berjaya, telah memudar.
Kondisi itu tidak hanya mengubah nasib keluarga kesultanan. Tapi juga hidup Tasrifin yang berada di lingkungan keraton.
Keluarga kesultanan yang dulunya serba dilayani, berubah drastis. Mereka menjadi rakyat biasa. Perlu kerja keras untuk bertahan hidup.
”Saya ini hanyalah seorang pengelana yang mencoba mencari makna tebaran budaya di hamparan planet bumi. Lahir dengan tradisi keluarga yang egaliter di perbukitan Benteng Wolio sebagai centrum kekuasaan era Kesultanan Buton tidaklah mudah seperti dulu. Mengalami fase fluktuatif, dari masa keemasan yang berubah drastis dalam waktu sekejap,” kenang Iping.
Lahir dari lingkungan keraton yang cukup bersejarah, Iping harus memulai hidupnya dari nol. Orang tuanya yang seorang guru Sekolah Dasar (SD) tak mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Apalagi jumlahnya sampai sembilan orang.
Tasrifin merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ketika usianya menginjak enam tahun, diapun harus mencari nafkah sendiri. Hasil dari bekerja itu ia pakai untuk membiayai sekolah.
”Bapak saya seorang guru SD. Beliau malah menjadi tertuduh sebagai pelaku kejahatan di era kesultanan. Padahal tidak sama sekali. Sejak itu kita harus hidup serba tidak ada. Mau makan saja, saya dan seluruh saudara harus membagi satu mi instan untuk dimakan bersama sembilan orang,” tuturnya.
Di sekolah pun, Iping dicap sebagai siswa yang malas. Bagaimana tidak, ia selalu datang terlambat namun cepat pulang. Jam 8 pagi baru tiba di sekolah. Sementara pulangnya jam 12 siang. Karenanya ia dikategorikan siswa suka bolos.
Tapi Iping punya alasan melakukan itu semua. Bukan karena malas sekolah, nakal ataupun semacamnya. Ia harus melakoni pekerjaannya sebagai penyalur koran yang dibawa dari Kota Kendari ke Buton.
Setiap hari, Iping telah memulai aktivitasnya sejak subuh hari. Ia menjemput lembaran-lembaran koran untuk dijual ke atas kapal yang akan berlayar. Setelah semua rutinitas kerjanya rampung, barulah ia kemudian bersiap ke sekolah.
Di siang hari saat masih ada satu mata pelajaran tersisa di kelasnya, dengan berat hati ia tinggalkan. Sebab Iping harus kembali menjual korannya di atas kapal.
Diapun harus menanggung konsekwensi dari semua itu. Iping kerap dipanggil menghadapi kepala sekolah. Dihukum oleh guru karena telah mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan harus mengikuti ulangan susulan.
Namun itu tak membuat Tasrifin mengeluh ataupun berputus asa. Sebaliknya, justru membuatnya terus maju dan melangkah. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tak sekadar mengejar uang untuk hidup. Tapi juga demi mengejar apa yang dicita-citakannya.
”Saya harus buktikan kalau saya tidak butuh dikasihani. Saya hanya meminta kesempatan untuk membuktikan semuanya,” katanya penuh semangat.
Pekerjaan sebagai penjual koran dilakoni Iping sejak duduk di bangku SD Negeri Keraton Bau-bau, Kabupaten Buton tahun 1981-1986. Prestasinya ketika itu cukup anjlok. Dari 40 siswa di kelasnya, ia menduduki posisi rangking 38.
Nilai mata pelajaran yang tak terlalu begitu bagus berlangsung hingga di bangku SMP. Termasuk jarak antara rumahnya dengan sekolah. Hal ini berpengaruh terhadap keinginannya untuk masuk di sekolah favorit SMA Negeri 2 Bau-bau.
Kala itu tahun 1990-1991. Diapun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 3 Bau-bau, yang menurut sebagian orang ketika itu, merupakan sekolah ‘pembuangan.’
Dalam rentang waktu 1991-1993, Iping menempuh pendidikan di sekolah ini. Tentunya ia tetap harus bekerja untuk mencari uang guna membiayai sekolah.
Kali ini bukan hanya menjadi loper koran. Ia merambah profesi sebagai guide tour untuk para wisatawan yang berkunjung.
”Cara saya menjual koran waktu itu berbeda dengan yang lain. Saya baca dulu isinya, entah itu koran, majalah atau buku. Setelah itu saya tawarkan ke orang lain. Saya ceritakan ke mereka apa isinya. Orang yang tadinya tidak mau beli, langsung tertarik untuk membeliknya. Karena mereka saya ceritakan isi di dalamnya. Dari situ juga saya mengetahui banyak ilmu,” bebernya.
Bagi Iping, ketika hari itu tak bisa berjualan, maka ia tahu dirinya tak bisa makan. Juga tak bisa membayar uang sekolahnya.
Di bangku SMA itu pulalah, Iping bertekad memperbaiki keadaan. Meski tetap harus sering membolos sekolah karena harus bekerja, tapi ia berusaha untuk tidak pernah lagi ketinggalan dalam mendapatkan nilai mata pelajaran. Caranya?
”Kalau mau ujian, sebelumnya saya pasti datangi rumah guru untuk belajar. Makanya, walaupun bekerja, saya tetap bisa mendapatkan nilia baik. Bahkan predikat tiga besar di kelas selalu saya dapat,” tuturnya.
Awalnya, Iping mengira dirinya hanya dikasihani oleh guru yang memberinya nilai baik. Tapi ternyata tidak. ”Guru itu melihat langsung saya terpaksa membolos karena harus bekerja, tanpa harus saya ceritakan ke mereka,” jelasnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top